
Nausha masih berdiri memandangi mobil Affandi sampai pagar besi saat satpam rumah Affandi bergegas mendorong pagar itu terlihat satpam membungkukkan badan pada Tuan nya yang hendak keluar. Mobil Affandi sudah hilang dari pandangan Nausha. Nausha kembali masuk menuju ke kamarnya.
Di dalam kamar Nausha sendiri bingung apa yang ingin dia lakukan sekarang matanya melirik pada jam dinding sudah pukul 08.30 malam. Ini malam Minggu, pikiran Nausha melayang biasanya setiap malam Minggu ia melewati bersama teman temannya. Ia teringat ponsel nya, dari sejak pagi ia tidak tidak memainkan ponselnya karena tidak sempat karena Pagi tadi ia sudah di rias pengantin melaksanakan hanya sekali seumur hidup yaitu menikah dengan Affandi sampai selesai pemberkatan nikah pikirannya hanya tertuju pada hidup barunya menjadi istri Affandi. mana sempat dirinya memainkan ponsel nya.
Nausha buru buru meraih tas selempang nya yang tergantung di belakang pintu kamar tangan nya merogoh ke dalam tas mencari ponselnya, setelah ponsel itu di genggamnya ia mengaktifkan hp nya Benar saja sederet pesan dan panggilan telepon untuk nya sangat banyak ada 10 pesan dan 10 panggilan telepon muncul di hp berlogo apel yang di gigit itu. Nausha mulai membaca pesan itu satu satu, ia juga memeriksa panggilan dari anak buah cafe nya Mira.
" Kak..Kk di mana cafe KK rame nih"
Pesan dari Mira
" Sha lu dimana? kita kita Lg di cafe lu."
Pesan dari salah satu teman dekatnya.
Setelah membaca pesan terutama pesan dari anak buah nya ia tersenyum lebar karena cafe nya banyak pengunjung ia ingin datang melihat cafenya.
Dengan cepat ibu jari nya membalas pesan untuk Mira.
" Mir..maaf KK seharian ada urusan penting, wahh sukur lah kalau cafe KK banyak pengunjungnya." pesan langsung di kirim Nausha.
Hanya 10 detik Mira sudah membaca pesan dari nya. Nampak tertera kalau Mira sedang mengetik membalas pesan untuk nya.
" Makanya KK datang deh kita kewalahan di cafe."
Nausha membaca pesan dari Mira nampak wajah nya sangat senang. Namun untuk datang melihat Cafe nya malam itu juga dia ragu karena harus meminta ijin dulu pada Affandi dan ini pun sudah malam, apa mungkin dirinya harus datang ke cafe nya malam ini juga? Nausha menjadi ragu tapi dirinya tidak sabar untuk menunggu esok hari ia sangat penasaran seberapa ramaikah cafenya di kunjungi, apa lagi ini malam Minggu.
" Duh..gimana ya?" Nausha berucap pelan sambil duduk di sisi ranjang tempat tidur.
Sejak terjadi nya anak buah Affandi ingin membakar Cafenya rupanya menjadi pusat perhatian orang orang yang menyebabkan menjadi minat untuk mengunjungi cafe nya yang baru di buka.
" Memang yaa!..di balik kejadian pasti ada hikmahnya..tidak sangka cafe ku malah ramai." ucapnya dengan tertawa kecil sambil menggigit pelan kuku jempolnya mata nya menatap layar ponselnya.
__ADS_1
" Sebaiknya aku telpon Affandi dulu, moga moga dia menginginkan nya, tapi..? iya ya aku belum punya nomornya."
Nausha terus mencari cara untuk bisa menghubungi Affandi sekarang juga.
" Ah iya ya..mungkin Bu Susan punya nomor Affandi."
Tanpa berlama lama Nausha segera keluar dari kamarnya untuk menemui Susan. Nausha berjalan matanya sambil mencari keberadaan Susan, rupanya Bu Susan sedang membuat kopi untuk satpam rumah yang sedang berjaga.
" Bu Susan.."
Susan menoleh pada Nausha yang mendekatinya tangan nya sambil mengaduk kopi dengan sendok kecil.
" Bu Susan..apa Bu Susan punya nomor
Pak Affandi?"
" Nomor Tuan Affandi?" tangan nya seketika menghentikan mengaduk kopi hitam itu.
Dengan permintaan Nausha, Susan agak ragu memberikan nomor Affandi dirinya juga takut kena kesalahan dengan Tuan nya karena sembarang memberi nomor ponsel Tuan nya, namun ia juga berfikir tidak salah juga karena Nausha menghubungi Affandi yang sudah menjadi suami Nausha.
" Ibu punya nomor nya, Nak Nausha. Tapi..Ibu takut kalau ibu memberi nomor Tuan Affandi sembarangan. Memang nya ada apa?"
" Itu Bu..saya mau meminta ijin keluar malam ini juga."
" Keluar...mau kemana?"
" Mau melihat usaha cafe saya Bu, karena cafe saya sedang ramai anak buah saya kewalahan mereka meminta saya untuk datang."
" Nak Nausha menurut Ibu..sebaiknya sebentar saja kalau Nak Nausha ingin melihat cafe Nak Nausha..jangan lama lama nanti kena marah sama Tuan."
" Iya Bu Susan..saya mengerti."
__ADS_1
" Tapi Nak Nausha..ibu belum mau memberikan nomor Tuan..begini saja, sebaiknya biar Ibu yang telepon Tuan pakai hp Ibu, nanti kamu bicara dengan Tuan."
Nausha mengangguk dan tersenyum merasa lega.
" Iya Bu Susan.."
Susan kemudian menghubungi Affandi yang masih dalam perjalanan menuju hotel.
" Ada apa Bu Susan?" sambil menyetir.
Affandi nampak menyimak menerima telepon dari Susan matanya sambil fokus menyetir mobil.
" Berikan ponsel nya sekarang."
Affandi dan Nausha kini sedang bicara melalui ponsel. Percakapan keduanya hanya sampai 5 menit saja karena mobil yang di kemudikan Affandi sudah Sampai di hotel yang di tujunya.
" Saya tidak ijinkan karena sudah malam."
Tanpa basa basi Affandi langsung menutup telepon nya. Ia tidak memberi kesempatan Nausha bicara lagi. Mobil Affandi sudah masuk ke pelataran parkir mobil.
,
,
,
" Gimana? Tuan memberikan ijin?"
" Tidak boleh Bu..ya sudah saya kembali ke kamar saya, Terimakasih Bu Susan."
Nausha sedikit kecewa atas ijin nya yang ditolak Affandi, Ia masuk ke kamar ingin istrirahat saja sambil memainkan ponselnya membalas pesan untuk Mira dan juga pada teman temannya.
__ADS_1