
Pagi hari nya Nausha sudah menyiapkan sarapan untuk Affandi setelah selesai mengurus keperluan suaminya Nausha sudah mengenakan baju yang di beri oleh Affandi ia menunggu Affandi turun dan sarapan berdua.
Saat Affandi mulai menuruni tangga matanya sudah melihat Nausha dengan baju yang di beli untuk istrinya itu nampak sangat cocok di tubuh Nausha juga warna baju itu menampakan kulit Nausha yang putih menambah cerah kulit Nausha, tapi Affandi hanya simpan saja kekaguman pada istrinya rapat rapat.
Nausha yang masih berdiri di sisi meja makan tidak sadar Affandi sudah berhenti di belakang tubuh Nausha yang sedang menelpon anak buah nya.
" Ok..terimakasih kasih ya Mira."
Setelah memutuskan sambungan ponsel, Nausha membalikkan badan ia kaget Affandi sudah berada di belakang nya dengan jarak beberapa senti.
" Aaa..Bapak ngagetin saya."
Affandi hanya tersenyum hati nya cukup senang Nausha di buat kaget oleh nya.
" Kenapa harus kaget? ayo sarapan!" jawab nya santai.
Affandi dan Nausha sudah berada di dalam mobil kedua nya hanya mendiamkan masing masing, Nausha dalam pikirannya sibuk memikirkan cafe dan sebagian dibenak nya juga bertanya tanya Affandi ingin mengajak nya kemana dengan siapa ia dan Affandi akan bertemu, dan urusan hal apa ia harus menemani Affandi.
" Nausha.."
" Iya Pak Affandi." jawabnya sambil menoleh pada Affandi.
" Saya akan mengenalkan klien saya pada kamu namanya Tuan Fidel dan nanti..bila sudah bertemu bersikap lah kau sebagaimana mestinya terhadap saya."
" Iya Pak Affandi saya mengerti."
Affandi lalu mengangguk.
Affandi menikahi Nausha memang ini lah tujuan nya membawa Nausha agar klien nya tahu siapa pendamping Affandi, karena dengan status sudah menikah Affandi merasa lebih sempurna lagi tentu dalam karir nya dan juga demi kesuksesannya dengan status sudah menikah para klien akan sangat lebih mempercayai Affandi. Semua klien dan para kolega Affandi banyak yang sudah menikah karena bagi para pengusaha sangat mempercayai dan meyakini pendamping atau istri itu memberi pengaruh yang sangat kuat untuk kesuksesan suaminya.
Affandi memang menikahi Nuasha tidak dilandasi rasa cinta apalagi dengan memaksa Nausha, tapi Nausha tidak buruk bagi Affandi, ia sangat cocok dan pantas mendampingi Affandi. Yang pasti Affandi akan selalu mengajak Nausha bila ada undangan dari klien atau kolega nya.
Di sebuah restoran di mana klien Affandi sudah menunggu Affandi.
" Aa..Pak Affandi akhirnya kau datang juga."
" Tentu saya akan datang Tuan Fidel, maaf sudah menunggu.."
" Tidak apa."
__ADS_1
Mereka saling berjabatan tangan tentunya Nausha yang berada di samping Affandi diperkenalkan pada Fidel.
" Oiya kenalkan ini istri saya, nama nya Nausha."
" Senang bertemu dengan Tuan dan Nyonya." ucap Nausha.
" Terimakasih." balas istri Fidel.
Istri Fidel pun memberi tangan pada Nausha
mereka kemudian duduk bersama dalam satu meja. Selama berbincang bincang Fidel beberapakali memperhatikan wajah Nuasha hingga di perbincangan Affandi dan Fidel terdiam seperti habis bahan pembicaraan, Fidel mendapat kesempatan ingin bertanya pada Nausha.
" Eum..oiya maaf sebelum nya istri pak Affandi ini wajahnya sudah familiar buat saya."
" O ya?" balas Affandi."
Nausha dalam benak nya bertanya tanya apa maksud perkataan Fidel.
" Familiar bagaimana maksud Tuan Fidel?"
" Iya..apa kamu anak dari orang tua Leonardo Hilmar dan Fiandra?"
Deg
" Sebab wajah istri anda Pak Affandi, mirip dengan istri Leonardo Hilmar yaa..bisa di bilang keluarga Hilmar adalah kolega saya."
Affandi seketika langsung menatap Nuasha yang terlihat agak gugup.
" Oh..maaf Tuan Fidel sa- saya rasa bukan mungkin hanya mirip barangkali euh." balas Nuasha gugup.
Affandi kedua bola mata nya bergerak menatap Nausha kemudian bergantian melirik pada Fidel.
" Tapi..Nausha kamu memang sangat mirip dengan Nyonya Leonardo..ya saya hanya menebak saja."
" Tuan Fidel katakan tadi keluarga Hilmar?"
" Iya Pak Affandi..mungkin orang tua Pak Affandi pasti sangat kenal dengan keluarga Hilmar. coba saja anda tanyakan! Leonardo Hilmar adalah penerus keluarga Hilmar mereka keluarga pengusaha kaya."
" Oiya..? ujar Affandi dan menganggukan anggukan kepala lalu matanya kembali menatap Nausha yang menundukkan kepala.
__ADS_1
" Tuan Fidel sa-saya hanya berasal keluarga biasa saja."
" Iya Tuan Fidel..istri sa-"
Ucapan Affandi terputus karena buru buru Nausha mengalihkan pembicaraan.
" Eum suami ku, aku sudah lapar."
" Oh ya silahkan sebaiknya kita makan dulu." sela fidel
Affandi dalam benaknya pun teringat dengan ucapan sekretarisnya,Jackson. Bahwa Nausha mempunyai nama belakang Hilmar apa benar yang dikatakan sekerterinya itu.
Saat di meja makan Fidel dan istri nya menyantap hidangan dengan nikmat tapi lain dengan Nausha ia nampak tidak menikmati hidangan itu karena rasa gugup yang menggelayutinya.
" Nausha kau terlihat gugup." ucapnya pelan.
" Eugh..gugup? saya biasa saja Pak Affandi."
" Pak Affandi ingin makan apa? biar saya ambilkan."
lanjut Nausha sengaja menawarkan hidangan pada Affandi untuk mengusir rasa gugupnya sekaligus agar Affandi tidak curiga padanya karena Affandi kini terus menatap nya seperti menelisik wajah Nausha.
" Ambilkan saja makanan kesukaan saya."
" Ahh baiklah."
Nausha matanya tertuju pada hidangan soup daging terlihat Affandi tangan Nausha gemetar.
" Kenapa dia sangat gugup tangan nya pun gemetaran?" ucap Affandi dalam hati matanya terus menatap Nausha.
,
,
,
,
,
__ADS_1
,
Setelah pertemuannya dengan klien Affandi dalam perjalanan pulang Affandi dan Nausha kembali terdiam.