
“Kemana saja lo Ki? Masih ingat kita?” tanya Za dengan tatapan tajamnya.
Mereka memilih untuk duduk kembali di kursi paling ujung, Zi duduk di samping suaminya.
“Ada yang mau lo jelaskan Ki?”
“Selamat untuk pernikahan kalian”
“Maaf saya permisi” Zi memilih untuk meninggalkan mereka berdua, karena ia sama sekali tak ingin mendengarkan penjelasan apapun dari pria itu.
Hari ini mungkin tak akan terjadi, dimana dia merasa sangat bersalah pada pria yang saat ini ada di sampingnya, merasa masa depan pria itu akan hancur karena menikahi gadis yang sama sekali tak ia cintai. Tapi tangan Zi kembali ditahan oleh Za
“Duduklah, kita dengarkan penjelasannya”
Pinta Za dengan tatapan lembut
“Sebenarnya, aku tak layak berada di hadapan kalian saat ini. Tapi bagaimanapun juga aku berhutang penjelasan pada kalian, orang yang berharga di hidupku. Zi maafkan aku, tak ada kata yang bisa aku ucapkan selain itu.”
Terlihat gadis itu sesekali tertunduk kemudian mengedarkan pandangannya ke luar jendela, sambil meremas jemarinya di bawah meja
Tak disangka Za kembali menggenggam tangan istrinya itu dengan lembut, meraih tangan itu di bawah meja mereka, sambil mengusap-usapnya perlahan.
Zi hanya diam tak membalas perlakuan suaminya itu, dia tak cukup memiliki tenaga untuk melakukannya, kaki tangan dan semua persendiannya terasa lemas.
“Mama telah menjebak ku, 2 hari sebelum pernikahan kita, Beliau melakukan hal buruk padaku, bekerja sama dengan seorang gadis yang aku kenal baik, Mama memberiku obat tidur kemudian membiarkan gadis itu tidur di ranjang ku dengan menampakkan bagian bahunya yang terbuka tak tertutupi selimut, dan aku yang bertelanjang dada, yang seolah –olah memperlihatkan aku telah berzina dengannya".
“Aku tak percaya aku telah melakukannya, tapi Mama mengancam akan mengirim foto-foto itu pada keluargamu. Aku bersikeras aku tak mungkin berzina dengan gadis itu, meskipun aku dalam kondisi tak sadarkan diri karena obat tidur itu"
"Aku akan berusaha menjelaskannya padamu, tapi Mama kembali mengancam ku akan mengakhiri hidupnya jika aku tak mengikuti keinginannya.”
“Aku bingung Zi, aku bingung harus melakukan apa, hingga Mama menyuruhku menelepon keluargamu, tapi aku begitu pengecut aku sama sekali tak berani melakukannya, mendengar suaramu saja rasanya hatiku akan tercabik-cabik”
Kali ini tangan Zi mulai bereaksi, dia mulai menggenggam tangan Za dengan tenaga yang tersisa masih dengan ekspresi datarnya, tak menunjukkan respon apapun pada pria yang sedang berbicara di depannya.
__ADS_1
Za menatap istrinya itu dengan tatapan sendu, ia tahu apa yang sedang dirasakan istrinya saat ini.
“Akhirnya, aku memilih untuk menulis sebuah surat yang mungkin telah kalian baca, hatiku hancur tapi aku yakin hatimu lebih merasakan sakit berkali-kali lipat dibanding apa yang aku rasakan. Tapi aku bahagia saat tahu Za telah menjadi suamimu. Hal buruk mungkin terjadi padaku, tapi aku harap pernikahan kalian akan dipenuhi dengan kebahagiaan”
Melihat tak ada reaksi apapun dari dua orang yang ada dihadapannya, Rizky pun memilih untuk pamit, karena masih ada meeting yang harus ia lakukan. Setelah 10 menit mereka sibuk dengan pikirannya sendiri, akhirnya Za membuka suara
“Masih mau disini?” Zi menggeleng
“Baiklah ayo kita pulang” Mereka berdua akhirnya beranjak meninggalkan restoran itu. Za yang melihat istrinya berjalan dengan lemas di belakangnya dengan tatapan kosong, akhirnya memutuskan untuk menggenggam jemari gadis itu, lalu merengkuh pinggang rampingnya.
Zi menatap wajah tampan itu lekat, sedangkan sang pria hanya menatap pemandangan lurus didepannya.
Za membukakan pintu mobil untuk Zi.
Ia mulai menyalakan mesin mobilnya, keluar dari restoran tersebut. Melihat gadis itu yang sama sekali tak bergeming, Za akhirnya memutuskan untuk menepikan mobilnya sebentar.
“Kamu ingin pergi ke suatu tempat?” Zi menggelengkan kepalanya.
“Sini” dan kontak fisik pun kembali terjadi. Za menggeser sedikit duduknya menarik bahu Zi, untuk menyenderkan kepalanya di bahunya. Dia merengkuh bahu itu, menyandarkan kepalanya perlahan.
Kata-kata itu seperti instruksi, tapi Zi benar-benar menumpahkan sesak di dadanya saat itu, ia menangis sesegukan di dada suaminya.
Za sesungguhnya tak tahan mendengar tangisan menyayat hati itu, tapi dia jauh lebih tak tahan melihat gadisnya hanya berdiam diri tak melakukan protes seperti biasanya.
Sepuluh menit gadis itu menangis, hingga matanya sudak tak bisa dijabarkan. Zi perlahan mengangkat kepalanya
“Baju Bapak basah, maafkan” Ucap Zi sambil melap sisa tangisnya. Za membantu membersihkan tangis itu dengan jarinya, mengelus pipi gadis itu dengan penuh kehangatan.
“Ini terakhir kalinya saya mengizinkanmu mengeluarkan air mata untuk pria lain”
“Tadi aku sekarang saya lagi” protes Zi
Gadis ini benar-benar sudah kembali, kembali dengan protes-protesnya
__ADS_1
“Tadi itu keceplosan”
“Ish menyebalkan, sering saja keceplosan, apa saya harus menangis dulu baru Bapak akan mengeluarkan kata-kata itu?” Za hanya menatapnya tajam, seolah mengatakan jangan lakukan itu gadis nakal.
*****
2 Bulan pernikahan
Kontak fisik yang masih dalam tahap “awal” diantara suami istri itu masih terjadi, dan hari ini Za, Rio, Silvi, Iqbal dan Zi akan berangkat menuju puncak untuk memeriksa perkembangan proyek sebuah tempat wisata dan villa.
Mereka berangkat bersama dari kantor diantar driver kantor Hartono Group.
Rio memilih untuk duduk di samping supir, awalnya Zi pikir dia dan Silvi akan duduk bersebelahan di belakang, tapi ternyata gadis itu memilih untuk duduk di samping CEO mereka.
Alhasil Zi dan Iqbal mereka duduk di jok belakang
Ah.. mungkin itu hanya karena kebiasaan saja, bukan karena Kak Silvi genit kan???
Zi sedang memastikan keraguan yang ia ciptakan sendiri.
Iqbal yang menyadari tatapan tak suka dari Zi hanya tersenyum, sepertinya di dalam mobil ini memang hanya dia yang baru mengetahui rahasia pernikahan mereka.
Silvi tampak menawarkan minuman dan makanan pada pria di sampingnya, setelah itu baru menawarkan pada kami yang ada di baris depan dan belakang. Hingga tiba-tiba driver mengerem mendadak, minuman yang sedang Za pegang tumpah ke baju dan wajahnya.
Silvi yang secara refleks segera menyerahkan tissue dan hendak me lap cipratan air yang ada di wajah dan baju Za.
Sontak perlakukan itu membuat mata Zi membulat, untungnya suaminya itu menolak, dia langsung mengambil tissue dari sekretarisnya dan melap wajah serta bajunya.
Tak disangka Za membalikkan wajahnya ke belakang, memastikan istrinya “baik-baik saja” karena ia tahu Iqbal sudah mengetahui pernikahan mereka.
Sedangkan Zi segera memalingkan wajahnya ke jendela samping tak ingin menampakkan raut tak sukanya pada pria itu.
Kenapa perasaanku menjadi tak nyaman begini, sepertinya aku ingin segera meloncat dari mobil ini
__ADS_1
Setelah sampai di tempat proyek, mereka berjalan beriringan memeriksa perkembangan project.