
***Assalaamu’alaikum Wr. Wb.
Yang Terhormat Bapak Rizal Sekeluarga,
Mohon maafkan kesalahan dan kelancangan saya, saya Rizky Darmawan membatalkan pernikahan saya dengan Zi. Sekali lagi mohon maaf, saya tak cukup punya muka untuk hadir atau menghubungi Bapak sekeluarga secara langsung.
Dari Yang Berdosa,
Rizky Darmawan***
“Astaghfirullohal’adzim” ucap mereka bersamaan, karena ternyata Shinta dan Ina ikut membaca surat itu bersama Za.
“Kak ini benar tulisan Kak Rizky?” Tanya Shinta. Za hanya mengangguk pelan
Ina saat itu juga terduduk lemas di kursi. Pa Rizal yang tadi melihat ada mobil datang pun beranjak keluar mendekati ketiga anak muda itu.
“Tadi siapa Ta, Na?” Tanya Pak Rizal pada kedua sahabat anaknya. Shinta yang bingung harus menjawab apa, mengambil surat yang Za pegang dang menyerahkannya pada Pak Rizal, seketika wajah Pak Rizal memerah dan mengeluarkan tangisnya yang sudah tak tertahan.
Beberapa tamu ada yang menyadari keganjilan hal itu. Shinta dan Ina berusaha menenangkan Pak Rizal, sedangkan Za seperti bingung dengan apa yang ia rasakan saat ini, melihat pria paruh baya di depannya yang terduduk sambil menangis, Za yakin Beliau akan bingung untuk menyampaikan kejadian ini pada Istri dan Putrinya.
Hanya perlu waktu satu menit, pria itu beranjak mengambil sesuatu dari dalam mobilnya.
*****
Shinta, Ina dan Pak Rizal beranjak pergi ke dalam, Pa Rizal memberanikan diri menemui istrinya, untuk mengatakan apa yang baru saja terjadi.
Saat ini tugas berat bagi Ina dan Shinta untuk menyampaikan surat yang saat ini mereka pegang.
“Ini apa Ta?” Tanya Zi dengan wajah yang sudah tak bisa diartikan. Kecemasan yang sedari tadi berkecamuk akhirnya terjawab sudah, Zi membaca surat itu dengan tangan bergetar, ia teramat mengenal tanda tangan yang tertera di sana.
Tangis yang sedari tadi tak bisa ia bendung, akhirnya pecah juga.
__ADS_1
“Sabar ya Zi” Ina yang mencoba menenangkan Zi, tapi sambil dirinya pun tak kuasa menahan tangis sambil memeluk sahabatnya itu.
“Kak Rizky kenapa jahat sama aku Ta” Zi semakin terisak
“Zi dengar aku, kamu pernah bilang kan, bahwa semua yang terjadi di dunia ini atas Kuasa Allah, tanpa terkecuali, benar kan?, sekarang aku tanya sama kamu, jika saat ini ada seorang pria yang kamu kenal baik dan berniat menikahi mu apa yang akan kamu lakukan?”
Tanya Shinta sambil menatap wajah Zi lekat. Sudah satu tahun ini gadis itu memutuskan berhijab, perlahan memperbaiki cara berpakaiannya, selalu bersemangat menggali hal-hal baru, yang sama sekali belum terpikirkan mengenai agama yang ia anut sejak kecil itu.
“Maksud kamu apa Ta?”
“Kak Za akan menikahi mu Zi, apa kamu bersedia?”
“Kak Za?! Bagaimana Bisa?!” Zi tak percaya
“Kalau untuk itu lebih baik kamu tanyakan langsung pada orangnya”
Ina menyerahkan hp Zi yang sedari tadi ia pegang.
Zi hanya mengetik “Kenapa Pak Anda melakukan hal ini?”
Pak penghulu yang sedari tadi sudah terlihat gelisah, diminta untuk menunggu sekitar 15 menit lagi. Zi meminta waktu pada Ayahnya untuk melaksanakan sholat Istikharah, seperti kebiasaanya Zi selalu berusaha menjaga wudhu nya setiap saat, karena berharap saat kelak sajal menjemputnya, jasadnya dalam keadaan suci karena air wudhu.
Ia melaksanakan sholat Istikharah dengan mengenakan gaun pengantinnya. Zi mencoba menenangkan hati, membuka slide-slide kembali pertemuannya dengan pria dingin itu.
Hingga akhirnya Zi bersujud saaaangat lama.
Robb pemilik segala hati, hamba tahu dosa hamba tak terukur dan tak terhitung, jika kejadian ini menggugurkan dosa-dosa ku hamba Ridho Robb. Mohon berikan pula Ridho dan Keberkahan-Mu untuk pernikahan ini, ampuni segala dosaku Aamiin.
“Saya Terima Nikahnya Zidna Ilma Binti Rizal Ramadhan dengan Mas Kawin Cincin Berlian dibayar Tunai”
“SAH”
__ADS_1
Bisik-bisik kembali terdengar diantara para tamu undangan, yang mana adalah tetangga di kampung Zi, mereka ada yang mengatakan
“Ini sih lebih tampan dari yang kemarin, lebih keren” Kata seorang Ibu yang menghadiri prosesi lamaran Zi
“Memang ya, segala sesuatu yang terjadi di dunia pasti ada hikmahnya”Timpal yang lain
Obrolan sebelum aqad terjadi antara Pak Rizal, Penghulu dan Za.
Pak Rizal menjelaskan kepada Bapak penghulu kejadian yang dialami keluarga mereka hari ini.
Kemudian Pak Penghulu menuturkan kepada Za untuk mengurus persyaratan pernikahan, agar pernikahan mereka segera disyahkan secara Negara. Za yang mendengar itu menganggukkan kepala.
Setelah aqad selesai Zi keluar dari kamarnya, riasan sederhananya sebelumnya telah dirapikan oleh penata rias yang Rizky sewa dari Jakarta.
Zi melangkahkan kaki perlahan didampingi kedua sahabatnya, Zi sama sekali tak berani mengangkat wajahnya, sekedar untuk melihat wajah tetamu yang hadir saat itu.
Saat ini Zi diminta berdiri berhadapan dengan Za, lalu Bapak Penghulu berkata
“Nak Zi, kuatkan hatimu, saat ini pria yang ada di hadapanmu adalah orang yang akan selalu menjaga dan membimbing mu, semua terjadi atas kehendak Allah. Nak Za Allah titipkan padamu untuk engkau hormati dan sayangi, silahkan cium tangannya Nak”
Zi hanya menatap tangan yang saat ini berada di depannya dengan tatapan yang tak bisa diartikan, 1 detik 2 detik 3 detik Zi terdiam, lalu memberanikan diri menggapai tangan itu, Za yang melihat tangan Zi bergerak gemetar, mulai mengulurkan tangannya.
Zi mencium tangan itu dengan isak tangis, seorang Zi wanita yang dikenal madiri, tangguh, kuat menghadapi seberat apapun masalah di depan mata, baru kali ini ia berani menangis di depan pria selain Ayahnya, Pria yang baru beberapa menit lalu menjadi mahromnya”
“Silahkan Nak Za do’akan istrimu” Za meminta Pak penghulu membimbingnya untuk membaca do’a untuk istri setelah aqad nikah.
Zi masih tertunduk, Za memegang ubun-ubun istrinya kini, lalu ia membacakan do’a mengikuti lafal Bapak Penghulu.
“Silahkan Nak Za, cium keningnya, dia sudah halal bagimu” Zi masih tertunduk, berusaha untuk tak menangis lagi. Zi mengangkat kepalanya perlahan, sekian detik mereka saling tatap. Entah apa yang menggerakkan pria itu, Za menghapus air mata Zi saat itu dengan kedua ibu jarinya “Nyeeesss”, tangan pria itu terasa dingin tapi seketika memberikan kehangatan di hati Zi.
Bagaimana mungkin pria yang selama ini sering membuatnya kesal, sering mengujinya dan sering menunjukkan wajah yang tak ramah itu, bisa melakukan hal semanis ini.
__ADS_1
Kali ini Zi berani menatap mata pria itu seolah mengatakan rasa terima kasih karena telah berusaha menguatkannya.
Za kemudian mengecup kening Zi sedikit lama, entah apa yang ada di benak mereka berdua saat ini.