Hanya Zi

Hanya Zi
Rencana Lidya


__ADS_3

“Eeehhh ngeyel” Shinta yang tak kuasa menahan tawanya, karena sahabatnya tak terima dipanggil Ibu dengan segera menyuruhnya masuk


“Bapak jangan macem-macem ya sama kita, tadi sudah dijanjiin tips besar kan kalau kita sampai dengan selamat?”


“Iya BuNeng siap”


“Buneng?”


“Iya Ibu Neng” Driver itu terlihat terkikik dari balik spion, hiburannya sesekali menjahili penumpang yang dirasa akan aman, aman untung rate bintangnya.


“Bujubuneng kali ah, udah Pak ah cepetan udah malem ini, anak gadis enggak baik pulang malem-malem”


Setelah selesai masa perawatan Zi di rumah sakit, gadis itu masih harus bedrest di rumah untuk memulihkan kondisinya. Zi yang merasa bosan ingin segera masuk kantor, beberapa kali melakukan negosiasi kepada suaminya agar bisa kembali bekerja lebih cepat.


Di Kantor Za


“Assalaamu’alaikum Pa, Pa apa ada perkembangan mengenai restu Mama terhadap pernikahan aku Pa?”


“Sejauh ini belum Za, Mama sepertinya akan memberikanmu sekretaris baru, setelah dia mendengar jika silvi resign dari kantor kita”


“Ya Alloh Pa, mau Mama apa sih sebenarnya, kenapa Mama jadi ikut campur juga urusan kantor? Sejauh ini Za bisa menghandle semuanya kan. Iqbal sudah Za tunjuk sebagai pengganti Silvi, sejauh ini pekerjaan dia sangat baik, bahkan Za jauh lebih tenang saat pria yang menjadi sekretaris Za”


“Nanti Papa coba bicara lagi sama Mama ya, ngomong-ngomong kamu belum cerita, sebenarnya alasan Silvi resign itu apa Za?”


“Panjang ceritanya Pa, tapi yang jelas puncak dari kemarahan Za kemarin, karena sikap jahatnya dia hingga aku kehilangan calon anak aku Pa, calon cucu pertama Papa”


“Ya Tuhan.. Zi keguguran? separah itukah? Lalu kenapa kamu tak memberi Papa kabar saat kejadian?"


“Zi yang melarang Pa, dia tak ingin merepotkan dan menambah beban pikiran Papa”


“Papa sekarang sudah jauh lebih baik Za, bahkan Papa sudah bisa melakukan jogging seminggu tiga kali, ya meskipun masih dengan speed pelan”


“Itu namanya jalan santai kali Pa, bukan jogging”


“Haha.. Iya Papa bersyukur, kamu mau menghandle kantor, jadi Papa punya banyak waktu untuk memulihkan kondisi Papa”


“Sudah dulu ya Pa, Za 5 menit lagi ada meeting.. Assalaamu’alaikum”

__ADS_1


Pria setengah abad itu, menjawab salam dari seberang telepon. Pikirannya lagi-lagi melayang


Anakku sepertinya sudah jauh menjadi pribadi yang lebih baik semenjak dia menikah, dulu mana ada ucapan salam saat kami bertegur sapa atau bahkan lebih dari itu, dia mencium punggung tanganku saat bertemu.


Aku sering melihat dia melaksanakan kewajibannya, saat dia mengunjungi kami di rumah. Sikapnya jauh lebih ramah dibanding sebelumnya. Aku sudah lalai mendidik sebagai orangtua, bahkan dia sudah jauh lebih baik saat ini.


Aku malu Tuhan, bahkan setiap menjawab salam anak itu, rasa malu terbersit, pantaskah diri ini memulai jalan baru setelah sekian lama terlena dengan tipu daya dunia. Apa ini kesempatan yang Engkau berikan, kesehatanku yang pulih kembali, supaya aku bisa benar-benar menjadi kepala keluarga yang semestinya?


Pria yang masih terlihat tampan, dan saat ini semakin terlihat bugar karena kesehatannya yang membaik, mengusap wajahnya kasar.


Tak berselang lama, sang istri datang menemuinya di ruang keluarga itu


“Ma.. Papa mau bicara serius”


“Tumben Pa, jangan bilang Papa mau membicarakan pernikahan Za”


“Ma, sudah cukup lama mereka menunggu restu Mama, mau sampai kapan Mama menguji kesabaran mereka?”


“Salah sendiri, kenapa Za memilih istri yang tak sepadan”


“Memangnya definisi sepadan menurut Mama itu yang seperti apa? Apa Mama enggak sadar kalau anak kita mulai berubah jadi lebih baik, Papa saja malu Ma Za yang sudah beberapa tahun terakhir ini melaksanakan sholat 5 waktu, kita sama sekali tak pernah mengindahkan kewajiban itu”


“Mama enggak salah bicara? Memangnya Mama suka sholat, atau Mama suka mengingatkan suamimu ini untuk menjalankan ibadah itu?”


“Ah sudah ah Pa, Mama paling males membahas masalah ini sama Papa, karena kita akan tetap sama-sama keukeuh sama pendapat kita masing-masing.


"Mama malu Pa, kalau teman-teman bisnis dan arisan Mama membicarakan menantu Mama yang enggak modis, norak, bukan dari kalangan berada, mau ditaruh dimana muka Mama Pa”


“Masukin saku aja Ma, kalau Mama bingung”


Susah sekali bicara dengan wanita ini, aku baru sadar sejak kapan dia berubah, padahal dulu sama sekali dia tak memandang status sosial seseorang, bahkan almarhum sahabat dekatnya dulu saja dari keluarga sederhana.


Ini pasti karena pergaulan sosialita yang membuat dia menjadi gila hormat, dan aku sendiripun sampai tak menyadari perubahan itu


“Jadi rencana Mama sekarang apa?”


“Mama, masih ingin menguji mereka Pa, mereka harus pisah kantor, dan dalam waktu dekat ini Mama akan bawa sekretaris baru ke kantornya Za”

__ADS_1


“Ya Tuhan, maksud Mama apa ikut mencarikan Za sekretaris baru, dia bisa dengan mudah menyelesaikan masalah sederhana itu”


“Nih Papa lihat foto ini” Lidya terlihat membuka gallery di handphonenya


“Cantik kan? Ini bukan wanita sembarangan Pa, Mama ingin tahu apakah anak kita benar-benar mencintai gadis kampung itu, atau dia dijebak selama ini”


“Heeuuuuhh.. Papa gemes sama Mama, susah banget dibilangin”


Hartono memilih untuk pergi meninggalkan ruangan itu, untuk masuk ke ruang kerjanya, dia memikirkan sesuatu, karena tak tega jika melihat anaknya harus menahan diri terlalu lama untuk tak mempublikasikan pernikahannya.


Di sisi lain Lidya terlihat menghubungi seseorang


“Halo, kamu siap besok mulai bekerja?” terdengar sahutan seorang wanita di seberang telepon


“Baik, Tante tunggu ya pukul 9 pagi, kita langsung bertemu di loby kantor saja”


Keesokan harinya


“Kak.. Zi bosan diem di apartemen terus” Zi mulai merengek


“Kamu belum sembuh benar sayang”


“Sudah Kak Zi sudah benar-benar sembuh, bahkan Zi sudah mulai olahraga sendiri di rumah beberapa kali”


“Ya Kak Ya.. Pliiisss” Gadis itu menangkupkan tangannya memohon, tapi pria itu masih menggeleng sambil mengunyah makanannya


“Sayang…. pliiiissss” pria itu pun terbahak


“Ngedenger kata sayang dari kamu itu mahal banget ya, giliran merajuk aja keluar semua gombalannya”


“Ya sayang ya.. Zi janji, kalau Zi mulai merasa lelah, Zi tak akan memaksakan diri bekerja, Zi juga kan enggak mau dzalim sama diri sendiri”


“Janji?” gadis itu mengangguk mantap


“Oke, tapi kasih aku hadiah dulu”


“Hadiah apa?” Za menunjuk dahinya, kemudian Zi mengecupnya. Za kembali menunjuk pipi kanan kirinya, Zi masih mengikuti kemauan suaminya.

__ADS_1


“Ini bonusnya” Za menunjuk bibirnya


“Enggak mau, udah sana Kak Za berangkat, nanti kesiangan”


__ADS_2