
" Sedekat apa hubungan teman ku Enrico dengan mu, Nausha?" Affandi menaikkan sebelah alisnya.
Nausha hanya diam tidak mau menjawab buat apa dirinya dengan Enrico memang tidak ada hubungan apa apa. Affandi menarik nafas berusaha menenangkan dirinya jangan sampai ia gegabah dan berbuat kasar lagi memaksa Nausha seperti waktu hari lalu, dengan mencecar pertanyaan pada Nausha. Terserah pada Nausha mau menjawab atau tidak.
" Baiklah..!" Tangan nya sambil mengembalikan ponsel Nausha.
" Saya pinta, Bapak tidak usah lagi menemui saya..sekarang keluarlah!"
Affandi terdiam sejenak, ia harus keluar Nausha mengusir nya.
" Iya..aku keluar!"
Affandi melangkah pelan menuju pintu tapi di balik itu terlihat guratan kesedihan di wajah Affandi. Nausha sama sekali tidak mau melihat Affandi sampai Affandi membuka pintu keluar dan menutup nya kembali, begitu Affandi sudah tak terlihat, Nausha langsung menghempaskan bokong nya terduduk lemas dikursi itu, tangan nya sambil mengusap dada merasakan detak jantung nya. Ini akan membuat diri nya makin tidak bisa melupakan Affandi, apalagi ciuman itu ciuman Affandi yang begitu lembut yang baru ia rasakan. Nausha mengusap bibir nya menghilangkan jejak bibir Affandi.
2 hari berlalu sejak Affandi menemui Nausha Affandi kurang semangat bekerja, di kantor pun ia sering melamun memikirkan Nausha hubungan nya dengan Nausha semakin rumit apalagi Enrico rupanya tertarik dengan Nausha, ia tidak lupa percakapan Enrico yang sempat ia dengar di sambungan ponsel Nausha seperti ingin berusaha membuat Nausha bahagia.
" Bangsat kau Enrico..!" Affandi bergumam nada kesal.
__ADS_1
Affandi akui, teman nya itu tak kalah kaya dengan nya, sama sama pengusaha sukses di tambah Enrico yang tampan dan masih berstatus jomblo bisa bisa Nausha mempertimbangkan nya dan memilih Enrico.
Lamunan Affandi tersentak karena di kejutkan suara ponsel nya, Affandi dengan malas malasan menjawab telpon dari temannya.
" Halo bro, nanti malam kau datang ya!"
Percakapan singkat Brian dan Affandi temannya mengajak berkumpul di sebuah hotel, Affandi mengiyakan karena dirinya memang butuh penyegaran pikiran nya yang mumet. Bertemu dengan teman teman yang satu circle yaitu sama sama pengusaha. Seperti biasa kalau sudah berkumpul akan ada suguhan wanita cantik dan seksi, juga minuman.
Tiba di hotel itu Affandi datang sendiri, sampai di kamar sudah ada 2 orang temannya Brian dan Alfonso berserta tangan kanan mereka. Brian menyambut Affandi.
" Hai bro..apa kabar, kenapa kusut wajah mu?"
Affandi hanya tersenyum.
" Kalau begitu kita tidak salah mengajak mu berkumpul, wajah mu akan cerah..aku sudah menyediakan wanita cantik untuk mu." Ucap Brian seraya menepuk bahu Affandi.
Affandi lalu duduk di sebelah Alfonso, tawaran yang menarik dari teman teman nya itu memang sangat membangkitkan gairah lelaki. Tapi itu tidak membuat Affandi tertarik ia hanya diam dan mulai menyesap minuman yang di sodorkan oleh Brian. Karena giliran Brian lah yang mentraktir dan membayar sewa hotel juga wanita seksi.
__ADS_1
" Nikmatilah..ini semua giliran ku!"
Tidak lama Enrico Eldraz datang, dengan gaya nya yang murah senyum terhadap kawanan teman teman nya.
" Apa aku sudah terlambat?"
" Belum..kita semua belum lama datang." Balas Brian.
Di antara mereka Brian memang yang lebih tua umur nya. Brian sosok yang banyak bicara tapi dia lah yang selalu bisa menasehati teman teman nya bila sedang ada masalah.
Ketika Enrico datang, Affandi menatap Enrico dingin dan wajah yang tidak bersahabat. Terlihat Brian ketika Enrico menyapa Affandi dan memberi tangan Affandi tidak menyambut nya.
" Apa kabar Affandi..?"
" Baik.." jawab nya singkat tidak menatap Enrico.
Enrico melihat Affandi acuh pada nya ia hanya mengangkat kedua bahu nya dan mengangkat kedua alis nya pada Brian dan Alfonso yang tidak mengerti. Brian langsung antisipasi segera mengajak mereka bersulang toast.
__ADS_1
" Ok semua sudah berkumpul, mari kita senang senang!"