
Affandi semakin mendidih darah nya perkataan dan sikap Enrico ini benar benar sudah membuat nya marah besar. Tak tahukah teman nya itu sangat melukai hati nya dan bisa menghancurkan tali persahabatan antara mereka. Namun Affandi seketika melihat situasi dalam cafe itu yang mulai berdatangan pengunjung. Ia tidak mungkin membuat keributan di cafe Nausha, Affandi lagi lagi masih diam menahan diri ia sekuat tenaga menahan emosi lalu ia menatap Nausha tajam dan dingin. Affandi ingin tahu apakah Nausha pun menuruti Enrico dan pergi berdua meninggalkan nya di cafe itu. Cukup harga diri nya di injak injak oleh Enrico. Diam nya Affandi mengakhiri perdebatan sengit dengan Enrico. Lagi lagi Enrico masih mengajak Nausha.
Nausha pun yang di tatap Affandi jadi tak berkutik ia tidak mungkin menerima ajakan Enrico. Tatapan Affandi pada nya sangat mengandung arti seperti membuat pilihan untuk nya. Nausha dengan segera mengambil sikap.
" Kami pergi dulu..ayo Nausha!"
" Eum..maaf Enrico aku mendadak kepala ku sakit.."
Affandi langsung mengambil nafas lega, Ia kini ingin tahu bila sampai Enrico menyentuh Nausha sedikit saja, ia tidak akan mentolerir nya.
" Aku ingin istirahat lain kali saja ya!"
Enrico tidak mungkin memaksa Nausha, wajah Nausha memang terlihat pucat.
" Baiklah..kau istirahat saja, kalau begitu lain kali aku mengajak mu."
" Maaf ya Enrico..Fandi aku ke atas dulu!"
" Sebaik nya aku antar kau sampai ruangan mu..!"
Nausha mengangguk, Affandi dengan segera membawa Nausha untuk istirahat di kamar nya. Enrico hanya terdiam menatap mereka berdua.
Dasar jomblo akut..!" Ucap nya sambil melirik Enrico.
Sampai di ruangan itu, Affandi mendudukan Nausha di tepi ranjang tidur.
" Kau terlihat pucat, kau benar benar sakit."
__ADS_1
" Aku tidak apa apa, Fandi, aku hanya shok melihat perdebatan kalian.."
" Aku ambil kan minum dulu."
Affandi keluar dan meminta pada salah satu anak buah Nausha untuk di ambil kan air putih. Nausha memperhatikan Affandi yang begitu perhatian pada nya.
Affandi kemudian masuk membawa segelas air putih untuk Nausha.
" Minum lah dulu..!"
Nausha kemudian meminum nya, setelah minum tubuh Nuasha terlihat sudah tenang, ia shok betapa mengerikan ia melihat Affandi berdebat dengan Enrico. Lutut nya terasa lemas dan kepalanya menjadi sakit. Nausha takut kalau sampai terjadi perkelahian di cafe nya. Untung saja ia melihat Affandi bisa menahan diri.
Affandi kemudian merebahkan Nausha dan dengan bantalan yang di atur pas dengan kepala Nausha ia kembali duduk di tepian tempat tidur. Ada dorongan tangan Affandi membelai rambut Nausha.
" Istirahatlah..!"
" Terimakasih atas perhatiannya."
Kemudian Affandi meraih tangan Nausha dan menggenggamnya, di tatapnya mata Nausha dalam dalam. Perlahan punggung tangan Nausha di kecup nya.
" Kau kelihatan lelah, tidurlah aku akan menemani mu di sini.."
Affandi dengan sikap manis menyelimuti Nausha dan membiarkan Nausha istirahat. Setelah Nausha terpejam Affandi membaringkan tubuh nya di sofa.
Dua jam kemudian Nausha mengerjapkan mata nya terbangun ia benar benar tidur lelap dengan tubuh yang miring membelakangi pintu tapi detik kemudian ia merasakan berat pada pinggang nya ia melirik sebuah tangan kekar berbulu memakai arloji yang melingkar di pinggang nya. Nausha kaget dan sadar rupanya Affandi ikut berbaring di sebelah nya dan memeluk nya dari belakang. Bukan kah tadi sebelum nya Affandi tidur di sofa. Terasa hembusan nafas Affandi di belakang tengkuk leher nya dan dengkuran halus Affandi yang tertidur di samping nya.
Nausha jadi berfikir saat ini ia dan Affandi tidur berdua satu ranjang yang berukuran single. Apa Nausha bermimpi ia tidak percaya Affandi tidur dan memeluk nya. Saat Nausha ingin merubah posisi nya dari miring ia bergeser sedikit supaya bisa terlentang. Tapi pergerakkan nya malah membuat mata Affandi terbuka.
__ADS_1
" Jangan bergerak..!"
Nausha kaget dengan suara Affandi yang lembut dan ngebass di ceruk leher nya.
" Fandi tubuh ku sedikit pegal dengan posisi miring seperti ini terus.."
Affandi malah makin mengeratkan pelukan nya pada tubuh Nausha.
" Kalau kau bergerak kau sama saja membangunkan..pusaka ku." Affandi tersenyum di balik leher Nausha.
Nausha kedua mata nya langsung membulat dan mulut nya menganga. Ia merasakan bokong nya telah sejajar pada bagian bawah Affandi yang terasa di tempelkan oleh Affandi saat Affandi makin mengeratkan pelukannya.
" Diamlah..! aku sedang menikmati bokong mu ini..benar benar padat dan kencang.
Plakk
Tiba tiba tangan Nausha menepuk kencang bagian pinggul Affandi dengan tangan kiri nya
" Aww..kenapa kau memukul ku?"
" Pindah sana..! tempat tidur ini jadi sempit dengan kau tidur di sini.."
" Justru tempat tidur mu yang sempit mendukung aku tidur bisa memeluk mu agar tidak jatuh.."
" Hah?"
Nausha berusaha tubuh nya bergeser sedikit jauh dari Affandi yang terus memeluk nya.
__ADS_1