
Masih di dalam mobil selama di perjalanan Affandi terus memikirkan ucapan Fidel, dirinya jadi penasaran hingga sebuah ide muncul di pikiran Affandi.
" Erghm Nausha.." Affandi berdehem sambil memposisikan duduknya dengan kaki yang menyilang
" Iya Pak Affandi."
" Bagaimana kalau kamu ambil libur mu, kita akan berkunjung ke rumah orang tua kamu besok. Kebetulan jadwal saya tidak terlalu padat saya ingin berkenalan dengan keluarga kamu." Affandi mencoba menawarkan diri.
" Apa apan ini? tiba tiba mengajakku ingin berkunjung ke rumah? sepertinya dia sangat penasaran dengan keluarga ku." ucap Nausha dalam hati.
Nausha terdiam seperti membaca pikiran Affandi, tapi ia akan mengelak dengan tawaran Affandi.
" Eum..Tapi saya sangat sibuk, Pak. Mungkin lain waktu saja."
" Mau besok atau lain waktu apa beda nya? saya ingin mengenal lebih jauh dengan keluarga kamu."
Nausha hanya tersenyum, tapi ia tahu Affandi hanya pura pura saja.
" Bapak yakin? mau mau berkunjung ke rumah saya? nanti Bapak tidak nyaman berada di rumah saya..rumah saya hanya sederhana." Nausha menolak dengan cara halus.
" Kenapa? saya hanya ingin kenal dengan orang tua kamu, apa salah nya?"
__ADS_1
" Hmm bagaimana ini aku takut Affandi nanti akan tahu." Nausha membathin.
" Apa kamu menyembunyikan sesuatu dari saya?" tebak nya.
" Menyembunyikan? euh..apa yang harus saya sembunyikan dari Bapak, saya hanya orang kecil, Pak."
" Memangnya kenapa? keadaan keluarga kamu memang lah orang kecil? malu ya?"
" Eugh? hmm..kok dia seolah olah sangat peduli tapi kenapa terdengar sombong?" Nausha berdialog dalam hatinya.
" Eum..tidak! bukan begitu Pak..kenapa saya harus malu? baiklah kalau memang itu yang Bapak mau."
" Iya Pak."
Affandi lalu memerintahkan pada supir nya untuk mengantar Nausha dahulu ke cafe nya.
" Liam."
" Iya Tuan."
" Antar Nausha dulu, baru ke kantor saya."
__ADS_1
" Baik Tuan."
Nausha mendadak cemas, hati nya resah ia tidak bisa mengelak dengan ajakan Affandi untuk berkunjung kerumah nya, Affandi pasti akan bertanya pada Nenek nya sedangkan dia harus terus menutupi nya. Tidak masalah kalau pun akhir nya Affandi tahu dirinya yang sebenar nya, tapi masalah pernikahan ini Affandi belum bisa menerima diri nya karena tidak mencintai nya. Nausha mau dia akan memberitahukan pada Affandi kelak bila saat nya Affandi akan berubah mencintainya. Itu yang Nausha harapkan.
Anggap lah diri nya wanita yang bodoh mau di nikahi dengan paksa juga tanpa ada nya cinta mirisnya lagi dinikahi hanya untuk mendapatkan status Affandi saja. Nausha masih terus ikuti permainan Affandi, tapi ia juga takut apabila Affandi menceraikannya saat permainan Affandi sudah di hentikaan. Boleh kah pernikahan ini di pertahankan saja? karena sudah terlanjur menikah, bathin Nausha meminta. Tapi Nausha sekuat mungkin akan menjadi istri yang baik untuk Affandi.
Dan memang butuh pengorbanan dan pengorbanan itu tidak akan sia sia. Nausha yakini itu dan Nausha meyakini ucapan Nenek nya ia dan Affandi sudah jodoh, Tuhan memberikan jodoh Affandi pada Nausha dengan cara yang berbeda dan unik.
Sampai di depan cafe Nausha, Nuasha ingin cepat cepat masuk kedalam cafe, ia akan menghubungi Nenek nya memberitahukan bahwa ia dan Affandi akan datang kerumah esok hari, Ia akan bicara pada Mathilda untuk membuat sebuah rencana.
" Terimakasih Pak Affandi, saya masuk dulu."
" Liam akan menjemput kamu pulang."
" Iya Pak Affandi.
Setelah Nausha turun Affandi lalu memerintahkan pada supir nya untuk jalan kan mobil dengan anggukkan kepala melalui kaca spion.
" Kembali ke kantor saja."
" Baik Tuan."
__ADS_1