Ibuku Tidak Ingin Menikah

Ibuku Tidak Ingin Menikah
Bab 10 nakal


__ADS_3

Rifa yang sudah memberi hadiah pada Long merasa sangat bosan, ia makan dipojokkan sambil melihat sekeliling orang yang berwajah tersenyum penuh intrik.


" Hallo cantik, mau aku temanin minum?" kata seorang pemuda dengan wajah mesum datang di sampingnya dan mulai minum sendiri.


Rifa merasa tidak nyaman berdekatan dengan orang asing, apalagi pemuda ini yang memiliki niat tidak baik. Melihat Baltic yang lewat, Rifa akhirnya bisa keluar dari situasi ini.


" Baltic aku di sini! Maaf tuan teman saya mencari saya, jadi saya tidak akan mengganggu anda lagi" kata Rifa tersenyum sopan dan berjalan ke arah Baltic.


Pemuda ini ingin menghentikan Rifa dengan menarik pergelangan tangannya, tapi melihat orang diseberang. Pemuda ini tidak berani lagi dan kembali menarik tangannya sendiri


" Mengapa kamu sendirian di sana, tidak aman untuk gadis sepertimu. Kebetulan hari ini aku tidak membawa pasangan jadi kamu bisa menjadi pasanganku untuk hari ini" saran Baltic menyodorkan posisi lengannya


Rifa memutar matanya melihat tingkah Baltic yang sembrono


" Aku terlalu malas menemanimu untuk bersosialisasi dengan wajah munafik, terimakasih untuk tadi. Aku mau pulang saja lagipula acaranya sudah selesai"


Baltic merasa kesal karena niat baiknya ditolak olehnya tapi apalah daya temannya satu ini tidak suka bersosialisasi diacara seperti ini yang hanya mencari wajah untuk kepentingan masing-masing, tentu ini sudah menjadi hal biasa dilingkaran bisnis. Tapi Rifa tidak menyukainya.


" Baiklah aku antar kau pulang saja, aku sudah tidak punya urusan di sini. Sekalian mampir ke rumahmu untuk makan" ujar Baltic dengan kurang ajar dan mengambil tangan Rifa untuk berjalan bersama.


"Dasar bajingan! Aku bisa pulang sendiri, kalau mau makan ada banyak makanan di sini dan banyak restaurant di luar sana. Kenapa juga aku harus menurutimu hmm" kata Rifa kesal dan mencoba menarik tangannya tapi gagal.


" Kamu gadis harus tahu menjaga diri, jangan terus menolakku. Kamu wanita sangat beruntung untuk aku antar pulang, lihat gadis-gadis di sekelilingmu. Mereka iri melihatmu denganku"


Rifa melihat sekeliling dengan ngeri, banyak pasang mata wanita-wanita ini yang seperti ingin membunuhnya. Rifa kesal dan memukul bahu Baltic dengan lengan yang lain


" Narsis! Siapa juga yang mau denganmu, jangan membuat masalah untukku. Cepat lepaskan!"


Baltic tentu tidak akan melepaskannya, menarik tangan Rifa menuju ke luar dan mengantarnya ke rumah dengan mobil.

__ADS_1


Para wanita disekitarnya merasa disayangkan, pemuda yang tampan sayang sekali tidak tertarik pada mereka.


......................


Malam tiba, Leiya sedang bermain dengan ponselnya sesekali melirik Sime yang sedang memecahkan teka teki.


" Btw, aku belum pernah melihat ayahmu? Dimana dia?" tanya Leiya pada Sime


Sime mengangkat bahu" Ayah sedang bertugas, dia seorang tentara jadi ayah pulang setahun sekali selama dua minggu"


" Ooh lalu dimana kakek nenekmu? Setidaknya mereka bisa menjaga saat orang tuamu sibuk bukan" Tanya Leiya dengan prihatin yah ternyata bocah bau ini sungguh menyedihkan.


" Kakek nenek dari pihak ayah ada di ibukota, aku sering main ke sana jika ingin. Sedangkan kakek nenek dari pihak ibu sudah meninggal sebelum aku lahir, rumah ini juga peninggalan kakek nenek" jelas Sime


Leiya mendengarkan cerita Sime dan menganggukan kepalanya dari waktu ke waktu


" makanya ibumu senang sekali saat tahu Bibi Wen datang, okelah aku tidak mengganggumu lagi anak kecil. Aku mau pergi main, jangan bilang ke Bibi Wen loh" ujar Leiya berdiri menepuk pahanya.


Leiya mengerutkan kening tidak setuju, karena teman balap Leiya dulu waktu sekolah sekarang mengajaknya menonton dia balapan. Tentu saja sangat berbahaya membawa anak sekecil itu, sangat merepotkan jika terjadi sesuatu padanya.


" Kak aku mohon ya, jangan tolak aku. Kakak tahu aku sendirian sangat membosankan" mohon Sime dengan muka memelas.


Leiya tidak tahan dengan wajah bayi Sime yang lucu, akhirnya dengan terpaksa Leiya menyetujui permintaanya.


" tapi kamu harus janji mendengarkan aku, kalau tidak!..." ancam Leiya menunjukkan tinjunya


" Baik kak aku janji" sumpah Sime dengan senang hati.


" Ayo pergi" ajak Leiya menggandeng tangan Sime ke luar.

__ADS_1


Di luar sudah ada taksi yang Leiya pesan sedang menunggu, mereka pergi ke tempat tujuan.


Sesampainya ditujuan, Leiya mencari sosok temannya itu yang ternyata sudah menemukannya terlebih dahulu.


" Sayang! Lama sekali kita tidak berjumpa, semakin gemuk kau ini ya. Wait.. tunggu...tunggu! Siapa anak kecil ini? Kamu?" ucap pemuda itu menatap Leiya dari atas ke bawah dengan tidak percaya.


" Apa apaan kamu! Dia keponakanku, masa iya aku yang baru umur 20 punya anak sebesar ini. Gila! Dan aku tidak gendut!! Awas ku pukul kau" rutuk Leiya.


Mereka bertemu dahulu di arena balap yang acaranya diadakan oleh komunitas- komunitas lokal yang bersaing, Boy ini kuliah di negara bintang ( tempat asal Leiya) dan sering mengikuti event-event di sana. Namanya pun terkenal dikalangan itu karena saat pertama kali bertemu, boy ini meremehkan pembalap wanita dan menggoda Leiya.


Tapi hasilnya Leiya menang dan ia memukul Boy untuk melampiaskan amarahnya agar tidak meremehkan para wanita, Boy mengaku kalah dan ingin membalas dendam tapi setiap bertanding ia akan berakhir dipukul lagi oleh Leiya, makanya Boy sekarang tidak berani lagi untuk mempersulit Leiya.


" Baiklah leluhurku aku minta maaf, kamu tidak gemuk, kamu yang paling cantik. Ayo aku ajak kamu berkenalan dengan anggota balap kami di negara ini" ajak Boy membawa Leiya dan Sime ke pinggir arena tempat para pemain berkumpul.


Sime memegang tangan Leiya dengan erat, ia baru pertama kali melihat orang-orang yang berpakaian seperti punk ini dan menonton balapan. Sime merasa sedikit bersemangat.


" kawan- kawan semua, perkenalkan ini temanku dari negara bintang namanya Leiya dan ini keponakan kecilnya" kata Boy memperkenalkan kepada tiga temannya.


" Yo, apakah ini wanita yang kamu ceritakan yang memukulimu sampai ibumu itu tidak mengenalimu he? Lumayan cantik, tapi hebat juga kamu bisa mengalahkan saudara kami Boy" ujar pemuda yang duduk di atas motornya sambil merokok


" apakah kamu calon ipar masa depan kami cantik? Selera boy memang tidak buruk, sangat menggemaskan" kata pemuda yang berambut punk warna pink itu gemas melihat pipi chubby milik Leiya


" ya keponakanmu juga tidak buruk, apakah kamu mau jadi pembalap anak kecil? Ayo aku ajak kamu main nanti ya, apakah kamu takut?" kata teman Boy satu lagi yang dengan akrabnya menggendong Sime.


Wajah Leiya berkerut tidak senang, memang teman yang dibuat Boy pasti tidak akan normal semua.


Jika Boy tahu isi hati Leiya mungkin dia akan mengutuk Leiya" bagian mana dari dirimu yang normal juga, kamu juga tidak normal oke"


Melihat Leiya yang tidak senang, Boy buru-buru berkata

__ADS_1


" Kalian diamlah, ini temanku. Calon ipar apa? Apakah aku akan dipukuli setiap hari olehnya jika benar- benar menjadi iparmu! Kamu Akaf lepaskan anak itu, dia masih kecil jangan main- main"


" Baiklah mari mulai pertandingannya, bukankah kalian sudah tidak sabar tadi, ayo cepat"


__ADS_2