
Affandi sudah bulat dengan keputusan nya untuk mengakhiri pernikahan nya dengan Nausha bukan saja ingin mengakhiri pernikahan sesuai perjanjian tapi juga rasa kesal nya yang menumpuk kecewa nya dan amarah nya, yang semakin tak dapat di redam. Affandi duduk dalam ruangan yang gelap itu menanti Nausha.
Hujan yang turun dari sore belum juga reda malah curahnya semakin deras disertai petir yang bergemuruh dan menggelegar saling bersahutan seakan akan mewakili emosi Affandi yang semakin berkobar. Walau ruangan itu gelap tapi gambaran wajah Affandi sekilas masih terlihat jelas dari cahaya kilat yang masuk melalui pantulan kaca jendela, dingin, itu lah gambaran wajah nya.
Rahang Affandi mengeras tatapan nya nyalang dan tajam, bagiamana tidak berkali kali ia melihat jam yang menit nya terus berputar sudah menunjuk hampir setengah 12 malam Nausha belum menampakkan bayangan nya. Affandi masih menunggu tepat jam 12, bila istrinya itu belum juga pulang, Affandi final melepas Nausha.
Hujan yang lebat membuat Nausha harus menunggu ia memang tidak memakai mobil yang Affandi berikan karena ia harus mengejar waktu, sial nya lagi ia sampai lupa membawa ponsel nya yang tertinggal di kamar. Ponsel Nausha habis battery ia kemarin malam ia kelelahan sampai tidak sempat mengisi battery ponsel nya.
Nausha setelah mengawasi para pekerja yang merenovasi ruko nya ia pun kembali ke cafe nya jam 6 saat ingin pulang rupanya hujan mengguyur sangat deras, Nausha menunda kepulangan nya. Ia berfikir sambil menunggu hujan reda Nausha sebaiknya membantu anak buah nya. Hingga menjelang malam hujan belum juga reda terpaksa ia harus menundanya sampai hujan benar benar reda.
Cafe mulai sepi hanya beberapa pengunjung masih berada di cafe Nausha yang juga menunggu hujan reda.
Saat curah hujan mulai ringan, Nausha merasa lega ia harus kembali pulang tapi tiba tiba ia merasa hati nya gelisah firasat nya mengatakan seperti ada sesuatu yang akan terjadi.
Nausha telah sampai di mansion Affandi, ia turun dari ojek langkah nya setengah lari menghindari kepala nya dari rintik hujan. Namun ketika memasuki mansion mata nya melihat mobil Affandi, rupanya Affandi sudah di rumah ia tidak tahu kapan Affandi pulang dari kantor.
__ADS_1
Saat itu juga Nausha merasakan jantung berdebar ia berharap Affandi sudah tidur.
" Kau masih berani masuk ke rumah ini?"
Saat menutup pintu utama Nausha terkejut dengan suara Affandi yang duduk di sofa dalam ruangan gelap Nausha juga heran kenapa ruangan ini di matikan semua lampunya.
Affandi beranjak dari kursi tangan nya langsung menyalakan lampu, wajah Affandi terlihat jelas oleh Nausha sangat menakutkan.
" Maaf Pak Affandi sa-saya harus menunggu hujan reda.." ucap Nausha menunduk takut melihat Affandi.
" Tapi Pak Affandi tolong dengar..-"
Affandi tidak mau mendengar Alasan apapun dari mulut Nausha. Ia langsung menarik tangan Nausha kencang..
" Pak Affandi..!"
__ADS_1
" Pak Affandi..lepas!"
Nausha sudah kesakitan dengan cengkeraman tangan Affandi begitu kencang di pergelangan tangan Nausha, juga langkah Nausha yang sampai tersandung dengan kaki nya sendiri membuat Nausha hampir jatuh karena langkah Affandi yang cepat dan lebar.
Affandi menyeret Nausha sampai pintu kamar Nausha, ia langsung membuka pintu.
" Bereskan semua barang barang mu! pernikahan kita sudah selesai sesuai dengan perjanjian kita, dan malam kau keluar dari rumah saya."
Air mata Nausha langsung mengalir rupanya Affandi malam ini juga langsung memutuskan bercerai.
" Baik..saya akan keluar dari rumah malam ini juga!" balas nya sambil terisak.
Nausha lewat di hadapan Affandi yang berdiri di ambang pintu, sambil terisak tangan Nausha langsung mengeluarkan barang barangnya nya yang di perlukan saja."
Affandi tidak mau melihat Nausha ia meninggalkan Nausha di kamar itu dan menuju ruang kerja nya ia langsung terduduk di kursi kebesarannya.
__ADS_1
Affandi mengusap wajah nya kasar lalu terdiam. sebenarnya ia masih berat melepas Nausha tapi ia sudah bulat dengan keputusan nya.