I APOLOGIZE

I APOLOGIZE
Nausha Mengerjai Soraya


__ADS_3

Pagi hari nya Nausha nampak bersemangat menyiapkan cake coklat untuk Affandi bawa ke kantor ia memasukkan beberapa potongan cake ke dalam lunch box hati nya senang Affandi menyukai cake buatan nya itu.


Namun saat Nausha masih berdiri di sisi meja makan, Soraya sedang berjalan menuruni tangga masih memakai gaun tidur nya yang tipis di balut piyama warna putih, Soraya sudah melihat Nausha sedang menata piring sendok itu di meja. Soraya lalu menghampiri Nausha dengan gaya angkuh nya seperti Nyonya besar saja.


" Hey pembantu buatkan saya kopi!"


Nausha langsung menoleh karena di kejutkan oleh suara Soraya. Nausha menatap Soraya dari rambut sampai kaki nampak Soraya yang baru bangun tidur dengan rambut acak acakan juga tercium bau jigong Soraya di hidung Nausha.


" Kau ingin minum kopi?"


" Tentu..." jawab nya langsung duduk di kursi meja makan.


" Baiklah..sebentar!"


" Gula nya sedikit saja.."


Nausha lalu melangkah kedapur dengan senyuman smirk nya. Nausha mengambil cangkir lalu menaruh kopi bubuk dan juga garam lalu kopi itu di aduk asal dengan jari telunjuk nya. Setelah kopi jadi dengan santai ia membawa secangkir kopi itu untuk Soraya.


" Rasakan ini.." gumam nya pelan.


Nausha lalu meletakkan kopi dicampur garam itu untuk Soraya.


" Ini kopi nya silahkan di minum."


Sebelum Soraya menyeruput kopi itu, Nausha lalu berjalan santai menuju kebelakang ia ingin melihat ikan ikan koi kesayangan nya di kolam.


Soraya mulai menyeruput kopi hitam buatan Nausha tanpa rasa curiga kalau kopi itu di masukkan garam.


" Uhuuk..." Soraya menyembur.


" Kurang ajar dasar pembantu sialan." ucap nya kesal.


Tak lama Affandi turun ia melihat kekasih nya terlihat sedang batuk sambil tangan nya mengelap mulut dengan tisu.


" Ada apa sayang kenapa kau batuk." Affandi melihat meja nampak banyak cipratan cairan kopi di meja.


" Kenapa meja ini banyak tumpahan kopi?"


" Uhuk..uhuk pembantu mu uhuk uhuk.."

__ADS_1


" Ada apa memang nya?"


" Coba kau rasakan kopi ini."


Affandi lalu mencoba kopi Soraya dan saat mencicipi Affandi menyemburkan nya.


" Kenapa...kopi ini sangat asin?"


" Pembantu mu yang buat kan kopi ini."


" Nausha?" gumam nya pelan.


" Kenapa kau tidak pecat saja pembantu mu itu, dia sudah kurang ajar pada ku, sayang." tangan nya sambil mengelap cipratan kopi pada baju tidur nya.


Affandi kemudian berfikir sejenak, suasana yang masih sangat pagi tak mau membuat Affandi rusak mood nya mungkin saja Nausha salah memasukan kopi dengan garam, atau memang istri nya itu sengaja menaruh garam. Ia bisa saja saat ini juga memarahi Nausha namun ia tahan jangan sampai Nausha buka mulut dan mengaku ia adalah istri sah nya.


" Heuhhm.." Affandi menarik nafas.


" Ya sudah lah sayang nanti aku tegur dia..kita sarapan saja dulu, aku akan mengantar mu sebelum aku ke kantor.


" Tidak usah biar aku di antar oleh supir mu saja."


Setelah Soraya pulang di antar supir Affandi, Affandi lalu mencari Nausha.


" Susan di mana Nausha?"


" Nak Nausha ada di belakang Tuan sedang memberi makan ikan ikan di kolam."


Affandi lalu menuju ke belakang di lihat nya Nausha baru saja memberi makan ikan di kolam lalu istrinya itu beralih menyirami tanaman tanaman hias. ia pun berhenti sejenak memperhatikan Nausha yang menyirami tanaman tanaman itu sambil bersenandung.


Affandi lalu melangkah menghampiri Nausha dan berhenti dan berdiri tepat di belakang Nausha dengan gaya kedua tangan di masukan kedalam saku celana boxer, terdengar oleh Affandi istrinya masih bersenandung tapi juga mengajak bicara pada tanaman tanaman hias itu yang nampak subur dan bunga bunga nya pun sedang bermekaran.


" Selamat pagi..teman teman ku, kalian adalah kesayangan ku semua." ucap Nausha seraya menyirami tanaman.


Ucapan Nausha terdengar suaranya sangat lembut di telinga Affandi yang sedang bicara pada tanaman tanaman itu, Affandi mengerutkan dahi nya, istrinya bicara pada tanaman.


" Wah..kalian sudah berbunga yaa! kalian nampak cantik sekali, nanti aku akan berikan pupuk yang bagus untuk kalian supaya kalian tetap subur." Sambil tersenyum pada tanaman itu.


Affandi masih terus memperhatikan gerak gerik Nausha saat wajah nya di dekatkan pada tanaman itu lalu menciumi daun dan bunga bahkan pipi istri nya ditempelkan pada daun daun itu.

__ADS_1


" Kalian belum mencium pipi ku." sambil membungkuk.


Affandi makin tertegun melihat aksi istrinya itu yang minta di cium oleh tanaman, dan tanpa di sadari Affandi tersenyum kecil.


" Terimakasih kesayangan ku.."


" Ehemm.." Affandi berdehem.


" Euh..Pak Affandi?" berdiri tegak.


" Apa kau sudah gila bicara pada tanaman?"


" Bapak jangan bicara seperti itu di depan mereka, mereka nanti tidak akan menyukai Bapak."


" Hah..? Affandi heran.


" Mereka hanya tanaman, jangan aneh aneh."


Nausha lalu menjauhkan Affandi dari tanaman tangannya menarik lengan Affandi.


" Heumm..Bapak tidak tahu tanaman memang tidak bisa mendengar, tapi ia bisa menangkap volume suara kita melalui frekuensi getaran suara. Kalau suara kita lembut dia akan menerima dan tumbuh subur.


" Terserah kamu saja..buat saya tidak masuk akal."


" Heumm..ya sudah, ada apa Bapak mencari saya?"


" Siapkan pakaian kerja saya,.saya mau mandi saya tidak mau terlambat."


" Baiklah..sebentar Pak!"


Nausha Kembali mendekati tanaman itu lalu bicara.


" Kesayangan ku, maaf kan suami ku."


Affandi melihat Nausha kembali bicara pada tanaman hanya menggelengkan kepala, namun ia tercengang tanaman tanaman itu bergerak daun daun nya seperti merespon ucapan Nausha. Ia pun tersenyum kembali.


" Nausha.."


" Iya Pak.."

__ADS_1


" Cepatlah!" seraya melangkah meninggalkan halaman, Nausha pun mengikuti Affandi.


__ADS_2