
Arya duduk di ruang kerja dengan Leiya yang sudah berganti pakaian wanitanya.
" Pakaian ini sangat nyaman, ukurannya juga pas. Bagaimana kamu tahu aku memakai ukuran ini?" kata Leiya dengan senang hati berjalan duduk di depan Arya.
Arya menatapnya dengan ambigu yang menbuat Leiya menghentikan gerakannya
" Sudahlah anggap saja aku salah bicara"
Arya tertawa kecil lalu berkata
" Bukankah kamu seorang desainer, lihat buku catatan kecil yang selalu kamu bawa. Ukuranmu ada di halaman paling depan sangat mudah untuk melihatnya " kata Arya menjelaskan
" Oh, baiklah sekarang ayo mulai berbicara bisnis. Bagaimana dengan sekolah yang kamu sebutkan untuk Laskar" kata Leiya berdehem
Arya menyerahkan laptopnya pada Leiya untuk melihat
" Lihat ini sekolahnya, fasilitasnya adalah yang tercanggih di negara ini dan sangat lengkap" kata Arya
Sebenarnya ada hal yang tidak diberitahu Arya kepada Leiya yaitu untuk masuk ke sekolah ini tidak semuanya bisa masuk, hanya keluarga tertentu yang bisa masuk. Di negara bintang, hanya terdapat lima keluarga dan setiap keluarga mempunyai tiga kuota setiap tahunnya. Dan lima kuota khusus untuk negara.
" Waah sangat mewah, ini sekolah internasional ya. Lihat ada guru dari luar negeri. Bukankah sangat mahal untuk sekolah di sini?" tanya Leiya ragu
" Tidak masalah, aku mampu membelinya" ujar Arya dengan tenang
Leiya mengangguk setuju, yah untuk Arya apa yang tidak bisa dilakukan. Leiya melihat-lihat lagi gambar sekolah itu dengan cermat
" Tunggu, ini bukan di negara kita? Dimana ini? Kenapa tidak ada keterangan lokasi" tanya Leiya dengan heran
" Itu tempatnya dirahasiakan, kamu tahu kalau sekolah ini adalah sekolah berkumpulnya para jenius di dunia jadi untuk menghindari hal-hal yang negatif mereka menutupnya dari publik" kata Arya terbatuk
Leiya mengangkat alisnya heran, masih ada sekolah dengan sistem seperti itu? Ia memandang Arya dengan tidak yakin, jangan-jangan dia mau menculik Arya berkedok sekolah.
Arya dengan tak berdaya mengeluarkan bukti ijazah kelulusannya.
" Aku tidak berbohong kepadamu, lihat ini. Aku juga berasal dari sana" katanya menyerahkan selembar kertas
__ADS_1
Leiya melihatnya dan memang ijazah ini asli, ia meletakkannya di meja dan berpikir kalau Laskar sekolah di situ bagus juga, masa depannya akan lebih terjamin dan dia bisa melakukan hal yang disukainya.
" Kalau begitu aku pikir ini layak untuk Laskar, berapa semester untuk lulus dari sekolah ini? Apakah sama dengan sekolah lain?" tanya Leiya sambil minum air di cangkirnya
"itu seharusnya selama lima tahun Laskar harus belajar di sana" kata Arya menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal
Leiya kaget mendengarnya dan tidak sengaja menyemburkan air yang diminumnya.
" Kamu gila! Bagaimana anak sekecil itu harus berpisah dengan orang tuanya, katakan apakah kamu menyembunyikan niat buruk padaku? Mau merebut Laskar untuk dididik menjadi ahli waris? Yah seharusnya aku tidak mempercayaimu, kalian para pebisnis memang selalu licik!" kata Leiya tidak terima karena harus dipisahkan dengan anaknya.
Leiya keluar dari ruang belajar Arya menuju kamar Laskar dan menguncinya.
Sekolah rahasia apa! Mana ada sekolah seperti itu, dasar bedebah berani menipunya untuk merebut Laskar!
Arya mengejarnya dan mengetuk pintu kamar Laskar
" Tidak Leiya, dengarkan aku. Bagaimana bisa aku memaksanya belajar ke sana, bukankah aku sedang berdiskusi denganmu. Jika kamu tidak setuju maka ayo pilih sekolah lain" bujuk Arya
Leiya yang sedang marah tidak bisa mendengar bujukan Arya, ia menganggap itu hanya jebakan lain. Ia keluar membawa tasnya ingin pulang.
" Leiya mau kemana? Ayo bicara dengan baik, aku sungguh tidak bermaksud seperti itu"
" Aku mau pulang, jangan ikuti aku. Laskar adalah anak yang aku lahirkan dan aku besarkan, aku tidak akan membiarkannya direbut olehmu!"
Arya menatap tanpa daya, ia memang seperti orang asing bagi Leiya. Bagaimana dia bisa mempercayainya, mungkin dihatinya ia selalu menjadi penjahat yang berusaha memisahkan ibu dan anak.
" Kalau begitu aku akan mengantarmu pulang, kita bicara lagi jika kamu sudah tenang" kata Arya mengalah
Ia membuka pintu mobil dan menyeret tangan Leiya masuk ke dalam.
Sepanjang perjalanan suasananya sangat hening, tidak ada yang berbicara. Leiya melihat keluar jendela dengan bosan, ia tidak ingin melihat wajah orang di sampingnya.
Setelah tiba di rumah Rifa, Leiya segera turun.
" Leiya pikirkan baik-baik apa yang aku katakan tadi, aku juga ayahnya bagimana bisa aku membuatnya kesulitan"
__ADS_1
Setelah mengucapkan kata-kata itu ,Arya pergi mengendarai mobilnya.
Leiya masuk ke rumah, ia minum air dingin untuk meredakan emosinya. Setelah menarik napas dalam-dalam, ia akhirnya tenang.
Yah walaupun yang dikatakan Arya membuatnya marah, itu tidak mengubah fakta kalau Laskar adalah anaknya, dan Arya memang memiliki hak ikut campur dalam pendidikan Laskar.
Dan sekolah itu seharusnya memang ada, Arya tidak mungkin mengirim anaknya sendiri ke sarang serigala.
Leiya mengusap keningnya yang pusing, biar dia bicarakan ini pada Laskar dulu. Entah bocah itu akan menangis atau tertawa senang mendengarnya.
Leiya mendapat telepon dari penyelenggara pesta amal, ia dengan cepat menjawabnya
" Hallo yah baiklah aku mengerti"
Leiya melihat rumah kecil Rifa dengan tidak berdaya, sudah seharusnya ia membeli rumah sendiri. Di sini bahkan ruang tamu Rifa penuh dengan barang-barangnya, ia harus membeli rumah dan membuat ruangan khusus sendiri untuk studionya.
Penyelenggara pesta amal menelpon untuk mengkonfirmasi kedatangannya, sebenarnya Leiya tidak suka datang apalagi harus bertemu keluarga itu. Tapi penyelenggara lelang amal ini merupakan salah satu pelanggan setianya yang selalu memesan pakaian darinya setiap musim, tidak mungkin ia mengecewakannya.
......................
" Bos undangannya sudah ada" kata pria bertopeng menyerahkan sebuah amplop pada Gio.
" Bagus, Siapkan kursi rodaku, besok di lelang amal aku tidak akan datang dengan identitas memalukan itu, biar kulihat apakah ayah akan mengenali anak haramnya ini. Jika dia tahu aku membuka perusahaan sendiri yang lebih unggul darinya, katakan apakah dia akan muntah darah?" kata Gio dengan seringai dingin memakai topeng di wajahnya.
...****************...
Malam hari, Bai berkendara ke rumah itu lagi, tapi di tengah jalan ia melihat wanita tiba-tiba menghentikan mobilnya, ia mengerem dengan mendadak yang mengeluarkan bunyi mencicit.
Wanita itu ternyata wanita yang pernah ditemuinya di bar, ia langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelahnya.
" Hei ayo cepat jalan!" ujarnya sambil melihat ke spion
" Apakah kamu mau mati!" geram Bai melihat wanita ini dengan kesal.
Raya menengok ke arah Bai dengan cengiran dan tatapan tidak bersalah.
__ADS_1
" Maaf merepotkanmu lagi"
Melihat wanita ini yang tidak tahu malu bahkan duduk dengan santai, Bai menginjak pedal gas dengan cepat. Raya yang belum memakai sabuk pengaman terkejut lalu segera memakainya, pria ini memang tidak berperasaan seperti biasa!