I APOLOGIZE

I APOLOGIZE
Lamunan Mathilda.


__ADS_3

Flash back Off.


Mathilda masih duduk di kursi goyang dengan mata sedikit berkaca kaca, mengingat kejadian 8 tahun silam namun saat mengingat kejadian itu Mathilda pun merindukan sosok Arthur tidak terasa waktu bergulir Arthur alamarhum suaminya sudah meninggalkan nya. Mathilda mengambil keputusan pergi membawa Nausha sangat berat tapi ini demi kepentingan Nausha baik mental dan fisik cucu nya. Mathilda takut Nausha menjadi balik membenci akan sikap Ayah nya yang kejam dan tidak segan segan memberi hukuman pada Anak nya sendiri. Beruntung Nausha tumbuh menjadi gadis dewasa yang baik Mathilda selama ini yang memberi pengertian pada Nausha agar jangan membenci Ayah nya ia menanamkan moral moral kebaikan. Almarhum suaminya sewaktu masih hidup pun sudah seringkali menyesali dan meminta maaf pada cucu nya. Justru di balik keras hidup Nausha menjadikan Nausha punya mental yang kuat sifat lemah lembut di turunkan dari Ibu nya yang selalu pemaaf.


Nausha mudah melupakan hal hal yang tidak mengenakkan selama di alami nya dengan sifat keras Ayah nya yang mendidik menjadi anak yang patuh pada orang tua dan Kakek Nenek nya di balik hukuman yang di berikan oleh Ayahnya yang sangat kejam, Pengalaman pahit itu lah dijadikan cambukan menjadikan Nausha wanita yang mandiri.


Sejak meninggalkan rumah Mathilda mengasuh Nausha dengan baik tak hanya mengasuh Mathilda mendidiknya dengan lembut dan juga menyayangi cucu nya itu. Mathilda memberikan kebebasan apa yang Nausha inginkan seperti membalas selama Nausha tinggal bersama orang tua nya tak punya kebebasan karena terlalu takut pada Kakek nya dan juga Ayah nya, Mathilda sadari Nausha tumbuh menjadi gadis cantik dan anggun banyak para lelaki di sekolah dan di kampusnya yang ingin mendekati Nausha karena kagum dengan kecantikan Nausha.


Mathilda melepas kaca matanya dan mengusap air mata nya ia kini tertuju rasa rindunya pada rumah itu, rumah yang megah dan mewah di mana Mathilda punya banyak kenangan manis dan pahit bersama Arthur. Walaupun rumah yang kini di tempati nya sekarang jauh dari kemewahan sudah membuat diri dan Nausha tenang apalagi para tetangga sekitar rumah nya sangat ramah dan selalu membantu Mathilda. Mathilda hanya menunggu putra kandungnya agar menerima kembali putri nya. Menit pun berjalan Lamunan Mathilda tersentak dengan panggilan pelayannya.


" Nyonya.."


" Euhh...iya Rose?"

__ADS_1


" Nyonya menangis..ada apa?"


Mathilda lalu mengusap sisa air mata di sudut kedua matanya dengan telapak tangan nya.


" Hum..aku hanya merindukan suami ku."


" Apa sebaiknya Nyonya kembali kerumah itu dan mungkin juga..Nyonya singgah ke makam almarhum Tuan Arthur?"


" Aku ingin mengunjungi makam alamarhum Arthur tapi tidak berkunjung ke rumah itu dulu, Rose."


" Besok saja aku menunggu Nausha."


" Baiklah kalau begitu..Nyonya makan siang sudah disiapkan."

__ADS_1


" Terimakasih Rose..apa makanan rebusan hari ini?"


" Saya membuat rebusan buncis wortel dan kentang Nyonya."


" Tidak apa..baiklah aku makan sekarang."


Rose lalu membantu Mathilda berdiri dari kursi goyang. Mathilda masih berjalan dengan tubuh yang tegak langkah menuju ke meja makan itu pun terlihat tidak pelan dan cepat. Setelah sampai di meja itu Rose menarik kursi untuk Mathilda duduk. Mathilda dan Rose makan bersama di meja itu.


" Rose..."


" Iya Nyonya."


" Besok masaklah kesukaan cucu ku yaa, buatkan kue manis yang banyak kita juga akan memberikan pada tetangga tetangga kita."

__ADS_1


" Baik Nyonya..saya juga akan menelpon supir untuk mengantar Nyonya dan Nausha ke makam Tuan."


" Terimakasih Rose."


__ADS_2