
Ucapan Zi membuat Zahra tersenyum “Kamu tuh ada-ada saja, ikut rohis biar jadi kelihatan adem gitu maksudnya?”
“Ya bukan begitu juga kak, itu sih seperti hukum sebab akibat, penyebab kakak wajahnya adem, karena sepertinya kakak solihah, dan sering menginjakkan kaki di ubin mesjid, jadinya wajah kakak adeeem sekali seperti ubin mesjid”
“haha.. kamu ada-ada saja, iya boleh dengan senang hati, nanti kamu ikut aktif di kegiatan rohis ya bareng kakak, kakak juga masih belajar ko. Nah sekarang kita siap-siap wudhu sudah mau dzuhur nih, kamu kuat jalan?”
“Kuat Kak Insya Allah” semenjak kejadian itu Zi dan Zahra menjadi bertambah akrab, dengan saling bertukar nomor hp.
Hari ke lima MOS
“Woi teman-teman sini, kumpul dulu kita” Reno sang ketua kelompok Zi mulai beraksi
Akhirnya kelompok Zi yang terdiri dari 20 orang, mulai membuat lingkaran untuk mendiskusikan sesuatu, sama seperti kelompok lainnya.
Ternyata tadi ketua dari masing-masing kelompok sudah diberikan tugas oleh panitia untuk penampilan di acara penutup.
“Gini nih guys, besok kita kan sudah penutupan, naaah kita ini diberi tugas untuk menampilkan sesuatu yang keren di acara penutupan besok. Gimana nih kalian ada ide apa?"
"Mohon dengan sangat, untuk kali ini saja, kalian bisa serius kan?" Ucap Reno memohon
"Lah memangnya selama ini yang enggak serius itu siapa Ren? Tunjuk dirimu sendiri coba" Reza yang mulai tak habis pikir dengan ketua gokilnya itu
"Oh iya ya, baiklah baiklah gue akan berusaha sekuat tenaga menumpahkan kecerdasan yang gue miliki" Ucap Reno yakin yang diiringi suara cekikikan teman-teman kelompok lainnya
Diskusi pun mulai berjalan sekitar 10 menit, hingga akhirnya diputuskan bahwa mereka akan membuat parodi panitia-panitia MOS yang dianggap punya ciri khas dan lucu.
Untuk urusan seperti ini, ternyata kelompok Zi punya totalitas tinggi, beberapa orang dari mereka mulai mengajukan diri untuk memerankan menjadi siapa. Akhirnya mereka mulai melakukan latihan hingga waktunya mereka pulang.
Di kamar kos, Zi mulai mempersiapkan beberapa hal yang dirasa perlu untuk penampilan kelompok mereka, karena Zi merasa tak pandai berakting Zi hanya berperan sebagai pemain hiburan saja bersama beberapa teman wanita lainnya.
__ADS_1
“Pentungan siap, peluit ready, karton, styrofoam, kacamata, kalau TOA pinjam saja kali ya dari panitia, masa iya aku harus pinjam ke mesjid, yang benar saja totalitas sekali kamu Zi. Alhamdulilaah beres Ya Allah”
Zi mulai merebahkan badannya di tempat tidur yang rasanya sangat ia rindukan
Zi menatap langit-langit kamarnya, Dia merenungi slide-slide kehidupan 5 hari pertamanya di kampus, betul-betul semuanya penuh makna.
Dia bisa menemukan 19 orang teman baru di Fakultas yang sama, meskipun berbeda jurusan, dan tanpa disadari dengan waktu yang terbilang singkat itu, mereka sudah merasa dekat satu dengan lain, ternyata saat kemarin Zi pingsan, teman-teman kelompoknya kelimpungan mencari Zi, dan bahkan mereka menyesali sampai Zi pingsan tanpa mereka temani seorangpun.
Ahhh baiknya mereka. Alhasil barang bawaan Zi saat pulang bertambah satu tas jinjing karna teman-temannya membelikan dia makanan segitu banyaknya untuk dibawa ke kosan, alasannya jangan sampai kamu pingsan lagi ya Zi haha.
Padahal Zi pingsan memang karena kelelahan, bukan karena kurang makan, dasar mereka ada-ada saja.
Tapi Zi mensyukuri perhatian mereka, sampai-sampai jika ada anggota kelompok lain yang mulai menggoda Zi, sang ketua geng yang biasanya konyol, langsung memasang tampang galaknya “eh-eh awas ya ganggu anak-anak perempuan di kelompok saya, mereka tanggung jawab saya, berani macem-macem, sini adu silat kalau berani”
dan Reno pun langsung pasang kuda-kuda dasar Reno.
Sayangnya Zi tak satu kelompok dengan Shinta, tapi tak apa toh saat pulang mereka pasti janji bertemu di “tempat favorit” mereka tentu saja bersama Ina.
Hari Terakhir MOS
“Hey Guys, ini kelompoknya yang tampil kan banyak sekali, terbayang kan kalau kita tampilnya di akhir keburu bosen nanti malah garing jadinya kan, mana deg-degannya nanti bakal jadi tambah lama kan, gimana kalau kita menawarkan diri untuk tampil lebih dulu” Reno mulai berpidato
“Yang benar Ren mau tampil duluan, loe yakin?” timpal teman yang lain
“Iya makanya sekarang ini kita matangkan dulu dialognya, kalau lupa improve improve sedikit enggak apa-apa, ayo makanya sekarang kita siap-siap, Zi gimana perlengkapannya ready?”
“Ready dong, nih Reza Pentungan sama Peluit, kamu kan yang jadi Kakak Tatib yang tugasnya mengamankan situasi dan marah-marahin anak-anak badung”
“Wah Zi, kamu benar dapat pentungan sama pluit? Dapet darimana Zi”
__ADS_1
“Dapat doong, dari Bapa Kosan, secara 2 senjata ini yang biasa dipakai Bapaknya kalau ada yang berani macem-macem di daerah kekuasaannya, keren kan Bapak asuh aku”
“Ajaib ya Bapak kosan kamu Zi, unik nih unik”
Reza mulai semangat akan memulai aksinya
“Naah kalau TOA kita pinjam bentar saja ya ke kakak panitia, ya kali aku harus minjem TOA mesjid, yang ada aku nanti kena adzab gara-gara enggak ada yang adzan” Zi mulai menepuk dahinya sendiri
“Haha, iya ya benar juga ya, ya sudah nanti biar aku yang pinjem” Reza pun mulai beranjak
Zi masih sibuk mempersiapkan perlengkapan pentas mereka , tanpa Zi sadari teman-teman Zi yang lain sudah meminjam jas almamater dari kakak-kakak panitia untuk keperluan pentas mereka.
“Zi kamu belum dapet almamaternya?” tanya Reno pria jangkung kurus itu
“Belum Ren, tadi aku ngurusin ini dulu” Zi mulai celingak-celinguk mencari calon kakak panitia yang bisa dipinjam almamaternya
“Ya sudah nih kamu pakai yang ini saja, kebetulan ini di aku juga kurang besar, aku mau pinjem ke yang lain”
“Tumben Kamu Ren sama perempuan ngomongnya aku kamu, biasanya juga ngomong seenak udel” tanya Reza
“Eiiiiisss, peraturan tambahan di kelompok kita, kalau bicara sama perempuan jangan kasar, bicara yang sopan bicara yang lembut, kan kita harus menyayangi wanita, bener enggak Zi?” Reno mulai berargumen
“Bener banget aku setuju, agak aneh juga soalnya kalau ada cowok ke aku manggilnya pakai loe gue gitu, enggak biasa dengarnya.” Reza yang mendengar obrolan mereka hanya manggut-manggut
Renopun mulai beranjak lagi untuk meminjam jas almamater yang lebih besar dari ukuran tadi.
Zi, mulai mengerutkan keningnya, dia menatap tajam nama yang ada di jas almamater itu.
“Ya ampun, kenapa harus orang ini sih?” Zi mencoba membujuk teman-teman kelompoknya untuk menukar jas yang saat ini ia pegang, tapi mereka tak ada yang bersedia, alasannya,
__ADS_1
“Ngeri Zi aku enggak mau ada urusan dengan kakak itu, cukup deh urusannya selama MOS saja, jangan sampai jadi panjang ah”.