
Fiandra kemudian mengajak Mathilda dan Leo untuk kembali.
" Leo semua sudah pulang, kita kembali pulang..Nausha Ibu kita pulang."
Namun Leo belum sedikit bergerak untuk meninggalkan makam Ayah nya, Leo masih terdiam meratapi kepergian Ayahnya. Nausha juga sama masih enggan meninggalkan makam Kakeknya. Tapi di saat itu juga Leo menoleh pada Nausha dengan tatapan tidak senang pada putri nya sendiri.
" Tidak usah menangis kau hanya berpura pura saja di depan kami, kau senang bukan Ayah ku meninggal!"
" A- apa maksud Ayah?" ucapnya yang sudah takut pada Leo.
Nausha yang baru berumur 15 tahun, tidak bisa membantah ucapan Ayahnya, Nausha tubuhnya beringsut mendekat pada Neneknya takut dengan tatapan Ayahnya, Leo mendekati Nausha.
" Kau memang anak sial!"
Fiandra dan Mathilda tersentak dengan ucapan Leo. Mathilda langsung berdiri membelakangi Nausha dan bicara pada Leo.
" Leo..jaga ucapan kamu, tidak sadarkah kau dia adalah putri mu sendiri." ucapnya dengan sangat penuh penekanan.
Fiandra mencoba menenangkan suaminya dirinya mengiba agar jangan melontarkan kata kata yang tidak pantas untuk Nausha.
" Leo..kenapa kau katakan itu pada putri mu sendiri?"
" Huh..aku memang tidak bisa menerima anak perempuan dari mu ini."
" Jadi kau menyalahkan aku? ini sudah takdir Leo kau tidak bisa mengubahnya..jangan sampai kau menyesal dengan ucapan mu!"
" Hey..anak sialan! kau sengaja memberikan kue manis pada Ayah ku agar cepat MATI bukan?"
" LEO.." ucap Mathilda keras.
" JAGA UCAPAN MU ITU!" lanjut Mathilda.
Leo kemudian menarik Nausha dengan kencang, Leo sudah ingin menghukum Nausha yang sudah melanggar atas tindakan putri nya untuk tidak memberikan kue ulang tahun pada Kakeknya.
" Ayo ikut aku..!"
Nausha semakin takut pada Ayahnya, sudah pasti Ayah nya akan memberi hukuman yang kejam untuknya, Nausha belum mengerti apa apa harus selalu menerima hukuman dari Ayahnya. Mathilda dan Fiandra dengan langkah cepat mengikuti Leo menarik tangan Nausha dengan kencang.
" LEOO..jangan Leo !" ucap Mathilda mencegah dengan melangkah tertatih tatih.
Fiandra harus mengimbangi langkah Mathilda, kedua nya susah mengejar Leo yang menarik tangan Nausha yang berjalan sudah menjauh.
" Fiandra kita harus cegah Leo, aku khawatir pada Nausha.."
" Iya Ibu.."
Leo menarik Nausha sampai di mobil. Dan meminta kunci pada supir nya.
" Cepat berikan kunci nya!"
Supir hanya mengikuti titah Tuannya, melihat wajah Tuannya sepertinya sudah sangat murka pada putri nya sendiri supir tidak bisa berbuat apa apa. Supir dan para pelayan rumah keluarga Hilmar sudah sangat kasihan pada Nona Nausha yang sering diperlakukan kasar pada Ayah nya sendiri, bahkan mereka beberapa kali melihat Nausha di pukuli oleh Tuan nya. Para pelayan mulai tegang dan takut melihat Tuan Leonardo yang sangat kejam.
__ADS_1
Sampai di mansion, Leonardo membawa Nausha ke ruangan bawah tanah, tempat di mana dulu Arthur suka menyiksa Leo dan kini harus turun pada putri nya sendiri Leo sudah beberapa kali menyiksa Nausha.
Leo sudah membawa masuk keruangan bawah tanah itu, dan mulai mengikat tangan Nausha. Nausha hanya diam tidak berani melawan Ayahnya.
" AKU SUDAH KATAKAN PADA MU, KARENA KAU MEMBERI KUE MANIS UNTUK KAKEK..KAKEK MENINGGAL!!"
" A- ayah..maafin Nausha." ucapnya dengan terisak.
Leonardo sudah kesetanan otak dan telinganya sudah tertutup dengan kebencian pada putrinya sendiri. Tangan nya sudah meraih cambuk. Namun saat itu juga Mathilda dan Fiandra di bantu oleh supir dan penjaga rumah juga para pelayan untuk membantu mendobrak pintu besar dan kokoh itu dengan sebuah kampak.
" Cepat dobrak pintu nya!!" titah Mathilda pada supir dan penjaga rumah.
" Kita harus hentikan Leo kalau tidak Nausha akan mati di tangan Leo." ucap Fiandra panik sambil memohon pada Supir dan penjaga rumah.
" Ba-baik Nyonya." ucap penjaga rumah.
Suara pecutan cambuk sudah mulai terdengar itu artinya Leo di dalam ruangan mulai menyiksa Nausha.
Dalam ruangan bawah tanah nampak Leo sudah memegang cambuk dan menggulung cambuk di tangannya dan siap untuk mencambuk Nausha. Nausha hanya pasrah dengan memejamkan mata menangis memohon ampun pada Ayahnya pun percuma.
CETERR..
Suara cambuk itu sudah di daratkan pada tubuh belakang Nausha, oleh Leo.
" Akhhhhh..Ayah ammpuun!"
" KAU SUDAH MEMBUAT KAKEK MATII.."
CETERR..
Cambukan yang kedua mendarat pada tubuh Nausha nampak jelas tercetak cambuk yang tergambar di punggung dan pinggang Nausha.
" AKU SUDAH KATAKAN SAMPAI TERJADI PADA KAKEK INILAH HUKUMAN YANG KAU DAPATKAN..ANAK SIALAN..!!
Sementara di luar depan pintu ruangan itu Fiandra dan Mathilda sudah lemas mendengar cambuk yang sudah menyiksa Nausha oleh Leo, Fiandra mendengar tangisan Nausha.
" Cepat dobrak pintunya..!!" ucap Fiandra.
Penjaga rumah dan supir telah berhasil membuka pintu itu. Pintu itu akhirnya di dorong di buka lebar, nampak terlihat oleh Mathilda, Leo mulai melayangkan tangan nya untuk mencambuk Nausha yang ketiga kalinya.
Fiandra dan Mathilda berlari masuk buru buru mencegah Leonardo.
" LEO HENTIKAN!! Nausha tidak bersalah anak mu tidak berdosaa..kenapa kau masih menyiksa nya?" Mathilda memohon.
" BIARKAN IBU..ANAK INI MEMANG TIDAK BISA MENDENGAR KU SELALU MELAWAN KU..!!"
Fiandra dengan cepat berdiri di belakang Nausha dengan merentangkan Kedua tangan nya melindungi putri nya.
" LEO..STOP !! anak kita tidak bersalah, kalau kau ingin menghukum nya..hukum saja aku!!"
Sementara Mathilda melepas ikatan tali di tangan Nausha.
__ADS_1
" Cepat bawa Nausha pergi dari sini Bu!"
" FIANDRA KAU MULAI MEMBANTAH KU..HAHH !!"
" Lebih baiikk aku kehilangan mu, Leo daripada aku harus kehilangan putri ku sendiri..! ucap Fiandra dengan bergetar.
Seluruh kekuatan untuk melawan suaminya sudah di ujung di tenggorokan nya untuk berucap, Fiandra selama ini dirinya hanya diam dan diam karena terlalu takut dan patuh pada Leo.
" APA YANG KAU KATAKAN FIANDRA..??"
" Sebaiknya kita bercerai..aku sudah tidak sangguuup..atas kekejaman mu pada putri mu sendiri, dia tidak bersalah dan berdosa Leo."
Fiandra berucap dengan nafas terdengar tersengal sengal.
" KAU MEMINTA BERCERAI DENGAN KU??
" IYAA LEO.." dengan kedua matanya yang basah air mata menatap Leo penuh kebencian.
" LEPASKAN AKU DAN JUGA NAUSHA..!!"
" TIDAK FIANDRA..!! SEJAK KAPAN KAU MULAI MELAWAN KUHH..??"
Namun saat Mathilda mulai membawa Nausha melangkah keluar dari ruang bawah tanah itu, sempat mendengar ucapan Fiandra ingin meminta cerai pada Leo membuat Mathilda berhenti melangkah. Mathilda saat itu juga akan membuat keputusan. Sebelum nya Mathilda meminta pelayan untuk membawa Nausha masuk ke kamar nya dan mengobati luka cambukan di tubuh Nausha.
" Pelayan bawa Cucu ku ke kamar ku..dan obati lukanya!"
" Baik Nyonya."
" Cucu ku kau istirahat lah! jangan lupa minum obat nya."
" Iya Nenek.."
Pelayan membawa Nausha ke kamar, lalu Mathilda kembali masuk keruangan itu
" SAMPAI KAPAN PUN AKU TIDAK AKAN MENCERAIKAN MU, FIANDRA.."
" Aku sudah tidak tahan lagi Leo.. kau terlalu kejam pada putri mu sendiri, aku sebagai Ibu yang mengandung dan melahirkan Nausha dan merawat Nausha, hati ku sangat sakiit.. sempai saat ini. Kalau kau memang tidak bisa menerima putri kita, jangan salah kan Nausha! Nausha bisa saja dendam pada mu dan membenci Ayah nya sendiri. Di saat kau mulai tua rentan dan sakit sakitan, jangan sampai rasa penyesalan mu pada Nausha pada akhirnya menyiksa diri mu sendiri.. sampai rasa penyesalan dan rasa malu mu pada putri kita akan di bawa mati oleh mu..ingat itu Leo!!" ucapnya dengan dada yang naik turun.
Mathilda yang sejak dari tadi berdiri mendengar ucapan Fiandra membenarkannya.
" Benar itu..Leo, Ayah mu sakit karena terlalu memikirkan penyesalan pada mu dan Nausha. Waktu yang berputar tidak akan mengembalikan lagi hanya rasa penyesalan yang ada.."
" Fiandra jangan kau bercerai..! Leo, Ibu akan membawa Nausha dan tidak tinggal di rumah ini." lanjutnya.
" Ibu.." ucap Fiandra.
" Apa maksud Ibu?" balas Leo.
" Fiandra Leo kalian baik baik saja di rumah ini, terutama kau Leo aku akan membawa Nausha aku sudah menyiapkan rumah yaa..jauh dari kemewahan di rumah ini, Ibu akan tinggal di rumah yang sangat sederhana cukup untuk Ibu dan Nausha saja. Leo..Ibu akan mengembalikan Nausha saat kau telah menyadari dan menerima putri mu."
" Itu sudah keputusan Ibu, jangan kau melarang Ibu..Fiandra ini demi Nausha parcaya pada Ibu."
__ADS_1
Mathilda sengaja mengambil keputusan untuk tidak tinggal di rumah keluarga Hilmar demi cucu nya, Mathilda akan melindungi cucunya dari kejam nya Leo Ayah kandungnya Nausha.