
" Eum..Enrico kau mau minum apa?"
Nausha cukup terbuai mendengar ucapan Enrico hingga beberapa detik namun hati Nausha bisa di kendalikan dengan cara menawarkan minum pada Enrico ia harus menyangkal ucapan Enrico yang mampu menggetarkan dadanya bagaimana pun ucapan Enrico tidak mau di masukan ke dalam hati yang bisa menghanyutkan.
" Kopi hitam saja.."
" Sebentar ya..!"
Setelah menawarkan minum pada Enrico, Nausha berusaha menutupi wajah sipu malunya dengan wajah nampak biasa saja, Nausha langsung beranjak dari kursi kasir lalu kebelakang untuk membuat kopi hitam untuk Enrico.
Setelah membuat kopi itu, Nausha tidak melihat keberadaan Enrico di sisi meja kasir namun kedua bola mata nya langsung melihat Enrico rupanya sudah pindah berada di meja tempat favorit nya. Nausha langsung menghampiri meja Enrico mengantarkan secangkir kopi hitam itu.
" Ini kopi nya.."
" Terima kasih Nausha."
Setelah meletakkan kopi untuk Enrico Nuasha harus membereskan sisa sisa bekas pengunjung cafe.
" Maaf biar aku bersihkan meja ini dulu.."
Tangan nya langsung membereskan piring dan gelas di meja setelah pengunjung cafe meninggalkan meja yang kini sedang di tempati Enrico.
Enrico menatapi tangan Nausha yang sedang membereskan meja itu lalu kedua bola matanya bergerak tertuju pada wajah Nausha yang tubuh nya sedikit membungkuk membereskan meja, ia memperhatikan wajah Nausha membuat Enrico tersenyum.
Setelah membereskan meja Nausha ingin ke belakang membawa piring gelas kotor.
" Meja nya sudah bersih, aku kebelakang dulu.."
" Silahkan Nausha tapi temani aku dulu ya." pinta Enrico.
" Baiklah.."
Nausha tidak bisa menolak permintaan Enrico karena sebenarnya ia harus membantu anak buahnya tapi karena ia harus menghargai Enrico sebagai pelanggan di cafe nya.
Nausha Kembali menemani Enrico ia kini duduk satu meja dengan Enrico.
__ADS_1
" Maaf dengan ucapan ku tadi."
" Ucapan mu yang mana Enrico?" Nausha berpura pura.
" Aku lancang mengatakan bahwa aku nyaman bila bicara dengan mu."
" Tidak apa apa Enrico..kalau memang aku bisa membuat mu nyaman bicara dengan ku berarti aku orang menyenangkan bukan?"
" Iya.."
" Aku memang seperti itu pada siapa pun pada teman teman ku, bahkan pada anak buah ku agar mereka nyaman bekerja di cafe ku."
" Nausha aku ingin bertanya pada mu."
" Apa itu Enrico?"
" Bagaimana dengan suami mu? apa dia nyaman dengan mu atau sebaliknya?"
Nausha langsung terdiam, karena ia tidak tahu bagaimana harus menjawab nya.
" Sudah lah tidak perlu juga kau jawab." Balas Enrico ia sudah tahu jawaban nya tanpa Nausha menjawab pertanyaan nya, kemudian matanya melirik pada jam yang melingkar di tangan nya.
" Baiklah Nausha aku harus kembali ke kantor ku..terimakasih untuk kopi nya untuk pembayaran nya aku akan transfer ke rekening mu."
Enrico kemudian beranjak dan melangkah pergi meninggalkan meja, Nausha langsung membawa cangkir kopi yang hanya sisa setengah Enrico minum ke belakang.
,
,
,
,
Pagi hari nya Affandi dan Nausha sudah bersiap siap untuk berangkat ke rumah orang tua Nausha, rasa penasaran Affandi ingin tahu lebih jelas bagaimana keluarga Nausha yang sebenarnya. Affandi sengaja membawa mobil tanpa supir dan selama menempuh perjalanan itu Nausha berupaya agar diri nya tetap tenang dan berharap semoga rencana yang di buat Nenek nya berhasil untuk mengelabui Affandi. Tapi yang Nausha khawatirkan apakah Affandi bisa di kelabui oleh Nenek nya itu. Karena Affandi yang dinilai Nausha ia sangat pintar.
__ADS_1
Sampai lah mobil Affandi tiba di daerah pedesaan tempat dimana Nausha dan Nenek nya tinggal, dan ketika mobil yang di kendarai Affandi sudah memasuki daerah pedesaan Affandi sangat kagum dengan daerah di sekitarnya nampak tenang suasananya pemandangan nya sangat indah udara nya pun sangat sejuk dan alami. Affandi menilai daerah tempat Nausha tinggal seperti belum pernah terjamah oleh tangan tangan masyarakat luar atau pariwisata.
" Wow tempat ini sangat indah rupanya." Ucap nya dalam hati sambil tangan kanan nya melepas kacamata rayben di hidung bangirnya.
" Kau tinggal di sini?" Affandi bertanya seperti tidak percaya.
" Iya Pak Affandi."
" Tempat mu ini..masih alami dan sangat kampung udik sekali "
Affandi mengagumi daerah Nausha tapi juga di akhir kalimat nya terdengar merendahkan Nausha.
" Iya daerah ini walaupun kampung dan udik tapi masyarakat sini sangat menjunjung tinggi moral dan harga diri terutama menjaga etika, apa bila ada orang luar yang datang berkunjung ke sini harus mematuhi aturan Pak, apalagi kampung ini yang Pak Affandi lihat sangat alami jangan sampai ada tangan usil yang merusak nya."
" Hhm..tapi kalau sudah bicara uang apa masih bisa dipertahankan tentang harga diri dan moral.." ucap nya sombong.
" Tergantung Pak tidak semua orang mau di nilai dengan uang, masyarakat sini lebih memilih ketenangan dan damai.."
" Ya..itu hanya teori, saya sebagai orang pebisnis dan pengusaha sudah berpengalaman mengembangkan usaha di beberapa tempat tentu nya bekerjasama dengan kepala daerah.."
" Maksud Bapak..Bapak mau nyogok dengan kepala daerah kampung saya untuk membangun usaha Bapak dengan beberapa para klien Bapak."
" Bisa jadi.."
" Kalau memang Bapak ada niatan ke situ saya adalah orang pertama yang akan menolak nya."
" Oiya..? hhm memang nya kau siapa? bisa bicara seperti itu, keluarga mu orang penting kah?"
" Eugh? eum..bu- bukan siapa siapa Pak."
Nausha seketika harus hentikan perdebatan ini ia teringat dengan rencana Nenek nya, jangan sampai perdebatan dengan Affandi tidak sadar malah membuka kedok nya.
Nausha langsung menunjuk arah pada Affandi bahwa rumah nya sudah dekat.
" Sedikit lagi sudah sampai Pak rumah saya."
__ADS_1