
" Ada apa bos?" tanya pelayannya yang melihat Bos mereka termenung lama.
Wanita berpakaian merah itu tidak menjawab, ia hanya menunjukkan benda itu agar pelayannya melihat.
Saat matanya memandang ke arah benda ditangan Bosnya, ia juga tidak bisa berkata-kata.
" Bos..ini...ini logo Raja, apakah wanita itu memiliki hubungan dengan Raja? Bagaimana ini, kita dalam masalah besar!" kata pelayannya itu dengan gugup. Ia berjalan mondar-mandir sambil sesekali menyentuh dagunya.
" Bagaimana..."
Melihat bawahannya yang berbicara sendiri, Wanita berbaju merah memegang kepalanya yang tidak pusing, "Bisakah kamu diam!"
Mendengar nada marah Bosnya, pelayan itu segera berdiri tegak dan diam ditempat. Tapi tangannya tidak bisa untuk tidak bergerak, ia berpikir apa yang harus dilakukan.
Kepulangan Raja mereka ini sudah begitu dinanti setelah lima belas tahun lamanya, bagaimana bisa mereka membuat Raja marah? Mungkin Bos mereka akan langsung ditembak oleh para tetua!
" Kenapa kamu begitu khawatir, ini hanya gambar kecil. Aku punya rencanaku sendiri, semua akan baik-baik saja. Tenang dan kembalilah bekerja," ucap Wanita berbaju merah dengan santai.
Melihat sikap Bosnya yang seperti tidak tahu keseriusan masalah, Pelayan itu sangat geram. Para tetua sudah mentolerir perilaku Bos mereka yang berpura-pura menjadi Raja selama Raja menghilang.
Bukannya sekarang mereka harus menjilat paha Raja agar tidak mempermasalahkan kekacauan yang dibuat Bos mereka saat lampau, bagaimana bisa menyinggungnya!?
Bos mereka menyebut dirinya Raja membuat orang lain salah paham tentang gender sebenarnya dari Raja, tapi para tetua tidak pernah mengklarifikasi kepada publik. Membuat Bos mereka berbuat semaunya dengan nama Raja mereka.
Wanita berbaju merah itu kesal dengan pelayannya yang terlalu banyak berpikir, ia melambaikan tangan memberikan isyarat agar pengawal yang tadi membawa tas Leiya untuk mengusir pelayannya itu dari hadapannya.
Benda ditangannya tidak berat dan tidak juga ringan, entah kenapa Raja mau memberikan benda ini pada wanita biasa seperti dia. Wanita berbaju merah itu merasa cemburu karena di pulau mereka dialah satu-satunya yang memiliki barang seperti ini. Sekarang Raja juga memberinya pada orang lain. Wanita berbaju merah merasa benda miliknya sudah tidak berharga lagi.
Gantungan kunci itu seperti gantungan biasa berbentuk makaron. Tapi sudut-sudut bandul itu membentuk pola beraturan dengan aksesoris yang ada, membuat bawahan Raja tahu itu sebagai tanda pengenalnya.
Wanita berbaju merah itu berencana mengeksekusi Leiya di rumah ini malam harinya, tapi setelah melihat gantungan kunci itu. Dia berubah pikiran.
__ADS_1
Ia memainkan gantungan itu ditangan kirinya dan memandang ke atas dengan seringai. Jika wanita itu benar-benar memiliki hubungan dengan Raja, bukan dia yang rugi. Lagipula percakapannya dengan orang itu masih terekam, paling-paling dirinya hanya akan dihukum ringan.
" Haiss...Wanita itu memang menarik, sepertinya dia wanita yang sangat beruntung," katanya menggelengkan kepala dan tertawa.
Leiya sangat beruntung karena setiap target yang sudah wanita itu incar, tidak pernah sekalipun ada yang lolos. Kecuali satu orang. Saat mengingat orang itu, Wanita berbaju merah itu mendengus marah. Lupakan.
......................
" Ayah!"
Melihat Laskar berlari ke arahnya, Arya dengan sigap mengulurkan kedua tangan dan mengangkat Laskar ke pelukannya.
" Tidak apa-apa, ayah ada di sini. Semuanya akan baik-baik saja," kata Arya mengusap kepala Laskar untuk menenangkannya.
Laskar yang sudah lama tertekan kini mulai menangis dipundak ayahnya, " Ayah cepat selamatkan Bubu!"
" Ayah tahu, kamu tenanglah. Sekarang istirahat dan makan sesuatu dulu, dengarkan Paman Kona dengan patuh oke," ucap Arya dengan lembut, melihat Laskar mengangguk patuh. Arya tersenyum lega, ia memberikan Laskar pada sekertarisnya dengan hati-hati.
Arya segera menghampiri Bos Warung dan juga Polisi untuk meminta penjelasan, setelah mendengar apa yang mereka katakan. Arya mengangguk dan mengucapkan terima kasih, ia memberi Bos warung itu cek dengan tujuh angka nol di belakangnya lalu pergi.
Siapa aku? Dimana aku?
Polisi di sampingnya memandang dengan iri, ia menepuk pundak Bos Warung dengan keras, "Ada apa denganmu, cepat ke bank dan cairkan uangnya. Jangan lupa untuk berbagi sedikit denganku,"
Bos Warung segera tersadar, ia menyimpan cek itu dengan hati-hati lalu segera pergi ke luar meninggalkan jejak punggungnya.
Pak Polisi"...."
Sial!
...****************...
__ADS_1
Malam hari, Rumah kosong.
Leiya yang dikurung di kamar entah bagaimana diperintahkan untuk mengganti pakaiannya dengan sebuah gaun putih selutut.
Ia hanya menuruti permintaan itu tanpa banyak bertanya, lagipula hak apa yang dia miliki di sini. Masih hidup semenit kemudian saja sudah begitu beruntung.
Leiya hanya berharap Laskar dapat hidup dengan baik bersama ayahnya.
Mengingat kembali wajah Arya yang selalu tersenyum padanya, Leiya tertawa getir. Entah kenapa ia ingin menangis saat mengingat dia . Apakah Arya sudah masuk terlalu jauh ke dalam hatinya? Sampai bahkan disaat seperti ini, ia berharap Arya datang dan berada di sisinya.
" Nona ayo keluar," kata pelayan yang mendandani Leiya itu, ia menepuk pundak Leiya yang membuatnya segera tersadar dari lamunannya.
Pelayan itu mengembalikan tas Leiya ke tangannya, Leiya menerimanya dengan tenang lalu melangkah mengikuti pelayan ke luar dari kamar.
Kamar? Entah apakah ruangan yang mengurungnya itu masih bisa disebut dengan kamar, atau lebih tepatnya kurungan.
Leiya dituntun untuk masuk ke dalam mobil lagi, hanya saja sekarang tidak banyak pengawal yang mengikuti.
Wanita berbaju merah itu sudah duduk dengan anggun di dalam mobil, ia tersenyum ke arah Leiya lalu dengan tenang memberi isyarat agar Leiya duduk di sebelahnya.
" Kamu sangat cantik, pilihanku tidak pernah salah," kata Wanita yang sekarang memiliki gaun merah menyala.
Ia menatap Leiya dari atas ke bawah dengan puas, Wanita itu memilih sendiri gaun untuk Leiya. Melihatnya sekarang, gaun itu sangat cocok dengan kulit Leiya yang cerah.
Melihat senyum Wanita itu, Leiya hanya merasa dingin di punggungnya. Wanita seperti dia tidak bisa ditebak, sekarang ia tersenyum ramah. Tapi sedetik kemudian ia bisa dengan kejam membunuhmu tanpa disadari, orang-orang seperti ini sungguh kejam.
Setelah Leiya duduk dengan patuh, Wanita bergaun merah dengan tenang menyuruh sopirnya melajukan mobil itu ke arah pelabuhan.
Entah apa yang ada dipikiran wanita itu, selama Leiya dalam proses diculik sampai sekarang. Ia tidak pernah sekalipun diminta untuk menutup matanya. Mungkin memang Wanita bergaun merah hanya melihatnya sebagai orang mati, jadi apa yang perlu diwaspadai.
Saat melihat kapal pesiar mewah di depannya, Leiya yang dibawa masuk oleh pengawal itu tertegun.
__ADS_1
Ia juga khawatir dengan apa yang akan dilakukan Wanita bergaun merah itu padanya.
" Ayo cepat masuk," kata pengawal dengan paksa menarik tangan Leiya agar berjalan lebih cepat.