
Setelah Nausha mengatakan ia di antar ke cafe nya saja, Enrico melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Nausha terus melamun tidak terasa perjalanan sudah sampai, mobil berhenti di depan cafe.
" Sudah sampai.."
" Euh..? Nausha sadar dari lamunannya matanya mengelilingi sekitar luar dari dalam mobil, benar saja sudah sampai di depan cafe.
" Hey..sudah jangan bersedih!" tegur Enrico.
" Eum..iya."
Namun tiba tiba saja air mata Nausha yang ia tahan agar tidak keluar di depan Enrico lolos begitu saja tanpa ijin nya, dada Nausha masih terasa sesak, Nausha kembali terisak.
" Nausha..sudah jangan kau tangisi!" Enrico tangan nya membelai pucuk rambut kepala Nausha, lalu menghapus air mata Nausha dengan ibu jari nya.
" Istirahatlah kau terlihat lelah!" Ucap nya tersenyum.
" Trimakasih Enrico..!"
__ADS_1
" Biar aku yang bawa tas mu!"
Enrico dan Nausha turun dari mobil, Enrico membawa tas besar Nausha sampai ke dalam cafe. Cafe Nausha sangat sepi dan sudah teratur rapih, bersih, dua orang anak buah Nausha sedang beristirahat. Nausha tidak ingin membangunkan mereka.
" Aku akan buatkan minum untuk mu dulu!"
Enrico menurunkan bangku yang di balik di atas meja, ia duduk menunggu Nausha membuatkan minum untuk nya.
Nausha audah membawa dua cangkir teh hangat di tangan nya, lalu di berikan pada Enrico. Nausha duduk berhadapan dengan Enrico.
" Iya.." Enrico mengangguk, dan sekaligus ingin menjelaskan ada alasan ia kebetulan ingin pulang lewat jalan yang searah rumah Affandi.
" Tadi itu, aku habis bertemu dengan klien, karena sudah malam aku cari jalan yang lebih dekat agar cepat sampai ke apartemen ku" Jelasnya pada Nausha.
" Dan tanpa sengaja aku melihat mu jalan sendirian? Aku tidak bisa membayangkan Nausha ! jalan yang aku lewati sangat sepi bagaimana jika kau sama sekali tidak mendapatkan taxi, kau akan berjalan sejauh itu sampai ke cafe mu?" Enrico langsung menghela nafas pelan.
" Kau boleh saja bersedih tapi pikirkan lah keselamatan mu..! apa kau tidak takut di jalan yang sepi dan gelap bisa saja bertemu dengan orang jahat lalu mencelakai mu..?" Enrico sampai menggelengkan kepala, untung saja Nausha bertemu dengan nya.
__ADS_1
Enrico kemudian meminum teh dan di sisakan sedikit. ia pun harus kembali ke apartemen nya.
" Ya sudah! aku pulang dulu, kalau kau butuh apa apa jangan segan segan untuk menghubungi ku.!" Enrico beranjak dari kursi.
" Baiklah..terimakasih sudah menolong ku."
" Iya.." Enrico mengangguk senyum, namun senyum nya penuh sarat makna.
Enrico sudah meninggalkan cafe, ia langsung pulang ke apartemen nya. Selama di jalan itu ia memikirkan Nausha gadis yang sudah membuat perhatian untuk nya, Nausha sangat cantik, mandiri dan pekerja keras. Bagi Enrico selama hidupnya ia selalu di dekati wanita cantik tentu saja wanita yang mana yang tidak menolak di ajak kencan dengan nya bahkan mau tidur bersama nya. Ia kaya, pengusaha sukses dan tampan. Nausha memang beda dari sekian banyak wanita yang berkelas yang ia ajak kencan.
" Affandi bodoh sekali, melepas Nausha begitu saja!" gumamnya pelan dengan gelengan kepala karena ia tak habis pikir.
" Aku akan membantu mu Nausha! ya...! membantu....kau dan Affandi cepat..bercerai." Enrico kembali tersenyum.
Sebagai pebisnis dan pengusaha sukses, sudah terbiasa membantu tidak mungkin kalau tidak ada imbalan nya, itulah bisnis.
Enrico akan membantu Nausha dengan begitu akan lebih sering bertemu Nausha perlahan ia akan masuk ke hati Nausha dan mengambil hati Nausha. Dan imbalan nya Nausha akan di miliki Enrico.
__ADS_1