I APOLOGIZE

I APOLOGIZE
Menghindar


__ADS_3

Clementia masih setia mendengar cerita Affandi yang berdiri sambil menyandarkan bokong nya di sisi meja kerja Affandi sampai akhir. Udara malam semakin terasa dingin hingga membuat Clementia mengusap usap kedua lengan nya mengusir rasa dingin. Ia masih ingin bertanya kesediaan Affandi dengan wanita yang akan di jodoh kan untuk Affandi.


" Lalu..apa kau bersedia menikah dengan gadis pilihan Kakek mu?"


Affandi seketika tergugu dengan pertanyaan ibunya mengenai kesediaannya menerima wanita pilihan Kakek nya untuk di jodohkan, ia sendiri kenapa tidak terlalu memikirkan hal itu, bahkan tidak begitu penasaran bagaimana rupa gadis itu. Ia malah lebih memikirkan perasaan Nausha dan diri nya apalagi di tambah kesibukannya mengurus perusahaan hingga ia sedikit melupakan.


" Aku bahkan belum lihat bagaimana rupa gadis itu Bu." Jawab nya dengan menyandarkan badan di sandaran kursi.


" Dia cantik..wanita masa kini, gaya nya sangat modis. Ibu baru menilai penampilan nya saja. Beda dengan Nausha yang ibu lihat natural dan sederhana.


Affandi lalu tersenyum dengan suara dengusan dari hidungnya.


" Nampak nya Ibu menyukai Nausha."


Hati clementia tidak menyangkal ucapan putranya karena awalnya ia menyetujui perjodohan Affandi.


" Oiya apa nama belakang Nausha, Affandi?"


" Hilmar, Nausha Freya Hilmar."


" Hilmar?" Balas Clementia dengan mengangkat kedua alis nya. "Setahu Ibu.. nama Hilmar adalah nama dari keluarga terpandang, apa ada keluarga Hilmar hanya kalangan biasa saja?"

__ADS_1


" Aku sudah datang melihat sendiri keadaan keluarga Nausha, Bu. Hanya kebetulan saja nama belakang Nausha, Hilmar."


" Mm bisa juga..kembali dengan pertanyaan Ibu tadi..kau sudah siap.menerima perjodohan ini? dan apa kau siap melepas Nausha?"


Affandi mengusap dagu nya, jujur ia masih mempertimbangkan nya, hampir dua tahun bersama Nausha belum tentu ia bisa melepas bayang bayang Nausha. Affandi akhir nya menjawab memberi keputusan nya.


" Aku siap menerima perjodohan ini, Bu. Dan aku akan melepas Nausha..tapi butuh waktu, karena beberapa Minggu kedepan masih ada proyek yang belum selesai dan aku masih sibuk."


" Iya..kerjakanlah dulu pekerjaan mu, baru selesaikanlah! satu persatu. Ya sudah! Ibu kembali ke kamar dulu." sambil mengusap pelan bahu Affandi.


Clementia mengakhiri percakapan dengan Affandi Karena rasa kantuk mulai menghinggapinya.


" Baik Bu.." Affandi mengangguk.


" Segeralah istirahat, jangan terlalu capek bekerja!"


Ibu Affandi keluar menarik pintu dan tidak di rapat kan hingga masih tersisa sedikit celah.


,


,

__ADS_1


,


,


Nausha setelah mengantar Ibu Affandi sampai mobil ia kembali ke ruangannya. Ia duduk sambil mengingat ucapan Ibu Affandi apa masih ada kesempatan mempertahankan pernikahan ini, diri nya juga mengingat pesan Nenek nya, tetap pertahankan.


" Ya Tuhan, bisa kah kami tetap bersatu?"


Nausha memohon walaupun sudah tidak ada harapan. Tapi ia berubah lagi permohonannya itu Nausha kembali pasrah. Tapi ia meminta kalau perpisahan ini terjadi untuk di kuatkan dirinya dan kembali menjadi Nausha yang dulu menjalani hari hari nya seperti sebelum bertemu dengan Affandi.


Hasil akhir hati nya, Nausha akan tetap melayani suaminya sampai Affandi memutuskan perceraian sesuai perjanjian mereka pernikahan yang tidak akan selamanya.


Affandi masih sampai saat ini pun belum memutuskan perceraiannya dengan Nausha ia sudah 3 Minggu ini sangat di sibukkan dengan pekerjaan nya. Affandi sering pulang larut malam, bahkan tidak pulang kesibukannya itu juga ia memang menyiapkan dirinya untuk melepas Nausha agar tidak terlalu beban. Sering nya pulang larut malam ia ingin menghindar kontak mata dengan Nausha, tapi ia diam diam suka menghubungi Susan di kantor menanyakan Nausha pada Susan apa saja yang di lakukan Nausha selama ia bekerja.


Dan Susan memberitahukan Nausha selalu pulang tepat waktu. Dan menurut laporan pelayan rumah Nausha beberapa kali menunggu Affandi pulang sampai pukul 2 pagi dan bila ia tahu Affandi tidak pulang baru istrinya istirahat.


Hingga malam itu Affandi pulang larut malam saat kaki nya melangkah ingin menuju ke kamar nya ia sempat melirikkan mata nya pada meja makan, Affandi lalu menghampiri meja ingin melihat masakan Nausha terlihat utuh, istrinya menyediakan makan malam untuk nya.


Affandi terdiam menatapi beberapa hidangan makanan di meja. Ia lalu menarik kursi dan ingin makan masakan Nausha. Affandi menikmati makanan buatan Nausha entah memang ia lapar karena harum masakan itu benar benar menggugah seleranya.


Affandi selesai makan ia berfikir tentang Nausha terbuat dari apa hati istrinya itu,

__ADS_1


tiba tiba perasaan nya seperti berat melepaskan Nausha.


Tapi ia kembali mengingat perjodohan nya, keputusan Kakek dan Ayah nya ia akan turuti. Tak mau menambah beban pikiran nya Affandi beranjak lalu ia menuju kamar nya ingin segera istirahat.


__ADS_2