I APOLOGIZE

I APOLOGIZE
Gugup Dengan Pertanyaan Afffandi


__ADS_3

Esok hari nya Affandi ingin menemui Nausha setelah pulang dari kantor. Affandi tujuan nya ingin menanyakan mengapa Nausha tidak mau menerima pemberiannya yaitu rumah dan tanah yang memang sudah hak milik Nausha, dan apa alasannya Nausha menolak.


Affandi menyuruh supir nya untuk singgah ke cafe Nausha sebelum kembali ke mansion nya. Dan Affandi saat ini sedang dalam perjalanan menuju cafe Nausha.


Kedatangan Affandi kini di cafe belum di ketahui Nausha. Affandi begitu sampai cafe terlihat sedang ramai, dengan santai dan wajah dingin nya ia lalu mencari meja kosong kedua mata nya mencari sosok Nausha hingga anak buah Nausha langsung menghampiri meja Affandi.


" Selamat sore Tuan.."


" Hem.."


" Ingin pesan minum, Tuan?"


" Kopi hitam tanpa gula.."


" Ok..baik Tuan!"


" Sebentar!"


" Iya Tuan?"


" Di mana Ibu Nausha?"


" Ibu Nausha ada di ruangan nya, sebentar juga turun Tuan."


" Di mana ruangan nya?"


" Di atas Tuan."


" Tolong antarkan saya, saya ingin ketemu dengan istri saya!"


" Owhh..Tuan suami nya, maaf kalau begitu."


Anak buah Nausha langsung memanggil Mira sebagai asisten Nausha, dan Mira yang sudah kenal dan tidak asing dengan wajah Affandi langsung mengangguk hormat karena tahu siapa Affandi ini.


" Selamat sore Tuan Affandi, Tuan ingin bertemu dengan Kak Nausha, mari saya antar!"


Nausha setelah membantu anak buah nya, didalam ruangan itu masih memakai celemek sedang duduk terlihat ia sangat serius memeriksa laporan hasil cafe nya. Mata nya melihat kertas kertas di atas meja, sambil menjepit rambut nya yang asal ke atas hingga memperlihatkan lehernya yang putih bersih. Nausha tidak menyadari akan kedatangan Affandi.

__ADS_1


Tok tok tok


Mira membuka pintu, Affandi belum terlihat jelas di balik pintu itu. Nausha mengangkat kepala melihat Mira yang berdiri di balik pintu.


" Iya Mir..?"


" Kak ada..-"


Mira belum saja selesai bicara memberitahukan pada Nausha bahwa ada kedatangan Affandi, Pintu yang dibuka Mira baru separuh terbuka seketika saja tangan Affandi perlahan mendorong pintu itu hingga terbuka lebar menampilkan sosok dirinya yang kini terlihat jelas di mata Nausha berdiri di samping Mira, Nausha langsung terbelalak mata nya, begitu pun Affandi sudah melihat Nausha di meja itu, yang sedang duduk. Kedua pasang mata mereka pun langsung bersirubruk.


" Pak Affandi?"


Nausha terkejut dengan kedatangan Affandi yang tidak di sangka sangka. Lalu Mira tanpa disuruh pun langsung berlalu pergi setelah mengantar Affandi.


Affandi masih di ambang pintu, menarik nafas pelan. Tatapan kedua nya yang bersirubruk belum ada yang memutuskan


" Boleh saya masuk?"


Nausha.mengangguk lalu memutuskan tatapan lebih dulu, ia berdiri dari kursi mempersilahkan Affandi masuk.


" Silahkan..!"


" Apa kabar kamu, Nausha?"


" Baik Pak Affandi."


" Syukurlah.."


" Ada apa Pak Affandi kesini?"


" Ingin bertemu dengan kamu, yang masih istri saya." balas nya santai.


" Mantan sebentar lagi."


Affandi tersenyum kecil dengan dengusan nafas di hidung. Affandi pun duduk di sofa berukuran yang cukup untuk 3 orang.


Nausha masih berdiri belum selangkah pun jauh dari kursi terdiam, jujur dada nya campur aduk rasa nya, terkejut dengan kedatangan Affandi, ada was was takut pada Affandi, tapi ia juga sangat merindukan Affandi.

__ADS_1


Affandi ingin bertanya pada Nausha dengan gaya posisi duduknya yang elegan menyilang kan lutut kaki nya sangat menampakan sosok aura Affandi pemimpin yang tegas dan dingin, lalu matanya menatap Nausha kembali.


" Kamu memblokir nomor saya, kenapa?"


Nausha tertunduk dengan pertanyaan Affandi, mata Affandi terlihat seperti menscanning dirinya.


" Dan kamu kenapa menolak pemberian saya?" dengan tegas bertanya lagi


" Jawab Nausha?" Ucap Affandi terdengar ngebass tapi lembut.


" Pak Affandi saya sibuk..maaf!"


" Saya juga sibuk..kenapa istri ku?" lanjut Affandi mengangkat kedua alis nya.


Tubuh Nausha langsung gelenyar, dengan Affandi menyebut nya "istri ku" ia langsung mendongak pada Affandi, kemudian menunduk kembali, Nausha masih tidak tahan dengan tatapan Affandi yang sangat tajam pada nya.


" Jawab Nausha..!"


Nausha akhirnya menjawab pertanyaan Affandi yang begitu menekan, tapi memang itu lah cara Affandi karakternya pembawaan nya sebagai seorang pebisnis yang sukses sangat tegas bertanya pada lawan bicara nya bila bawahan nya melakukan kesalahan.


Nausha yang gugup, bicara nya pun terbata bata menjawab alasannya. Affandi benar benar seperti Ayah nya, Leonardo, bila mengajukan pertanyaan.


" Eugh..eum, Pak Affandi saya ha- hanya..-"


" Hanya apa Nausha?"


" Maaf..saya tidak bisa menerima pemberian yang Pak Affandi berikan sebagai kompensasi kan ?"


Affandi mengangguk kecil dengan alasan Nausha ia ingat memang benar yang di katakan Nausha, tapi itu dulu, sekarang ia berubah karena perasaan pada Nausha tidak ingin kehilangan.


" Lalu kenapa memblokir nomor saya?"


" Karena memang kita su- sudah.."


" Sudah berpisah begitu maksud nya?"


" Iya..!"

__ADS_1


.



__ADS_2