
Nausha malam ini juga siap keluar dari rumah itu, dia belum bisa berfikir apa apa ia hanya memikirkan ia akan istirahat tidur di cafe nya. Susan yang diam diam mengintip dalam gelap menyaksikan bagaimana Nausha dan Affandi bertengkar sampai Nausha di seret dan di usir, Susan berjalan jinjit pelan pelan ingin menemui Nausha.
" Nak Nausha.."
Susan yang kedua matanya berkaca kaca menghampiri Nausha sedang mengeluarkan baju baju dari dalam lemari. Ia ikut bersedih dan prihatin dengan keadaan Nausha.
Nausha masih terisak sambil berkemas terkejut dengan panggilan suara Susan.
" Ibu Susan."
" Kau mau tidur di mana?"
" Aku akan kembali ke cafe dan tidur di sana..." Jawabnya sambil mengemasi barang barang nya kedalam tas.
" Biar Ibu bantu!"
" Terimakasih Bu, tidak usah! ini juga aku hanya bawa barang barang seperlunya saja dan sebagian barang barang aku tinggalkan karena pemberian dari Pak Affandi."
" Ibu tidak menyangka Tuan Affandi kejam sekali!, padahal kamu adalah istri yang sangat baik."
Nausha diam sejenak lalu menghentikan dulu mengemasi barang barang nya, sebaiknya ia harus mengatakan yang sebenarnya pada Susan yang sudah Nausha anggap Ibu dan Nausha percaya pada Susan. Nausha lalu mengajak Susan duduk di tepi ranjang tidur.
" Ini salah ku tidak memberi kabar sama sekali pada Pak Affandi Karena ponsel ku tertinggal, tapi..ini juga sudah kesepakatan kami berdua."
" Kesepakatan apa toh Nak, Ibu tidak mengerti?"
__ADS_1
Nausha lalu menceritakan bagaimana awal nya Affandi menikahi Nausha singkat saja pada Susan. Susan yang mendengarkan cerita Nausha mengerti, hati Susan terenyuh mendengar cerita yang sebenarnya. Nausha masih mengharapkan pernikahan nya dengan Affandi bisa bertahan selamanya. Tapi yang Nausha tidak menduga Affandi mengakhiri pernikahan ini hanya sedikit kesalahan saja. Nausha ingin mereka berdua bisa mengakhirinya dengan cara baik baik saja, tidak perlu harus mencari kesalahan Nausha.
" Ya ampun Nak, kamu sudah berkorban begitu besar untuk Tuan Affandi, kenapa Pak Affandi tidak melihat itu?"
" Sudah lah Bu ini sudah jalan hidup saya, aku tidak apa apa setelah aku keluar dari rumah ini semoga Pak Affandi baik baik saja."
Nausha lalu melanjutkan berkemas tas travel nya sudah di tutup. Sebelum keluar Nausha memeluk Susan. Setelah saling memeluk kedua nya melerai pelukan. Nausha dan Susan berdiri berhadapan.
" Aku pergi dulu ya. Bu! kita masih tetap berkomunikasi kan?"
" Iya Nak Nausha.."
" Jaga diri Ibu baik baik jangan terlalu capek bekerja!"
" Tidak apa apa Bu..aku bisa jaga diri ku!" ujar Nausha dengan senyum getir.
" Bagaimana kalau Ibu antar sampai cafe?"
" Euh..? jangan Bu tidak usah, nanti Pak Affandi bisa marah sama Ibu."
" Ibu antar sampai depan!"
" Baik lah!"
Nausha dengan hati yang berat melangkah keluar, mata nya sempat mengelilingi sudut ruang mana pun dimana banyak kenangan di rumah ini. Ia melihat pintu kamar Affandi biar bagaimanapun juga banyak kenangan bersama Affandi.
__ADS_1
Hening nya malam, sangat terdengar jelas suara langkah kaki Nausha sampai di ruang kerja Affandi, Affandi yang masih terduduk di ruang kerja nya wajah nya tiba tiba gusar Nausha benar benar keluar dari rumah, tapi ia juga menunggu apakah Nausha sebelum keluar bicara untuk terakhir kali nya atau sekedar basa basi pamit dengan nya. Tapi rupanya tidak. Affandi lalu beranjak dari kursi dan ingin melihat Nausha dari balik kaca jendela. Affandi menatapi kepergian Nausha yang di antar oleh Susan.
Terlihat Affandi dari balik kaca jendela Susan dan Nausha berpelukan kemudian kedua nya melerai pelukan. Mata Affandi terus menatap Nausha terus berjalan sampai pintu pagar besi yang besar dan kokoh hingga Nausha tidak terlihat lagi.dari balik pagar itu.
Affandi menarik nafas dalam dalam wajah nya ia usap kasar setelah Nausha hilang dari pandangan nya.
" Semoga kamu baik baik saja di luar sana."
,
,
,
,
,
Malam itu Nausha terpaksa harus berjalan kaki sambil berharap ada sebuah taxi yang lewat ia tidak bisa memesan ojek atau Taxi karena ponsel nya tidak sempat isi battery. Sambil terus berjalan air matanya masih terus mengalir.
Sebuah mobil tiba tiba melintas lalu berhenti dan mobil itu memutar arah dengan pelan melaju dan menepi.
Nausha yang pikirannya sedang kalut di kagetkan dengan sebuah mobil yang menepi jarak nya tidak jauh dengan Nausha. Mobil itu lalu terbuka kaca jendela.
" Nausha..!
__ADS_1