I APOLOGIZE

I APOLOGIZE
Telpon Dari Enrico


__ADS_3

" Kita belum berpisah dan saya belum menceraikan kamu."


" Pak Affandi lalu mau Bapak apa?"


Affandi kemudian beranjak dari sofa, langkah nya perlahan mendekati Nausha, tubuh Nausha memutar seiring mengikuti arah Affandi yang terus mendekati nya, dada Nausha berdegup kencang menatap Affandi yang juga menatap nya. Ketika Affandi langkahnya sudah semakin mendekat, Nausha ingin mundur tapi terhalang meja di belakang nya, Affandi berhenti tanpa menyisakan jarak dengan Nausha. Tiba tiba saja tubuh Affandi di majukan, Nausha di kungkung nya dengan kedua tangan Affandi yang kekar di letakkan di sisi meja. Nausha kini terperangkap dengan tubuh Affandi yang tinggi besar, sampai sampai Nausha condong kan tubuhnya kebelakang menjauhi wajah Affandi.


" Pak Affandi ma-u a-apa?" tanya Nausha yang terbata bata.


Affandi mengubah wajah nya menjadi lembut tidak mau membuat Nausha takut, ia ingin mengungkapkan rasa yang di pendam nya. Ia memang yang mengusir Nausha, tapi mengusir Nausha pergi malah membuat hari hari nya menjadi kacau. Affandi ingin bicara jujur akan isi hatinya saat ini juga, ia menatap Nausha lekat lekat bola matanya lalu bergerak menyusuri wajah Nausha, bibir, hidung, mata istri nya yang sesungguh nya ia rindukan. Ia ingin bicara dari hati ke hati, ia tidak mau lagi antara dia dan Nausha bicara secara formal. Bibir Affandi bergerak mulai bicara.


" Aku tidak akan menyakiti mu lagi.."


Telinga Nausha mempertegas ucapan Affandi merubah panggilan menjadi aku dan mu, apa Affandi ingin lebih dekat dan lebih intim dengan nya.


Affandi sengaja memajukan lagi tubuhnya hingga kini dada bidang nya menempel pada bagian depan Nausha, kedua tangan Nausha berusaha mendorong dada Affandi tapi Affandi tak bergerak dengan dorongan tangan Nausha.


" Pak Affandi Jangan seperti ini, Bapak jangan sampai berlaku gila di ruangan saya.."


Affandi tidak perduli dengan cepat malah menarik Nausha dan melingkarkan kedua tangan nya di pinggang Nausha.

__ADS_1


" Ya aku memang gila Nausha, aku terlalu gila merindukan mu..!"


Deg.


Nausha membeku dengan ucapan Affandi, mata nya semakin terkunci dengan sorot mata Affandi. Nausha berusaha memutuskan sorotan mata Affandi, ia menggelengkan kepala.


" Tidak Pak Affandi, Bapak tidak boleh merindukan saya, ingat! kembali dari awal..Bapak sudah mengusir saya dan ingin kita bercerai sesuai dengan kesepakatan itu, Bapak harus bahagia dengan wanita yang di jodohkan untuk Bapak..lepaskan saya!"


" Tidak Nausha..aku belum menerima perjodohan itu..!" Affandi menggeleng.


Wajah Affandi kemudian maju perlahan sampai ujung hidung mancung nya menyentuh ujung hidung Nausha, istrinya di buat nya tak berkutik. Bibir Affandi mulai menyentuh bibir Nausha. Nausha merasakan sentuhan bibir Affandi dan mulai memejamkan mata. Saat bibir Affandi bergerak melu**t bibir Nausha, ia sadar dan mengumpulkan kewarasan nya, buru buru melepaskan bibir nya dari ******* bibir Affandi. Nausha menarik nafas ia hampir terbuai, Nausha menguatkan diri nya ia tidak mau lagi di permainkan Affandi.


Affandi masih bertahan tidak selangkah pun mundur dari hadapan Nausha. Kalaupun ia mendapat tamparan lagi dari Nausha, ia akan menerima itu.


" Sebaik nya Bapak keluar sekarang!"


" Nausha..aku tidak akan pernah mence..-"


Ucapan Affandi terjeda dengan suara ponsel di atas meja yang berdering, Nausha menoleh pada ponsel nya ia merasa terselamatkan dari kungkungan Affandi oleh suara panggilan ponsel, namun ia tidak tahu siapa yang menelpon nya karena ponselnya berada agak di belakang tubuh nya, Affandi meraih ponsel Nausha sebenarnya ingin membantu mengambil nya tapi tidak di sengaja Affandi melihat yang menelpon Nausha adalah Enrico teman nya sendiri. Terlihat jelas muncul nama dan foto Enrico pada layar ponsel.

__ADS_1


" Enrico..?" Kening Affandi mengerut melihat layar ponsel.


Membuat Affandi bertanya tanya, ada urusan apa teman nya itu menelpon istrinya, Affandi teringat ia memang pernah melihat Enrico masuk ke cafe Nausha apa sejak itu teman nya mengenal Nausha dan dekat dengan Nausha. Ponsel Nausha belum berhenti berdering, Nausha ingin menjawab panggilan dari ponsel nya.


" Berikan ponsel nya Pak!"


Affandi memberikannya, saat Nausha menerima ia mendadak gelisah karena Enrico yang menelpon nya secara Enrico dan Affandi adalah teman dekat. Nausha agak ragu menjawab panggilan Enrico.


" Angkat dan jawab lah!" Affandi mempersilahkan.


Affandi kepo ingin tahu apa yang di bicarakan Enrico menelpon Nausha, walau bagaimana pun Nausha masih istrinya. Affandi berdiri masih dekat dari jarak Nausha ia menyilangkan kedua tangannya di dada.


" Iya halo Enrico ada apa?" sambil mata nya menatap ke Affandi yang mengintimidasi


" Aku ingin mengajak mu jalan, bagaimana kalau besok aku jemput kamu..?"


" Maaf Enrico aku tidak bisa!"


Affandi tiba tiba merebut ponsel dari tangan tangan Nausha kembali. Nausha ingin merampas ponsel nya tapi Affandi menjauhkan jarak. lalu ponsel itu di tempelkan ke telinga nya kini Affandi tahu tujuan Enrico menelpon ingin mengajak Nausha. Kedengaran jelas teman nya itu sedang usaha pada istrinya. Tanpa sadari oleh Enrico percakapan nya bukan dengan Nausha lagi tapi dengan Affandi. Wajah Affandi kembali dingin hingga akhir nya ia sengaja mematikan sambungan Enrico.

__ADS_1


Affandi mengepalkan tangan ia akan menemui Enrico, setelah ini.


__ADS_2