
" Bagaimana, dia menerimanya?"
" Iya Tuan Affandi."
" Hahh...baguslah." Affandi menarik nafas lega.
" Oiya Tuan, tadi Nyonya sempat meminta alamat kantor ini."
"Alamat kantor?"tanya nya terkejut.
" Iya Tuan, dan saya memberikan nya."
Jackson sendiri tahu, Affandi memang belum pernah mengajak Nausha ke kantor justru kekasih nya yang beberapa kali datang ke kantor Affandi. Tuan nya benar benar keterlaluan, tidak pernah menganggap istrinya sendiri, dalam benak Jackson
" Untuk apa dia menanyakan alamat?"
" Kurang tahu juga, Tuan, apa mungkin Nyonya punya rencana."
" Ya sudah, terima kasih!"
,
,
,
,
,
Sebuah taxi berhenti tepat di depan gedung Ellison group. Nausha sebelum turun ia memastikan alamat kantor Affandi yang di beri Jackson itu benar. Siang itu Nausha memang berniat ingin mengembalikan surat rumah dan tanah dari Affandi. Nausha berdiri pandangannya menyusuri gedung kantor milik suaminya yang baru pertama kali ia kunjungi. Nausha sempat kagum bentuk gedung yang sangat megah dan menjulang tinggi dari antar gedung gedung lainnya.
Nausha mulai melangkah pasti memasuki gedung walau sebenarnya ia sangat gugup kedua telapak tangan nya terasa dingin. langkah Nausha terhenti ketika security menghampirinya.
" Selamat siang Nyonya.."
" Eugh selamat siang."
" Maaf Nyonya tujuan ingin kemana?"
__ADS_1
" Saya ingin ke bertemu dengan Tuan Affandi Ellison.."
" Maaf anda siapa ingin bertemu dengan beliau?"
Nausha seketika merasa dia bukanlah siapa siapa karena Affandi memang tidak pernah membawa duri nya ke kantor suaminya sendiri, apalagi mengenalkan nya sebagai istri pemilik gedung ini, jadi wajar tidak ada yang tahu siapa dia sebenarnya.
Nausha tersenyum miris pada security itu.
" Nama saya Nausha, tujuan saya kesini membawa surat surat yang harus saya kembali kan pada Pak Affandi.." tangan nya sambil menunjukan map besar pada security.
" Tapi Tuan Affandi sedang keluar.."
" Kalau begitu, biar saya titipkan pada sekertaris nya saja.."
" Baik Nyonya mari ikut saya ke lantai 58..!"
Security langsung mengantar Nausha ke lift, dengan sopan ia menekan tombol 58. Setelah sampai pada lantai yang di tuju, Nausha kembali terkagum bagian dalam kantor yang modern interior ruangan nya. Security masih mengiring Nausha sampai meja sekertaris Affandi terdapat wanita yang sangat cantik yang terlihat sangat sedang serius bekerja.
" Ibu Rowina..Ibu ini ingin menitipkan surat surat untuk Tuan Affandi.
" Selamat siang.." Ucap Nausha.
" Saya sebenarnya ingin mengembalikan langsung pada Pak Affandi, tapi sepertinya beliau sedang keluar apa bisa titipkan saja pada anda..?"
" Apa ini Nyonya?"
" Ini adalah dokumen milik pribadi Pak Affandi, tolong langsung berikan saja, kalau beliau sudah di tempat."
" Oh..begitu baiklah..! nanti langsung saya berikan. Eum maaf anda siapa?"
" Bukan siapa siapa, bilang saja ini dari Nausha Freya Hilmar."
" Apa sebaik nya anda berikan saja langsung mungkin Tuan Affandi sebentar lagi akan kembali Nyonya, kalau memang ini dokumen pribadi Tuan Affandi..dan saya akan nelpon beliau."
* Eum..tidak usah, karena saya juga sibuk, tidak bisa lama lama."
" Apa Nyonya sudah ada janji dengan beliau sebelum nya?"
" Tidak ada saya memang belum buat janji dengan Pak Affandi"
__ADS_1
" Baiklah nanti saya sampaikan pada beliau!"
" Terimakasih ya!"
" Iya Nyonya!"
Nausha sudah duduk di dalam taxi yang sengaja Nausha minta untuk menunggu nya, setelah Taxi itu melaju tak lama mobil Affandi masuk. mereka selisih waktu 5 menit.
Affandi dan Jackson baru saja masuk kedalam ruangan mereka habis memantau pelaksanaan proyek perusahaan Affandi.
Tak lama sekertaris yang bernama Roweina masuk membawa berkas berkas yang di titipkan Nausha.
" Selamat siang Tuan, ini ada titipan buat Tuan."
" Apa ini?" mengernyitkan alis nya.
" Ini dari seorang wanita bernama Nausha Freya Hilmar. Tuan."
Deg
" Nausha dia tadi kesini?" gumamnya pelan.
" Kenapa dia tidak memberikan nya langsung pada saya?"
" Maaf Tuan dia katakan tidak bisa menunggu karena Nyonya Nausha tidak bisa lama lama."
" Kamu bodoh atau bagaimana? kenapa tidak kamu tahan sampai menunggu saya?"
Glek, Roweina langsung gemetaran, ia sulit menelan saliva nya karena tidak menyangka ia mendapat marah dari boss nya itu.
" Maaf Tuan, saya memang sudah katakan menyuruh untuk menunggu..-"
" Dasar goblok! kerja begitu saja tidak becus, kamu sudah berapa tahun bekerja di sini?"
Roweina langsung menunduk kan kepala ia hanya diam tidak bisa membantah, ia ingin memberi alasan tapi rasa nya percuma Affandi tetap menyalahkan nya.
" Ma-maaf kan saya Tuan!"
" Keluarlah!"
__ADS_1