
Nausha nampak terdiam, ia sedang berfikir ia harus meninggalkan cafe nya dulu untuk kembali pulang.
" Kenapa Kak..Kakak bengong?"
" Euh..iya Mir, Kakak tinggal dulu yaa! telepon Kakak kalau ada masalah di cafe."
" Iya Kak."
" Mir.."
" Iya Kak?"
" Tolong kamu cari orang untuk membantu Kakak yaa!"
" Kakak butuh orang lagi?"
" Iya Mir..kamu Kakak jadi wakil Kakak saja, biar yang menggantikan kamu orang baru saja yang melayani Cafe ini."
" Iya Kak.." ucap Mira senang.
" Secepat nya Ya mir."
Nausha pun bergegas kembali pulang dan menemui suaminya, Sampai di mansion Affandi mata nya melihat Susan sedang membawa kopi untuk Tuannya.
" Bu Susan di mana Pak Affandi?"
" Euh..ya ampun Nak Nausha, kenapa tidak ijin sih sama Tuan Affandi?"
" Saya kan sudah jelaskan..saya tidak bisa ijin Pak Affandi sendiri tidak mau di ganggu tidur nya."
" Hah..kamu ini, ini kopi Tuan kamu saja yang bawa keruangan nya."
Nausha mengangguk cepat.
" Iya Bu Susan."
Nausha masuk keruangan Affandi sambil mengantar kopi untuk Affandi.
TOK TOK
__ADS_1
Nausha mata nya melihat Affandi sedang duduk di belakang meja kerja nya matanya sempat melirik pada Nausha.
" Pak Affandi ini kopinya." sambil meletakkan secangkir kopi hitam di meja.
" Maaf Pak, terus terang saya tidak berani lagi membangunkan Bapak masih tidur." ucap nya sambil menundukkan kepala.
" Lalu tadi kamu masuk kamar saya, saya sempat bicara kan sama kamu."
" Eugh..? maaf Bapak tadi bicara sama saya , Bapak masih telanjang saya risih lihatnya."
" Karena saya masih telanjang kamu kagum dengan tubuh saya..jadi lupa minta ijin pada saya untuk ke Cafe."
" Hah..? tidak Pak maaf maaf saja."
Affandi dan Nausha kemudian terdiam kedua nya tidak saling menatap. Affandi hanya melihat pekerjaan nya saja sedangkan Nausha terus menundukkan kepala.
" Bagaimana Cafe kamu?"
" Ramai Pak sudah 3 hari ini."
Affandi mengangguk.
" Terima kasih Pak Affandi."
Nausha pun keluar dari ruangan Affandi. Ia akan kembali ke Cafe nya. Jarak Cafe dari rumah Affandi hanya butuh 15 menit saja. Nausha sebenarnya ingin protes pada Affandi
karena waktu yang di berikan Affandi sangat terbatas hanya sampai jam 6 sore, sedangkan Cafe nya akan ramai di kunjungi di atas jam 7 malam.
" Huh..." Nausha mendengus kesal.
,
,
,
,
,
__ADS_1
Selama diperjalanan menuju cafenya Nausha memikirkan mencari celah waktu bagaimana caranya supaya ia bisa menghandel cafenya.
Sampai di cafenya ia bicara pada Mira.
" Mira ikut Kakak."
Mira bersama satu orang karyawan Nausha sedang merapihkan stok makanan beku di dalam freezer berhenti dulu karena di panggil oleh Nausha.
" Iya Kak."
Nausha mengajak Mira bicara di tempat agak sepi di belakang.
" Ada apa Kak?"
" Heum..begini Kakak tidak bisa berada di cafe sampai malam."
Mira menautkan kedua alis nya.
" Gimana sih Kakak? kan cafe makin malam makin ramai Kak."
" Hahh..." Nausha membuang nafas pelan." Iya Mir."
" Kakak sepertinya lagi ada masalah ya."
" Begini..kamu tahu kan laki laki beberapa hari lalu yang datang ke cafe ini."
" Iya Kak."
" Kakak sudah menikah dengan laki laki itu."
" Kapan Kak?"
" Dua hari lalu..jadi Kakak harus mengikuti perintah suami Kakak."
" Mira ngerti kok..."
" Tapi Kakak juga mau kamu rahasiakan ini dulu yaa."
" Iya Kak..Mira janji."
__ADS_1
" Terima kasih ya Mira."