
Setelah berbincang banyak dengan Nausha, selanjutnya Mathilda dan Nausha akan ziarah ke makam Arthur.
" Nausha hari ini kita akan ke makam Kakek mu, Nenek kangen.."
" Aku juga kangen Nek..kita pergi bersama Ibu Rose, kan?"
" Iya.."
" Baiklah."
" Rose." Mathilda memanggil.
" Iya Nyonya."
" Ayo ! bersiaplah kita akan ke makam."
" Iya Nyonya."
Supir Mathilda sudah membawa mereka ke tempat peristirahatan terakhir Arthur, tidak lupa Mathilda dan Nausha membawa bunga hidup untuk di letakkan di sisi batu nisan. Rangkaian bunga sebagai tanda kasih sayang terhadap Arthur, bagi Mathilda almarhum suaminya tidak akan dilupakan sampai akhir hayatnya.
Mathilda dan Nausha kemudian duduk bersimpuh Mathilda tangan nya seraya mengusap batu nisan itu bicara sambil terisak.
" Arthur kami datang..apa kabar mu? aku merindukan mu."
Nausha di samping Mathilda tangan nya mengusap punggung Mathilda memberi ketenangan pada Mathilda ia pun sama mata nya kini berkaca kaca. Nausha memori nya saat itu juga teringat akan masa masa Kakeknya masih hidup tidak sedikit pun di hati nya ada dendam dan benci pada Kakek nya justru ia sangat menyayangi Arthur saat Arthur mulai menerima diri nya dan mengakui sebagai cucu nya. Ingatan itu membuat kedua sudut bibirnya mengembang.
" Dan kau pasti kagum dengan cucu kita..Nausha sudah menjadi gadis yang kuat, dan kau tahu Arthur?"
Mathilda menjeda ucapan nya hingga beberapa detik.
" Cucu kita sudah menikah dengan putra dari keluarga Ellison andai kau masih ada..kau tidak akan percaya." Mathilda tertawa geli saat bicara di akhir kalimat nya.
" Iya Kakek..Kakek pasti akan marah pada ku."
ucap Nausha dengan candaan.
" Nausha.."
" Iya Nek..."
" Kakek tidak akan marah pada mu."
__ADS_1
" Aku tahu Nek..aku hanya becanda."
" Arthur bisa kau datang menemui ku dalam mimpi saja aku sangat rindu pada mu."
" Iya Kakek..hadirlah di dalam mimpi Nenek, apa Kakek tidak merindukan Nenek?"
" Kau sudah tenang di sana Arthur, dan suatu hari nanti kita bertemu lagi."
,
,
,
,
" Nek, kita pulang yaa!"
" Iya cucu ku..Arthur kami pulang dulu."
Rose yang berdiri di belakang Mathilda sambil memayungi Mathilda membantu Mathilda berdiri.
Sampai di rumah, Nausha pun pamit pada Mathilda dan Rose untuk kembali pulang. Nausha memang tidak bisa menginap Mathilda pun tidak mengijinkan cucu nya menginap alasan Nausha sudah menikah dan harus pulang karena suami Affandi akan bertanya tanya.
" Nek..aku pamit pulang."
" Iya cucu ku..kau pun tidak ku ijinkan untuk menginap karena kau sudah punya suami jangan buat masalah dengan suami mu."
" Iya Nek."
Nausha akhirnya pulang sebelum jam 6 dia harus sudah berada di rumah, agar Affandi tidak curiga padanya. Namun kepulangan nya sampai di rumah Nausha melihat mobil Affandi rupanya suami nya sudah tiba di rumah. Nausha sudah memarkirkan mobil dan segera bergegas turun dari mobil dan sedikit tergesa gesa melangkah masuk dia akan menyiapkan makan malam untuk suami nya.
Tapi ternyata tanpa di duga oleh Nausha dalam rumah itu Affandi sedang bersama seorang wanita yang cantik. Membuat Nausha bertanya tanya siapa wanita yang di bawa Affandi kerumah ini. Wanita itu sedang duduk bersanding dengan Affandi di sofa, melihat Nausha sudah pulang Affandi berdiri.
" Kamu sudah pulang."
" Iya Pak Affandi.."
Mata Nausha menatap wanita itu dan wanita itu pun sama menatap Nausha.
" Sayang dia siapa?" ucap Soraya bertanya dengan mata nya menelusuri Nausha dari kepala sampai kaki.
__ADS_1
" Bukan siapa siapa..sayang."
Deg
Nausha hati nya tersentak dengan ucapan Affandi membuat dadanya sesak ia ingin marah saat itu juga namun dengan cepat otak nya berfikir dengan drama yang di buat Affandi ia pun harus memerankanya dengan baik di hadapan Kedua nya.
" Owh.." Soraya menganggukan kepala mata nya masih lekat menatap Nausha.
" Dia bekerja di rumah ini membantu Susan." lanjut Affandi
Nausha bersikap biasa saja di hadapan Affandi ia berusaha tidak menunjukan wajah marah, Nuasha pun hanya tersenyum.
" Baiklah saya masuk dulu." ucap Nausha.
Nausha Kembali melangkah dan pergi dari hadapan Affandi dan Soraya, Namun Affandi mengehentikan langkah Nausha.
" Nausha.."
" Iya Pak Affandi."
" Siapkan makan malam untuk kami berdua."
" Baik Pak Affandi." Nausha mengangguk dan langsung berlalu pergi.
Soraya masih menatap punggung Nausha sampai tidak terlihat di balik tembok di mana Nausha berjalan belok menuju kamarnya.
" Fandy.."
" Iya."
" Kau tidak salah mempekerjakan dia di rumah ini sebagai pembantu, dia cantik..aku takut kau akan tertarik dengan nya."
" Hem..pembantu tetap saja pembantu, kau lebih cantik di mata ku sayang."
Soraya pun tersenyum kedua tangan nya di letakkan pada kedua bahu Affandi. Affandi dan Soraya mulai memajukan wajah dan mereka berciuman di ruangan itu.
Nausha di dalam kamar duduk terdiam di tepi ranjang, rasa lelah pun langsung menggelayuti di tubuhnya, dan hatinya mulai merasakan sakit dengan ucapan suami nya tadi yang di akui hanya seorang pembantu.
" Seperti itu balasan Pak Affandi yang sudah ku tolong..keji sekali."
Nausha masih berada didalam kamar hingga 30 menit setelah beristirahat sebentar kemudian ia pun keluar menuju dapur untuk membuat makan malam.
__ADS_1