
Hari itu Affandi berbusana kemeja yang berbahan tebal yang di gulung sampai sikut warna yang pas senada dengan warna dress Nausha, bawahan nya di padukan celana jeans. Affandi di tangan nya membawa serangkaian bunga yang berasal dari halaman rumah nya. Bunga bunga itu yang dulu di rawat oleh Nausha, Susan membantu memetik nya untuk di bawa Affandi. Affandi berharap Nausha tidak marah bunga yang pernah di rawat nya di petik.
Affandi menatap langsung pada Nausha yang sudah berada di meja kasir, tapi seperti nya penampilan Nausha sangat rapih tidak memakai seragam cafe nya. Mata Affandi kagum Nausha terlihat sangat cantik dan manis.
Nausha pun mengagumi penampilan Affandi terlihat berkali lipat ketampanannya, wajah Affandi sangat bersih segar dan rapih seperti habis mencukur kumis dan bulu bulu pada rahang nya.
Affandi tersenyum pada Nausha, tubuh nya yang tegap melangkah menghampiri Nausha.
" Hai..maaf kedatangan ku, tidak memberitahukan mu dulu.."
Affandi melihat Nausha gugup, beberapa detik kemudian ia sadar dengan penampilan Nausha hari ini seperti nya ia ingin bepergian.
" Eum..tidak apa apa."
Affandi menelisik kembali penampilan Nausha.
" Kau ingin keluar? apa kau sudah punya acara?"
Nausha terdiam kaku, kedatangan Affandi di saat waktu yang tidak tepat.
" Eum..ini, bunga untuk mu.."
Mata Nausha memerhatikan bunga bunga itu, ia mengenali rangkaian bunga yang di bawa Affandi.
" Aku harap kau tidak marah, aku membawa bunga dari halaman rumah, bunga yang kau tanam..aku meminta bantuan Susan untuk memetik nya dengan hati hati.."
Nausha tersenyum, mana mungkin ia marah ternyata bunga bunga yang di tanama nya di rawat baik oleh Susan.
" Jujur saja aku tidak tahu kalau aku beli bunga di luar yang jenis lain kau menyukainya atau tidak?"
Nausha mengangguk kecil lalu menerima bunga dari tangan Affandi. Bunga bunga di halaman mansion Affandi beragam jenis nya dan itu tersedia di toko toko florist.
" Terima kasih..Pak Affandi, bunga bunga di halaman kan, juga tersedia di toko toko.."
" Iya aku tidak hafal secara detail, karena kau yang menanam nya. Dan tolong jangan panggil Pak lagi..!"
" Ow..iya maaf, Affandi."
__ADS_1
" Biasakan..!" Sambil menatap Nausha.
" Baik lah!, aku ingin menaruh bunga ini di vas dulu..!"
" Sebentar Nausha..! eum aku..kesini ingin mengajak mu sebenarnya, tapi seperti nya aku sudah di dahului. Apa kau ingin pergi bersama anak buah mu? maaf kalau begitu." Ucap Affandi salting.
" Nausha..!"
,
,
,
,
Deg
Suara Enrico memanggil Nausha, membuat Affandi seketika memutar badan menengok kebelakang. Affandi kaget dengan Enrico memanggil Nausha. Affandi dan Enrico sama sama tidak menyangka dengan kehadiran mereka.
" Enrico..?"
Affandi dan Enrico kini sama sama menatap tajam. Affandi lalu menelisik penampilan Enrico yang berpakaian santai. Dan Nausha langsung terkesiap saat Enrico sudah datang. Ia seperti ke gep sedang berselingkuh dengan Enrico. Ya sebenarnya kalau di sadari Nausha bisa di bilang selingkuh karena masih sah istri Affandi.
Nausha jadi tak bergeming karena situasi saat ini mulai tegang. Enrico dengan santai nya tidak peduli dengan keberadaan Affandi, ia hanya tertuju dengan niat nya mengajak Nausha.
" Nausha kau sudah siap?" Seru Enrico yang melangkah melewati Affandi.
Affandi seketika terasa jantung nya tertusuk, terjawab sudah kedatangan Enrico ingin mengajak Nausha. Buat Affandi kehadiran nya adalah waktu yang tepat, tapi mungkin tidak buat Nausha. Affandi harus mencegah nya mana mau membiarkan Enrico mengajak Nausha apapun itu tujuan mereka menjadi urusan Affandi.
Nausha belum menjawab siap atau tidak Enrico bertanya, Enrico terlihat sangat bersemangat hari ini.
" Kau ingin pergi dengan nya?" Tanya Affandi pada Nausha.
Nausha mengangguk, dan pengakuan Nausha membuat Affandi murka ia mengepalkan kedua tangan nya. Affandi masih diam.
" Maaf Bro..! aku mengajak Nausha."
__ADS_1
Kalau saja Enrico bukan teman nya, Ia akan menghajar nya habis.
" Bisa kita jalan sekarang?" Ajak nya pada Nausha.
Nausha masih ragu ragu ia menjadi tidak enak dan ada rasa bersalah dengan Affandi, apakah Nausha harus menolak dan memutuskan tidak jadi pergi bersama Enrico.
Saat Enrico mendekati Nausha. tangan Affandi menghalangi nya.
" Maaf Enrico..! Aku dan Nausha akan jalan berdua dan dia masih istri ku."
" Ouh..istri mu? sejak kapan kau menganggap Nausha istri mu? bukan kah kau pernah mengatakan pada ku..kau tidak pernah mencintai nya?"
Dengan santai nya Enrico berucap.
" Bukan kah kau ingin menceraikan nya?"
" Itu bukan urusan mu Enrico!" Balas nya dengan ekspresi wajah yang tidak habis pikir dengan sikap Enrico.
" Memang bukan urusan ku..tapi kau sudah menyia nyiakan nya, jangan salahkan dia!"
Yang di katakan Enrico benar memang diri nya sangat bersalah. Tapi bukan berarti Enrico mencampuri urusannya dengan Nausha. Dan saat ini dirinya lagi berusaha memperbaiki hubungan nya. Dan dia tidak akan rela Nausha di dekati oleh teman nya.
" Aku tidak ijinkan, kau bisa pergi dengan nya..!" Ucap nya dengan mengeraskan rahang.
" Kenapa sekarang kau berubah? selama ini kau sudah menyia nyiakan nya."
" Enrico Eldraz kau ini teman ku, aku tahu kau pun sama bajingan nya dengan ku, jadi jangan dekati istri ku!, Satu yang belum kau ketahui..aku belum menceraikan Nausha, dan kau jangan ikut campur..!" Ucap nya penuh penekanan.
Enrico tersenyum remeh pada Affandi.
" Kita memang sama sama bajingan,Bro! tapi kalau aku mendapatkan istri sebaik Nausha aku tidak sama lagi dengan kau Affandi, aku tidak akan menyia nyiakan nya. Cepat lah kau ceraikan Nausha! aku akan membahagiakan Nausha.."
❤️❤️
Kompraaang..Nah loh!😀😀😀
Jangan lupa kasih author bintang dan like oke!
__ADS_1