
"Aku sangat bersalah pada mu cucu ku.." Arthur berucap tak henti hentinya dalam hati.
Arthur sudah sangat di rundung rasa penyesalan, putranya Leo masih saja belum menerima putrinya sendiri yang disebabkan oleh dirinya terlalu obsesi mendambakan cucu laki laki hingga di saat di usia nya yang semakin tua dan sudah tidak berdaya tidak dapat lagi untuk mencegah putra nya untuk tidak membenci putri nya sendiri, Nausha tidak lah berdosa diri nya lah yang sangat berdosa terhadap putra nya dan juga cucunya.
" Kakek..Nausha mau membereskan meja dulu, ya!"
Nausha dan Mathilda kemudian membantu para pelayan membereskan meja dan semua dekorasi ulang tahun kembali seperti semula.
Arthur hanya terdiam menatapi Nausha dan Mathilda ikut membereskan acara ulang tahun yang singkat dan sederhana tanpa meninggalkan bekas dari sisa sisa acara ulang tahun Nausha. Hingga 30 menit berlalu tanpa di duga oleh Mathilda setelah ikut membantu membereskan dari sisa sisa acara ulang tahun, Mathilda kembali menghampiri Arthur yang terlihat sudah memejamkan mata, Mathilda pun mengajak suami nya ke kamar untuk istirahat. Karena menunggu Mathilda sampai tertidur di kursi roda nya.
" Arthur..kenapa kau sampai tertidur hanya karena menunggu ku..sebaik nya kau tidur di kamar saja.."
Namun rupanya Arthur tidak membuka kan mata dengan suara Mathilda yang mengajak bicara. Mathilda belum menyadari kalau Arthur sudah tidak bernafas.
" Arthur kita kembali ke kamar ya!"
Arthur sama sekali tidak merespon ucapan Mathilda.
" Arthur kenapa kau diam saja.." ucap Mathilda saat ingin mendorong kursi roda.
" Arthur..Arthur." ucapnya sambil menatap suaminya agak membungkuk kan badan.
" Suami ku..hey kau tertidur di sini, kita kembali ke kamar ya!" sambil mengguncangkan bahu Arthur.
Mathilda semakin mengguncangkan guncangkan bahu suami nya agar terbangun.
" Arthur..kau diam saja aku bicara pada mu."
Nausha sudah selesai membereskan menghampiri Nenek dan Kakek nya.
" Kakek sudah tidur Nek, kenapa Kakek tidak istirahat di kamar saja."
" Iya Nausha..Nenek sedang mengajak Kakek untuk istirahat di kamar tapi kenapa Kakek mu diam saja..?"
Nausha pun bicara pada Kakeknya
" Kakek..kami sedang bicara, kenapa Kakek tertidur?"
Arthur tetap tidak membuka mata.
" Kakek..." Nausha hatinya mulai resah dengan Kakek nya yang tidak merespon.
__ADS_1
" Nek kenapa Kakek diam saja?" sambil menatap Arthur yang terpejam.
" Arthur jangan bercanda kenapa tidak bangun? Arthur..Arthur!"
" Kakek..Kek." Nausha mulai panik.
Nausha lalu dengan langkah setengah lari menemui Ibu nya yang sedang berada di dalam kamar dengan Ayahnya.
Tok tok tok
" Ibu..Bu."
Fiandra pun membukakan pintu terlihat wajah Nausha yang panik.
" Ada apa Nausha? Ayah dan Ibu sedang bicara."
" Kakek Bu.."
" Kenapa dengan Kakek?"
" Ka- Kakek memejamkan mata aku dan Nenek sudah membangun kan Kakek tapi tidak juga bangun, Bu."
" I- ya Bu..Ibu cepat lah lihat Kakek dulu!"
Tak lama Leonardo pun keluar karena terdengar suara Nausha panik.
" Ada apa Fiandra."
" Leo..turun lah! Ayah seperti nya butuh bantuan."
" Iya Ayah..aku dan Nenek tidak tahu apa yang terjadi pada Kakek Ia hanya memejamkan mata dan..."
Tidak mau mendengar penjelasan lebih lama dari putrinya, Leo langsung bergegas keluar dari kamar dengan langkah cepat menuruni tangga. Nausha dan Fiandra pun sama sama mengikuti Leo. Sampai di bawah Leo melihat Ibu nya terus mengguncangkan bahu Arthur sambil menangis.
" Leo, kenapa dengan Ayah mu?" ucap Mathilda sambil terisak.
Leo pun mendekat matanya menatap pada ayah nya, ia mencoba menafsirkan apa yang terjadi pada Ayah nya kini yang sudah memejam kan mata kedua tangan nya turun menjulur ke bawah pada sisi kursi roda, dan kepala Ayah nya sudah menunduk.
" Ayah bangunlah!"
Leo kemudian menempelkan dua jari di kedua lubang hidung Arthur. Lalu memeriksa denyut nadi pada leher dan memperhatikan bagian perut Arthur yang tidak naik turun. Leo belum yakin apa mungkin Ayah nya kini sudah menanggal?
__ADS_1
" Segera telepon Dr. Willy CEPAT!" ucapnya Leo sangat panik.
Fiandra dengan cepat menghubungi Dokter keluarga Hilmar.
Leo membathin dirinya berharap tidak terjadi apa apa pada Ayah nya, ia masih tetap berfikir positif walau pun kini Ayahnya sudah tidak ada detak jantung lagi.
Hingga 15 menit Dokter Willy Sampai dan segera memeriksa Arthur, Fiandra Mathilda juga Nausha berdiri ketiganya berdiri sambil merangkul menunggu hasil pemeriksaan Dokter Willy.
Dokter Willy memeriksa bagian dada Arthur tak ada detak jantung terdengar, Dokter Willy pun menggelengkan kepala dan memberi keputusan.
" Maaf Tuan Leo, Tuan Arthur Hilmar sudah tiada."
Mathilda Nausha dan Fiandra mendengar hasil Dokter Willy kaget dan merasa tidak percaya terutama Mathilda dan Nausha.
" Apa? kau yakin Dokter dengan hasil pemeriksaan Dokter?" ucap Leo marah.
" Tuan Arthur sudah meninggal 30 menit yang lalu."
" Tidak mungkin Dokter..ini pasti salah." balasnya.
" Tuan boleh bawa kerumah sakit saja agar lebih pasti."
Mathilda langsung meraung nangis sedih, Nausha menangis dengan menutup mulut nya, sedangkan Fiandra menangis sambil mendekat dan mendekap tubuh suami nya mengusap bahu Leo.
" Ayah..Ayah tidak mungkin meninggal!"
Leo mengurai dekapan dari istrinya lalu jongkok seperti bersujud meletakan kepala nya di atas kedua paha Ayah nya sambil menangis.
" Ayah...!!!"
,
,
,
,
,
Pemakaman Arthur pun selesai semua para teman teman dan rekan rekan Arthur yang hadir ke pemakaman serba berpakaian hitam kembali pulang. Kini hanya tersisa Leo, Fiandra, Mathilda juga Nausha. Semua masih menangis sesegukan Leo sangat terguncang atas kepergian Arthur.
__ADS_1