Hanya Zi

Hanya Zi
Bu Laila Serius


__ADS_3

Rizky mulai merenung, bisa-bisa nya Za semarah itu membela seorang perempuan, yang jelas-jelas tak ada hubungannya sama sekali dengan sahabatnya itu.


Tak lama Za keluar dari ruang dosen, Rizky tak bisa menahan diri untuk tak menanyakan masalah ini


“Za lo habis berantem ya?”


Za hanya terdiam, tak mengira Rizky bisa mengetahui hal itu lebih cepat dari yang dia duga


“lo suka sama Zi?


“Ga lah Ki, enggak mungkin gue suka sama dia, gue cuma enggak tega saja lihat dia dipermalukan begitu di depan orang-orang, ya meskipun hanya di depan anak-anak basket, tapi sampai anaknya nangis begitu, gue rasa Viko memang sudah kelewatan”. Rizky hanya terdiam mendengar penjelasan Za.


*****


Keesokan harinya Bu Laila meminta bertemu Zi di sebuah café, ingin membicarakan hal penting katanya.


Awalnya Zi menyarankan untuk bertemu saja di ruang dosen, tapi Bu Laila menolak karena apa yang akan dibicarakan rasanya sedikit tak nyaman jika harus dilakukan di ruang dosen.


Di café itu Bu Laila dan Zi tampak masih menikmati makanannya, sambil berbincang ringan. Bu Laila sedikit demi sedikit mengorek informasi mengenai keluarga Zi, bukan karena apa-apa apalagi perkara ekonomi, sama sekali bukan, Bu Laila hanya ingin mengetahui lebih detail kondisi keluarga dari gadis yang sudah lama Beliau sayangi itu.


Setelah makanan mereka habis. Bu Laila pun menyampaikan maksud dan tujuannya menemui Zi sore itu, tak lain dan tak bukan ingin menyampaikan niat baik meminang Zi untuk anaknya Aldi.


Zi tampak tak habis fikir, ternyata hal yang Zi kira hanya gurauan, benar-benar diniatkan Bu Laila pada putra sulungnya.


Zi bingung harus mengatakan apa pada dosennya itu. Memutar otak, memilih kata-kata yang tepat dan sopan, agar Beliau tak sedikitpun merasa tersinggung.


“hm.. Bu Laila Zi minta maaf sebelumnya, Zi hormati sekali niat baik Ibu, Zi merasa tersanjung, gadis desa ini tak menyangka bisa menarik hati seorang Ibu sebaik Bu Laila” Zi sengaja tak menggunakan kata-kata Aldi, karena ia sendiri pun tak yakin dengan perasaan pria itu.


“Sekali lagi Zi ucapkan beribu-ribu maaf, saat ini Zi belum memikirkan ke arah sana Zi sama sekali belum siap Bu” Zi menatap dosennya itu dengan mata berkaca-kaca, seolah dirinya merasa bersalah tak bisa memenuhi kemauan Beliau saat ini.


Bu Laila pun tampak mengangguk faham, Beliau tahu ke arah mana maksud dari perkataan Zi. Meskipun saat berumah tangga niat membahagiakan orang tua akan tetap bisa dijalankan.


Tapi saat jiwa belum siap, hal itu yang sulit untuk dipaksakan, karena menikah tak hanya menyatukan dua karakter yang berbeda tetapi menyatukan dua keluarga serta mambuat frekuensi yang sama untuk visi misi saat berkeluarga.


“Ibu tak perlu sungkan ya jika perlu bantuan Zi, sama seperti kemarin saat Ibu butuh bantuan di Kelas maupun di ruang dosen. Zi harap Ibu tak kecewa dengan keputusan Zi” Zi memeluk dosennya itu erat, rasa bersalah masih menyelimuti hatinya.


*****

__ADS_1


Sore itu di dalam sebuah rumah mewah, terdengar perbincangan seorang pria muda melalui telepon


“Hallo Pa, Za akan ikuti maunya Papa, tapi dengan syarat Za minta tolong satu hal sama Papa”


“Oke Pa Za pegang janji Papa” Rizky pun menutup teleponnya.


Za menatap langit-langit kamarnya, memainkan ponselnya lagi dan lagi, tak lama karena dia merasa bosan, dia memilih untuk menemui Bi Euis ART yang sudah mengurusnya sejak kecil.


“Bi.. masak apa hari ini?


“Astaghfirulloh! Den den, kebiasaan bikin kaget saja. Ini Bibi sudah belanja ikan, Den Za mau dimasak apa ikannya?”


“Aduh Bi, kan Za sudah bilang berkali-kali jangan panggil Dan Den Dan Den, geli tahu Bi dengarnya, panggil aja Za hanya Za, bisa kan?”


“No no no”


“Idih Bibi keren banget bisa bilang no”


“Kalau hanya yes no saja Bibi bisa kecillll, sudah ya Den tak perlu banyak protes, sekarang ikannya mau dimasak apa?”


“Yaaah.. Ini ikannya ikan utuh Den mana enak, tapi tenang saja, apa yang tak bisa Bi Euis lakukan untuk Boss kesayangan Bibi”


Tak lama Za memperhatikan bagaimana Bi Euis memfilet tiga ekor ikan yang ada dihadapannya saat ini.


“Wuihh Bibi keren, jago sekali Bi. Ngeri-ngeri sedap ya lihatnya. Sini biar Za yang coba satu ekor”


Perlahan tapi pasti, akhirnya Za bisa memfilet ikan ke tiga sesuai arahan Bi Euis, meskipun tak serapih hasil Bi Euis, tapi percobaan pertamanya ini mampu membuatnya tersenyum puas.


 


Kamu cerdas juga ternyata Za haha


 


Aktifitas Za sehari-hari di rumah itu, jika telah selesai dengan tugasnya, dia akan lebih memilih untuk mengganggu Ibu keduanya itu, termasuk merecokinya saat berada di dapur.


Terkadang Za ikut membantu meskipun lebih sering pria itu hanya menjadi pemerhati saja.

__ADS_1


Bi Euis tak bosan menyuruh Za sholat, mengaji, berpuasa tapi dulu hal itu sama sekali tak pernah digubris, jawabannya selalu


“Nanti lagi saja ya Bi”


Bi Euis benar-benar menganggap Za seperti anak kandungnya sendiri, karena pria itu selalu memperlakukan dengan baik semua karyawan di rumahnya. Bahkan sikap sedikit ketus hanya ia tunjukkan kepada kedua orangtuanya sebagai bentuk protes karena tak mendapat cukup perhatian dari keduanya.


*****


Beberapa Bulan kemudian, dilangsungkan wisuda angkatan Rizky, Za dan Zahra. Anak-anak BEM yang pernah bernaung dibawah bimbingan angkatan ini bersemangat memberikan mereka kejutan sekaligus selamat, tak terkecuali Zi, Shinta dan Sarah.


“Aaaa…Kak Zahra Baarokallohu Fiik ya Kak, selamat semoga ilmunya berkah membawa kebaikan dunia akhirat, doakan Zi cepat-cepat lulus ya Kak” Zi menyalami Zahra disusul Shinta dan Sarah


“Duuuuh yang ingin cepat-cepat lulus, kenapa sudah pengen cepat-cepat nikah ya?”


“Tidak lah Kak, Zi ingin bekerja dulu Kak mewujudkan mimpi-mimpi membahagiakan orang tua”


“Tapi jika ada pria solih mau meminang bagaimana?”


“Ah Zi tak mau fikirkan itu dulu, nanti saja kalau kejadian betulan baru Zi fikirkan ya. Kak maaf ya dari sekian banyak kebaikan yang sudah Kak Zahra beri ke Zi, Zi hanya bisa beri kakak ini, semoga kakak suka ya, Please jangan dilihat harganya, do’akan Zi jika nanti Zi sudah dapat kerja Zi akan beri Kakak hadiah yang lebih bagus lagi. Insya Allah”


“Masya Allah adikku ini, pakai repot-repot segala, Jazakalloh Khoir ya Zi, terimakasih banyak hadiahnya, apapun hadiahnya pasti kakak suka”.


Zi mulai meninggalkan Zahra, mengucapkan selamat pada wisudawan lainnya. Tak lama Rizky menghampiri Zahra.


“Zahra sepertinya aku butuh bantuan kamu?”


“Bantuan apa Ki?


“Kamu mau tidak jadi perantara ta’aruf aku?”


“Hah perantara ta’aruf memang aku kenal dengan akhwat nya?” Zahra mulai kepo


“Ya kenal sekali lah Zahra”


“Siapa?”


“Zi” Zahra mulai manggut-manggut, tanpa mereka sadari ada sepasang telinga yang mendengar pembicaraan mereka.

__ADS_1


__ADS_2