
Di sisi lain, Bai meninggalkan helikopternya di dekat pulau, ia memutuskan naik motor bersama Leiya dan Raya untuk masuk ke dalam agar tidak menjadi pusat perhatian.
Takutnya mereka langsung ditembak di tempat bahkan sebelum masuk.
Bai berboncengan dengan Raya karena tangannya yang terluka ia hanya bisa menurut duduk di belakanh. Bai merasa keakraban yang tidak bisa dijelaskan melihat jalan di depannya.
Raya mengencangkan tangan di setir dengan erat, setelah sekian lama ia akhirnya kembali ke sini. Apalagi dengan orang yang selama ini ia tunggu, Raya hanya menghela napas semoga Bai bisa mengingatnya kembali.
Leiya mengikuti di belakang dengan cermat, ia melihat rumah penduduk di sekitarnya banyak yang memiliki rumah sederhana seperti kebanyakan penduduk di pesisir pantai.
Melihat ke depan semoga saja Laskar baik-baik saja.
......................
Melihat keadaan cucunya yang kacau, rambut berantakan dan sudut bibir yang pecah. Kakek Noma hanya bisa menghela napas melihat kedua orang ini
Jika Tuan Kanda tidak bisa menyelesaikan konflik dengan Sam hari ini maka dia sendiri yang akan mengatakannya, untuk keselamatan cucunya Kakek Noma tidak lagi peduli dengan sahabatnya itu yang tidak mau keluar dari bayang-bayang masalalu.
Samuel sudah lama menunggu kedatangan ayah dan pamannya, ia menatap mereka yang berjalan mendekat.
Di sudut pertempuran, ada pengawal wanita yang menatap dengan tajam ke arah Samuel, Arya, dan lainnya.
Ia dengan waspada terus memegang senjata di tangannya.
Tuan Kanda menatap putranya yang dulu sangat baik menjadi seperti hari ini, menatap ayahnya dengan mata bermusuhan. Sudah bertahun-tahun, dia memang harus mengatakannya sebelum mati karena umurnya yang sudah tua.
" Aku tahu kamu sangat kecewa pada ayah, aku tidak akan berkomentar apapun"
Tuan Kanda menyerahkan secarik surat pada Samuel yang menatap dalam pada surat itu.
" Ini adalah surat terakhir yang ia kirimkan padaku sebelum kecelakaan terjadi" kata Tuan Kanda dengan perasaan campur aduk.
Samuel menerimanya dengan tangan gemetar, setelah sekian lama ia akhirnya melihat sebuah kabar dari mendiang istrinya walaupun hanya sepucuk surat.
" Saat kamu masih di pertambangan di daerah timur, ada sekelompok orang yang datang ke rumah mengancam kami untuk menghentikan penambangan di timur. Mereka bahkan menyewa pembunuh bayaran"
__ADS_1
" Demi keselamatan Olivia, aku harus mengirimnya keluar dari ibukota agar orang-orang itu tidak mengincarnya" Tuan Kanda menceritakan kembali apa yang terjadi pada menantunya itu dengan perasaan sedih dan bersalah.
" Setelah aku membereskan orang-orang itu, aku menyuruh Olivia kembali. Jika aku tahu dia akan mengalami kecelakaan dalam perjalanan, aku tidak akan menyuruhnya kembali ke rumah dan akan menjemput langsung ke sana"
Setelah menceritakan apa yang harus diceritakan, Tuan Kanda tidak menatap Samuel lalu berbalik untuk kembali ke helikopter.
Ia tidak ingin melihat respon anaknya Samuel yang kecewa padanya.
" Lalu kenapa kamu tidak memberitahuku?"
Tuan Kanda menghentikan langkahnya saat mendengar pertanyaan Samuel.
" Karena proyek penambangan di timur sangat penting untuk keluarga kita, itu adalah sumber kehidupan bukan hanya untukmu tapi seluruh keluarga" jawabnya tanpa menoleh ke belakang.
Orang yang melihat ini bahkan akan bertanya-tanya, bukankah dia terlalu dingin pada anak dan menantunya.
Setelah Tuan Kanda pergi, Kakek Noma melihat Samuel yang raut mukanya tidak bisa ditebak dan menepuk bahunya.
" Jangan melihat ayahmu mencetitakan dengan singkat, saat itu dia bahkan terluka oleh baku tembak. Di paru-paru kanannya sekarang bahkan peluru itu masih bersarang di sana" ujar Kakek Noma.
Leiya sampai ke tempat kejadian segera menghampiri Arya di tengah kerumunan karena hanya dia yang Leiya kenal.
Melihat keadaannya yang kacau, Leiya tidak tahu harus berkata apa. Suasana hatinya begitu rumit, dia yang menyebabkan Laskar diculik tapi dia juga yang dengan cepat menemukannya semalaman.
Tapi Arya juga tidak bisa mengontrol perilaku setiap orang dalam keluarganya.
" Dimana Laskar?" tanya Leiya cemas
" Bu aku di atas bersama paman Haris"
Mendengar suara keras Laskar yang berasal dari toa, Leiya mendongak melihat helikopter sedang berputar-putar dan akan mendarat.
Leiya menghela napas lega melihat Laskar baik-baik saja, mendengar suaranya lagi membuat Leiya tenang.
Kakek Noma juga baru pertama kali melihat Leiya sedekat ini, ia merasa wajah Leiya begitu akrab. Di mana dia melihatnya?
__ADS_1
Tiba-tiba pengawal wanita yang tadi mengawasi di sudut kerumunan memakai senjatanya dan menembak ke arah Leiya dengan cepat.
Arya segera mengubah wajahnya menjadi gelap menarik Leiya ke sisinya, peluru itu meleset.
"Tangkap dia"
Segera bawahan Arya menangkap wanita itu, para pengawal Samuel tidak menghentikannya karena wanita itu bertindak tanpa perintah yang melanggar aturan pulau.
Arya tidak tahu kenapa wanita ini memiliki permusuhan begitu kuat saat melihat Leiya, dia hanya bisa membawanya ke paman Sam.
Leiya juga kaget mendengar suara tembakan tadi, tapi karena Arya menutup wajahnya dengan tangan. Leiya tidak merasa takut.
Arya, Leiya, Kakek Noma, dan pengawal yang membawa wanita itu segera masuk ke dalam menemui paman Sam.
Ternyata ia masih di ruang tamu, berdiri di dekat jendela melihat ke pantai dengan kosong. Surat itu sudah terbuka di atas meja.
" Paman"
Arya memanggilnya dengan ringan, Leiya melihat punggung orang ini begitu kesepian. Untung Laskar baik-baik saja jika tidak dia sudah menendangnya sekarang!
" Aku sudah menyebabkan banyak masalah untukmu, terima kasih karena membawa Olivia kembali ke rumah. Aku ingin menyusulnya" kata Paman Sam dengan ringan
Arya mendengar suara pamannya yang tidak bersemangat untuk hidup lagi merasa sedih tiba-tiba.
Kakek Noma ingin marah melihat bocah di depannya ini ingin mati, saat kecilnya Samuel, Kakek Noma sudah seperti ayahnya yang mengurusnya bersama Tuan Kanda karena ibu Samuel yang meninggal saat melahirkan.
" Jangan lakukan hal yang bodoh, kenapa kamu tidak memikirkan hidupmu sendiri. Lihatlah kamu sekarang, bahkan jika kamu menyusul Olivia dia akan menendangmu pergi"
Wanita itu yang selalu diam kini mendongak ke arah Samuel yang masih menatap ke luar jendela.
" Tuan kenapa kamu selalu memikirkan wanita itu, dia sudah mati. Kenapa kamu tidak bisa melihatku saja" jeritnya penuh kesedihan.
Samuel tidak menanggapi hanya diam di tempat.
" Aku ingin membawa wanita ini paman, kamu tidak keberatan kan?" tanya Arya mengabaikan wanita itu juga.
__ADS_1
Samuel hanya mengangguk, lagipula dia sudah berpikir untuk mati, jika Arya menginginkan, semua yang ada di pulau ini bisa menjadi miliknya termasuk bawahannya.