
Dua Minggu berlalu sudah, setelah Nausha meninggalkan rumah Affandi, ia berusaha melupakan kejadian malam itu di mana Affandi telah mengusir nya. Nausha menyibukkan diri nya pada usaha cafe dan cabang cafe nya untuk mengalihkan rasa sakit dan tertekan nya selama hidup dengan Affandi. Ia sudah ia buang jauh jauh, Nausha tak mau lagi bersedih atau menangisi semua yang pernah di alami bersama Affandi.
Nausha menyadari yang pernah terjadi dalam hidupnya dengan Affandi adalah hal kebodohan nya. Perlahan Nausha menata hati nya tidak akan mengingat ingat lagi tentang Affandi, yang lalu biarkan lah berlalu. Nausha hanya ingin menata masa depan nya jadi lebih baik dan tidak akan mengulang kebodohannya dan kesalahan nya kembali.
Nausha pun sudah menceritakan semua pada Nenek nya, tidak bisa pertahankan pernikahannya dengan Affandi. Nausha sudah trauma. Dan selanjutnya ia tinggal menunggu surat perceraian yang akan di layangkan untuknya dan sidang perceraiannya.
Semua di balik kejadian pasti ada hikmah nya, Nausha mendapatkan berita baik tentang Ayah Ibu nya, Leonardo Hilmar dan Fiandra, yang di kabarkan ingin bertemu dengan putri satu satu nya. Mathilda rupanya menceritakan kembali bagaimana kisah Nausha sampai menikah dengan putra dari keluarga Ellison.
Nausha tidak mau menyia nyiakan kesempatan untuk bertemu dengan kedua orang tuanya hanya saja Nausha sampai tidak percaya Ayah nya sudah menyesali semua nya. Tuhan telah menjawab semua doa doa nya. Sekejam apapun Ayah nya, sebenci apa pun Ayah nya terhadap nya, secuil pun Nausha tidak pernah memendam nya. Ini adalah kesempatan untuk memperbaiki hubungan nya dengan Ayah kandung nya.
Nausha di kabarkan oleh Mathilda ia harus kembali pulang karena Ayah Ibu nya sedang berada di rumah Nenek nya, orang tua nya menunggu Nausha. Pagi pagi sekali Nausha berangkat ke desa terpencil di mana ia dan Nenek nya tinggal. Sudah 10 tahun Nausha belum bertemu lagi dengan orang tuanya.
Leonardo Hilmar sudah nampak tua, tapi belum pudar kegagahannya, tubuhnya masih tegap berdiri, dan aura kepemimpinannya masih terlihat kental dan rahangnya pun tegas. Sedangkan Fiandra wanita yang sangat lemah lembut dan bersahaja selalu setia mendampingi Leonardo, masih terlihat cantik walau usia nya sudah tidak lagi muda.
Nausha telah sampai di rumah Nenek nya, detik detik saat mulai memasuki rumah itu hati nya campur aduk, deg degan tidak percaya bisa bertemu kembali dengan orang tua nya. Nausha sangat rindu akan belaian Ibunya, dan gila nya lagi Nausha rindu ingin mendapatkan marah dari Ayahnya.
__ADS_1
" Ayah Ibu.." panggilnya.
Leo dan Fiandra tersentak dengan suara putrinya. Kedua nya langsung beranjak berdiri, putri nya telah datang.
" Nausha..putri ku!" ujar Fiandra dengan suara lembut menatap Nausha tersenyum sambil merentangkan kedua tangan.
" Ibu..!"
Fiandra dan Nausha langsung mendekat sampai tidak menyisakan jarak. Ibu dan anak itu berpelukan sangat erat.
" Anak ku..!" Sebutnya dengan kedua mata yang berkaca kaca.
Selama kedua nya berpelukan erat, Fiandra tak henti hentinya mengusap tubuh belakang Nausha juga rambut Nausha. Fiandra menuangkan rasa rindu pada putri nya itu, tak cuma itu wajah Nausha di kecupinya bertubi tubi.
Fiandra mengurai pelukannya, kedua tangannya lalu menangkup kedua pipi Nausha. Mereka saling menatap. Nausha melihat tatapan teduh wajah Ibunya, tatapan yang sangat ia rindukan, Fiandra menangis bahagia.
__ADS_1
" Kau sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik..apa kabar mu sayang? Ibu sangat rindu pada mu. Nak! maafkan Ibu ya?" Fiandra berucap dengan isakan.
" Ibu..Ibu selalu sehat kan? Nausha juga sangat rindu pada Ibu, aku baik baik saja, lihat! aku sangat bahagia bertemu Ibu kembali. Nausha tak mau jauh jauh lagi dari Ibu, pokoknya!"
Fiandra tersenyum cekikik putri nya itu belum berubah masih manja ini yang membuat Fiandra sedih saat terpisah dengan Nausha. Fiandra mengangguk.
" Iya Nak..kita akan kembali bersatu tentunya, Ibu juga tidak mau jauh lagi dengan mu, Ibu juga tidak peduli pada Ayah mu kalau melarang kita dan memarahi mu."
Fiandra dan Nausha tersenyum kedua nya mengangguk bersama.
" Ayah tidak akan marah, apalagi melarang kalian!"
Ibu dan anak itu terkejut saat lagi sedang asik melepas rindu. Leo sang Ayah tiba tiba menyahut, membuat Nausha sadar ia sampai lupa dengan keberadaan Ayah nya yang sedari tadi berdiri memperhatikan mereka.
Leo yang memperhatikan istri dan anak nya itu berpelukan dan saling melepas rindu rupanya membuat ia tersenyum dengan pemandangan yang dia saksikan itu. Harusnya seperti ini dari dulu, Leo menyesali kebodohan nya, keegoisan nya, kekejamannya pada putri nya yang sudah menyiksa fisik putrinya dan sekaligus bathin keduanya. Leo benar benar sadar betapa berharga nya mereka.
__ADS_1
" Kalau Tuhan mau menghukum ku, hukumlah! tapi berikan aku kesempatan untuk mencintai dan memberi kasih sayang pada putri ku satu satu nya yang belum pernah dapat kan dari ku!"
Itulah kata kata yang Leo ucapkan di dalam hati nya selama ia berdiri menyaksikan Istri dan anak nya.