
“Assalaamu’alaikum Wr.Wb. Perkenalkan nama saya Zidna Ilma” sontak barisan panitia dan peserta MOS pria langsung bersuara “Oooohhh.. namanya Zidna Ilma” secara refleks Reno mengambil kembali mic nya
“Ih pada ganjen-ganjen kalian ya semua, kompak benar komennya, awas ya yang laki-laki jangan macam-macam sama teman gue” Reno langsung mundur sambil memasang kuda-kuda silatnya lagi. Zi hanya bisa tersenyum melihat pemandangan disampingnya itu.
“Iya, Panggil saja Zi mohon izin kakak–kakak dan panitia semua, saya mewakili teman-teman semua disini, ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada kakak panitia yang sudah memberikan pengalaman dan pelajaran berharga selama kami menjalani masa orientasi disini."
"Kami merasa diperlakukan dengan baik, dididik agar hidup lebih disiplin, lebih mandiri, lebih bertanggung jawab, lebih perduli dengan orang disekitar sehingga kami tidak egois, belajar berbagi, belajar menebar kasih."
"Kami berharap semoga kelak saat kami mengikuti jejak kakak-kakak di dunia BEM, kami dapat meneruskan hal-hal baik yang sudah kakak tanamkan pada kami selama masa orientasi. Sekali lagi terimakasih banyak hanya Allah yang bisa membalas kebaikan kakak, kami sayang kakak-kakak semua.”
“Sama aku sayang enggak Zi?” Viko yang sejak tadi memperhatikan Zi berteriak, disertai sorakan teman panitia lainnya
“Wuuuuuuuu”.
“Biasa saja dong pada iri begitu kalian, seorang Viko dong yang pertama kali kenal dengan berlian seperti dia, kalian baru hari gini” jawa Viko dengan pedenya
“Ya iiiiyalah secara Kamu playboy yang enggak insyaf insyaf” Dito menjitak kepala Viko.
Sungguh tak disangka ternyata anak itu pintar juga bicara di depan orang banyak, dikira anak polos seperti dia akan mati kutu saat diminta pegang mic, bahkan sama sekali tak terlihat grogi. Batin Za
Kemudian MC pun meminta Za, Rizky untuk menyerahkan hadiah kepada peserta orientasi, diikuti oleh perwakilan kampus yang sejak tadi sudah mesem-mesem melihat tingkah anak didik mereka yang serba ajaib.
Za, menyalami Reno tapi saat di depan Zi, Za bukannya memberikan selamat pada Zi dia malah mengatakan “Itu jas almamater gue mau sampai kapan dipakai?” Zi menepuk dahinya karena jas Za masih ia pakai, sama seperti Reno yang masih menggunakan jas almamater yang dia pinjam
“Astaghfirulloh, aduh maaf Kak kelupaan, saya cuci dulu saja ya Kak tak enak sudah saya pakai masa dikembalikan kondisi kotor. Hari senin Insya Allah saya kembalikan ya Kak sekali lagi maaf”
“Sudah tak perlu buat apa dicuci segala memang sudah kotor ko”
“Tak apa Kak kalau tidak dicuci saya yang malah jadi tak enak”
Rizky menyalami Reno kemudian beralih ke Zi, dengan mangatupkan kedua tangannya di depan dada. Zi pun melakukan hal yang sama. Meskipun untuk hal itu dia belum belajar sama sekali, mengenai cara menjaga jarak atau berinteraksi dengan lawan jenis.
__ADS_1
Zi hanya mengikuti apa yang dilakukan Rizky, meskipun dia pernah melihat orangtuanya melakukan salam seperti itu saat bertemu tetangga atau teman di kampung, hanya sebatas tahu tapi Zi belum mempraktekannya berhubung dia mengenakan hijab pun baru beberapa minggu.
Di perjalanan mereka kembali ke kelompok, Zi terlihat kesal
“Aduh Reno kamu ko enggak ngingetin aku sih untuk cepat-cepat ngembaliin almamater ini, malu tahu”
“Ih aku juga sama Zi lupa, sudah enggak apa-apa nanti kalau sudah dicuci biar aku yang berikan ke kak Za ya”
“Ya sudah kalau begitu, sini itu almamater kamu aku sekalian cuci saja, ko kita betah banget ya pakai almamater orang”
“Bukan betah Zi, tapi kegirangan mau dapat hadiah haha”
Saat mereka sampai pada teman-teman kelompok mereka, langsung disambut dengan teriakan kegirangan.
“Ini kita bagi-bagi nih hadiahnya, jangan lupa foto dong foto” Zi memberi ide, karena di hari terkahir ini, mereka diperbolehkan menggunakan ponsel.
“Boomerang ayo boomerang” Reza mulai ketagihan
Muncul lah ide-ide dari mulai kepompong, gila, konyol, gokil, absurd, unyu-unyu, cute
“Ide namanya yang faedah dikit kenapa sih? Bisa cerdas dikit enggak bisa kan? ” Reno mulai kesal
Akhirnya diputuskanlah nama kelompok mereka geng ulat, bukan kepompong, karena kepompong dirasa sudah terlalu mainstream, mereka memilih ulat dengan filosofi yang sama, berada di kampus untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Kenapa disebut geng, karena mereka mau merubah image geng yang biasanya berkonotasi negatif menjadi komunitas yang membawa kebaikan.
Setelah acara bubar, peserta-peserta orientasi mulai terlihat sibuk, ada yang meminta tandatangan panitia di buku, baju mereka, meminta foto, melancarkan aksi pendekatan dengan adik-adik kelas dengan mulai berani bertukar nomor dan kesibukan lainnya.
Zi lebih memilih untuk menunggu kedua sahabatnya di tempat favorit mereka. Di trotoar jalan tempat tragedi mereka bertemu 4 sekawan, karena jalanan di sana sedang ditutup untuk kegiatan orientasi.
*****
__ADS_1
Perkuliahan pun dimulai, Zi teringat untuk segera mengembalikan jas almamater yang minggu kemarin dia pinjam bersama Reno, Zi masih menunggu anak betawi itu keluar dari kelasnya.
Tanpa sengaja dia melihat Za tak jauh dari posisi dia duduk saat ini. Zi mulai bimbang akan mengembalikan langsung atau tetap menunggu Reno.
Setelah difikirkan matang-matang daripada dia kena semprot atau kena tatapan-tatapan tajam wanita pengagum Za yang tersebar di seantero kampus, Zi lebih memilih untuk bersabar sedikit menunggu Reno menyelesaikan kelasnya.
10 menit kemudian Reno menghampiri Zi
“Lah itu ada Kak Za, kenapa enggak langsung dikembalikan saja Zi?”
“Sungguh tak mau Reno karena taruhannya nyawa, kamu mau aku kuliah disini hanya dalam hitungan hari?”
“Memang kenapa?”
“Kamu coba lihat tatapan-tatapan wanita-wanita disini melihat Kak Za, bisa-bisa aku disini kuliah bukannya tambah gelar di belakang malah gelar aku ada di depan” Zi mulai berbisik-bisik dengan Reno
“Gelar apa memang?”
“Almarhumah” Reno tertawa terbahak-bahak sampai tanpa ia sadari beberapa mata menatapnya tajam, karena suara yang tak bisa dia kontrol
“Maaf Kak maaf, kelepasan” setelah selesai dengan perbincangan mereka. Reno memilih untuk segera mengembalikan almamater itu, sebelum pria yang ia tuju menghilang begitu saja.
“Kenapa loe yang ngembaliin?”
“Gue merasa bertanggung jawab saja Kak, karena gue yang pinjam” jelas Reno
“Terus loe juga yang cuci?” Cecar Za
“Ya enggak sih Kak, Zi yang cuci kan kita kompak jadi bagi tugas” ucap Reno ngeles
Reno pun pamit pada Za setelah salim seperti seorang anak pada orang tua yang ditolak mentah-mentah oleh Za. Akhirnya mereka tos ala-ala pria yang bersahabat dekat, urusan mengakrabkan diri seperti itu memang Reno jagonya.
__ADS_1