I APOLOGIZE

I APOLOGIZE
Menepis Rasa Gengsi


__ADS_3

" Pak Affandi..jadi bunga ini dari nya?" Dalam hati Nausha.


Tak sadar Nausha terus menciumi harum kelopak bunga bunga itu, pipi nya perlahan merona merah seperti memakai blush on dan kedua sudut bibir nya melengkung membentuk senyuman.


Tanpa pikir panjang lagi Nausha ingin mengucapkan terima kasih pada Affandi atas kiriman bunga. Nausha membuka blokir nomor Affandi lalu mengirim pesan.


" Terima kasih."


Namun pesan itu belum di baca Affandi, Nausha melihat jam sudah pukul 8 Affandi sudah sampai di kantor. Cukup lama pesan itu belum juga di baca Affandi. Nausha sebentar sebentar memeriksa ponsel nya apakah ada balasan pesan dari Affandi, namun ternyata tidak. Hingga satu jam berlalu belum juga ada balasan di baca pun tidak oleh Affandi.


Nausha resah dan timbul pikiran negatif apa Affandi hanya ingin mengerjai nya saja. Lalu untuk apa maksud Affandi mengirimkan bunga. Demi menghilangkan rasa penasarannya dan menepiskan rasa gengsi nya Nausha ingin menelpon Affandi. Sebelum menelpon Affandi ia mengumpulkan segenap kekuatan keberanian untuk sekedar basa basi nya mengucap kan terimakasih. Walaupun ini menyangkut harga diri nya yang sudah memblokir nomor Affandi tapi kini ia malah ingin menelpon Affandi.


Merasa sudah siap Nausha mencoba menelpon Affandi, dengan dada nya yang deg degan.


Tuuuuuut..


Tuuuuut..


Tuuuuuuut..


Nada sambung telpon sudah terhubung namun Affandi belum menjawabnya, Nausha menjadi gundah gulana ia langsung mematikan sambungan telpon.

__ADS_1


" Ahh..dia juga tidak menjawab telpon ku?"


Bermacam macam pikiran pun timbul di diri Nausha, merasa di abaikan, merasa tidak di pedulikan atau memang Affandi sedang sibuk, atau jangan jangan Affandi sedang mentertawai diri nya.


Nausha nyerah ponsel nya di letakkan di meja saja. ia tidak akan lagi menghubungi Affandi. Tapi satu menit kemudian ponsel nya berdering, Affandi rupanya yang menelpon.


" Ha-halo..Pak Affandi."


" Ada apa menelpon ku?"


" Eugh..? eum..saya hanya mau mengucapkan terimakasih untuk bunga dari Bapak."


" Sudah di terima..? maaf, tadi aku sedang rapat.."


" Tidak apa.."


Percakapan mereka pun hening seketika, Affandi dan Nausha terdiam.


" Nausha kau masih mendengar ku?"


" Iya Pak Affandi.."

__ADS_1


" Kau tidak menyukai bunga itu, biar aku kirim bunga jenis yang lain.."


" Bukan..aku suka bunga nya.."


" Baik lah..ada yang ingin kau tanya kan lagi? sebelum aku kembali rapat.."


" Tidak Pak Affandi, terimakasih sekali lagi!"


" Ya sudah nanti aku telpon kembali"


" I-iya.."


Nausha menarik nafas dalam dalam setelah selesai menelpon Affandi. Jujur setelah menelpon Affandi ia sangat senang rupanya Affandi mau menelpon balik saat sedang rapat itu arti nya ia di pentingkan. Dan tadi Affandi katakan akan menelpon kembali. Nausha pun tersenyum, berharap telpon dari Affandi.


Sejak saat itu Affandi dan Nausha suka berbalas pesan dan juga suka melakukan panggilan. Dan sejak itu pula percakapan mereka tidak lagi formal.


Ini adalah hari Sabtu dan kebetulan hari libur Nausha, dan semalam Enrico menelpon Nausha ingin mengajak jalan berdua. Nausha menerima ajakan Enrico yang sudah berkali kali sebelum nya ia selalu menolak ajakan Enrico dengan alasan sibuk. Tapi kali ini ia tidak mau mengecewakan Enrico yang pernah menolong Nausha. Dan Nausha harus menempati janji itu.


Nausha di depan cermin sedang merapihkan busana yang di kenakan nya, dress model piyama berwarna biru gelap. Rambut yang di gulung dengan benda Roll sedang di lepas ia hanya merapihkan rambut nya dengan jari jari tangan dan membiarkan terurai, Nausha semakin cantik dengan riasan wajah yang tipis.


Nausha turun dari ruangan nya, ia sudah siap dan tinggal menunggu Enrico menjemput nya. Sambil menunggu Enrico, Nausha memeriksa ponsel nya yang dari semalam belum di aktifkan karena sedang di isi battery tapi tak ada satu pesan atau panggilan dari Affandi. Bahkan balasan pesan untuk Affandi terakhir hanya sejak kemarin pagi, itu pun saat Affandi sedang di kantor.

__ADS_1


Ini lah yang membuat Nausha jadi pertimbangan, kadang Nausha berfikir Affandi seperti menggantungnya karena perceraian nya dengan Affandi tidak jelas.


Nausha masih menunggu Enrico, saat saat menunggu tapi tidak di sangka Affandi datang dan ia lagi lagi di buat terkejut dengan kedatangan Affandi.


__ADS_2