I APOLOGIZE

I APOLOGIZE
Kekhilafan Affandi


__ADS_3

Suara tawa juga wajah penuh ceria Leo, Fiandra, Mathilda dan Nausha dalam restoran itu menjadi sebuah bukti nyata bahwa mereka memang sedang merayakan kebahagiaan mereka, terlihat di meja itu keluarga Hilmar semakin menghangat. Leonardo masih betah menikmati kebersamaan dengan 3 wanita yang terpenting dalam hidupnya. Sampai sampai tidak sadar kebersamaan mereka menghabiskan waktu hampir 3 jam keluarga Hilmar belum beranjak pergi dari restoran. Menu utama makan siang telah berganti makanan penutup, Leo sengaja meminta kembali pada pelayan memesan makanan ringan untuk menemani obrolan asik mereka.


Sebagian para pengunjung restoran yang sama sama sedang menikmati hidangan makanan pun ikut tersenyum kecil dengan canda tawa dari keluarga Himar yang menjadi perhatian mereka. Di media televisi pernah beberapa kali muncul wajah Leonardo nampak dingin saat di wawancara tapi rupanya wajah asli Leo yang saat ini di saksikan oleh pengunjung restoran sangat beda, Leo selalu tersenyum bahkan bisa tertawa lepas bersama keluarga nya.


,


,


,


,


Masih di kota yang sama tepatnya di pusat kota sebuah bangunan gedung yang menjulang tinggi dan megah, gedung yang memiliki smart system, Ellison GroupTower berlantai 67 itu menunjukan bagaimana sang empunya gedung merupakan sosok yang sukses, smart dan kreatif, dialah Affandi Ellison. Nampak dalam kantor di desain nuansa futuristik dan modern itu terlihat sangat nyaman dan betah untuk bekerja.


Saat para karyawan sedang sibuk sibuknya bekerja, justru Affandi sang CEO di dalam ruangannya berdiri membelakangi pintu lagi menatapi pemandangan kota dari balik tembok kaca. Affandi sudah setengah jam terdiam ia sedang melamun, melamunkan sosok Nausha.


Terhitung sudah 2 Minggu Affandi belum mendengar kabar nya Nausha lagi. Sejak Affandi mengusir Nausha malam itu lambat lain mulai timbul rasa penyesalan. Affandi mengira Nausha akan memohon mohon pada nya meminta maaf dan akan menjelaskan kenapa malam itu Nausha pulang sampai larut malam tapi rupanya tidak, itu yang Affandi lamunkan. Sejak Nausha benar benar pergi meninggalkan rumah entah kenapa ia merasakan mulai kesepian, terasa beda dalam rumah nya.


Walaupun ia seperti terlihat asik memandangi pemandangan kota anak anak gedung terlihat kecil karena Affandi berada di ruangan nya di lantai paling tinggi. Tapi sebenarnya tatapan nya kosong.

__ADS_1


Affandi menarik nafas dan dihembuskannya ke udara melepaskan rasa sesak di dada nya, bayangan bayangan Nausha belum saja hilang padahal ia harus mengembangkan ide ide di pikirannya untuk perusahaan nya, apalagi proyek yang lagi di kerjakan harusnya ia fokus pada proyek itu. Affandi sedikit mengoreksi apa malam itu ia terlalu kejam pada Nausha, mengusir Nausha begitu saja tanpa memberi kesempatan Nausha sebuah alasan yang menyebabkan istrinya pulang sampai larut malam dan tanpa memberi kabar.


Hanya hal sepele tapi kenapa ia begitu emosi sampai perlakukan kasar pada istrinya. Padahal selama istrinya tinggal Nausha selalu melayani dirinya sangat baik, Nausha selalu menurut. Perjanjian untuk mengakhiri pernikahan yang tidak selamanya memang kehendak dirinya dan Nausha pun sepakat tapi dirinya malah memutuskan nya dengan cara mencari kesalahan Nausha yang menurutnya tidak etis. Harus nya di akhiri dengan baik baik karena memang Affandi yang meminta bantuan pada Nausha bersedia menikah dengan nya.


" Arrggghhh...sialan!" Affandi teriak seraya menyugarkan rambut nya kasar dengan jari jari kedua tangannya.


Dirinya merasa kesal atas kebodohannya harusnya ia tidak bertindak se enak nya saja, Ia sungguh tidak bisa mengendalikan dirinya malam itu.


Affandi otaknya belum bisa bekerja dengan baik tapi ia harus kembali bekerja, bagaimana pun.


" Agh..sudah lah! aku memang lagi khilaf malam itu..sebaiknya fokus saja hari ini." Affandi menyemangati dirinya.


Affandi lalu kembali ke meja kerja nya ia mengambil segelas air putih dan di minum nya agar segar pikiran nya. Air di gelas itu diteguk nya sampai habis. Merasa tubuh dan otaknya sudah mulai membaik, Affandi membenarkan posisi duduknya lebih tegap kacamata baca nya di pakainya lalu membuka laptop dan mulai fokus menyelesaikan pekerjaan nya.


Tok.tok


" Masuk..!"


" Selamat siang Tuan Affandi.."

__ADS_1


" Hmm.." jawabnya mengangguk tanpa melihat Jackson yang membawa berkas berkas.


" Tuan Affandi, ini berkas berkas laporan proyek mingguan dan dan hasil pengembangan." Ucap Jackson.


Affandi hanya melirik berkas berkas itu masih di tangan Jackson.


" Hhm..letakkan saja nanti akan saya periksa."


" Dan saya juga melaporkan surat perceraian sudah di layangkan untuk Nyonya Nausha, dan pengacara anda bilang Minggu depan mulai sidang."


Affandi langsung menutup laptopnya, kedua bahunya ia lemaskan, dirinya Kembali berubah mood nya, menjadi buruk.


" Baiklah..terimakasih Jackson!"


Melihat boss nya seperti tidak semangat, Jackson ragu untuk membahas masalah laporan lain nya.


" Ada yang bisa saya bantu Tuan Affandi?"


" Tidak ada..kembali lah bekerja!"

__ADS_1


" Baik Tuan Affandi." Jackson mengangguk.


Setelah Jackson keluar dari ruangan, Affandi langsung menyandarkan badan pada sandaran kursi, tangan nya memijit mijit dahi nya. Mendengar laporan yang ia terima Minggu depan mulai sidang perceraian nya dengan Nausha, membuat Affandi kembali tidak fokus bekerja.


__ADS_2