
" Baiklah mari mulai pertandingannya, bukankah kalian sudah tidak sabar tadi, ayo cepat"
Leiya melihat sekeliling yang ramai, ada banyak para pemuda yang ikut bersenang-senang. Ada juga yang membawa pasangan wanitanya ke sini. Leiya memilih tempat yang aman yang tidak terlalu dekat dengan arena untuk duduk bersama Sime dan melihat Boy bersama ketiga temannya itu bersaing dengan tim lain.
Sime tidak bisa berpaling melihat hal-hal baru yang menarik
" Kak apakah kamu bisa bermain bersama mereka?"
Leiya melirik ke arah Sime yang melihat dengan antusias " tidak tertarik, aku sedang malas. Kenapa? kamu ingin mengendarainya?" kata Leiya melihat ke arah balapan.
"Ya bolehkah? Aku ingin merasakan dibawa melaju secepat itu seperti sedang terbang. Kak lihat apakah itu temanmu? Lihat dia yang memimpin di depan, waaah kak mereka sangat cepat" ucap Sime dengan antusias
Leiya mengelus rambut Sime dan berkata
" Nanti pulang aku akan pinjam motor Boy, kamu bisa duduk di belakang. Tapi aku tidak akan melaju secepat itu, tunggu kamu sebesar mereka baru bisa mengendarai dengan cepat"
Sime senang sekali dan tersenyum lebar
" Kakak kamu yang terbaik!"
Boy yang telah memenangkan balapan itu melaju ke arah Leiya dengan bangga
" Lihat aku selalu hebat bukan?"
Leiya menatap jengah ke arah Boy yang narsis
" yah tidak buruk, sudah malam ini aku pinjam motormu untuk pulang. Cepat turun" kata Leiya sambil menaikkan Sime ke belakang motor.
Boy turun dari motornya dengan pasrah
" ya ini ambil saja, anggap sebagai perminta maafanku karena tidak menjamu kedatangan nonaku dengan baik dan hadiah pertemuan untuk sikecil. Besok-besok aku traktir kamu makan" ujar Boy dengan santainya memberi motor kepada orang lain..ck (penulis juga menginginkannya)
Tentu saja Boy murah hati karena menang pertandingan ini dia mendapat motor gratis dari lawannya, apalagi motor keluaran terbaru. Mungkin lawannya sekarang menyesal, batin Leiya melihat lawan Boy yang memiliki ekspresi seperti ingin menangis
" Terima kasih paman, ini coklat untuk paman. Sampai jumpa lagi" pamit Sime menyerahkan coklat disakunya untuk Boy yang merasa sedikit geli karena diberi coklat oleh anak kecil diiringi dengungan motor Leiya yang melaju tanpa pamit.
Boy melihat Leiya pergi dan mendengus
__ADS_1
" huh teman yang tidak punya hati!"
......................
Merasakan suasana malam yang sejuk, Leiya merasa tenang. Melihat ke belakang ada Sime yang sudah mengantuk, leiya mempercepat lajunya.
Setelah mengantar Sime ke rumahnya, Leiya kembali dan menyimpan motor Boy di garasi yang jarang ditempati karena rumah Bibi Wen tidak menyimpan mobil atau motor.
Saat Leiya melihat sekeliling garasi yang gelap gulita karena cahaya motor yang sudah dimatikan, Leiya merasa panik dan sesak nafas. Bahkan suara cicak dan tikus terdengar jelas, dengan kaki gemetaran Leiya berusaha keluar dari garasi.
Setelah melihat sedikit cahaya di luar garasi, Leiya merasa lega dan berjalan dengan tangan menopang dinding menuju ke dalam rumah.
Bibi Wen yang menunggu Leiya pulang merasa ganjil dengan suara motor yang masuk, ia berjalan perlahan menuju garasi dan menghidupkan cahaya di depan pintu garasi karena takut itu adalah pencuri. Karena garasi tidak terpakai jadi Bibi Wen belum mengunjunginya sama sekali.
Melihat Leiya keluar dari garasi dengan muka pucat, Bibi Wen segera berlari memapah Leiya untuk masuk ke rumah tapi saat Bibi Wen merangkul Leiya, dia malah pingsan. Bibi Wen sangat cemas dan segera menelpon ambulans.
......................
Keesokan harinya Leiya bangun dengan linglung, ia ingat semalam pingsan saat melihat Bibi Wen menolongnya. Dan melihat kamar yang asing dan selang infus ditangannya, Leiya menebak pasti Bibi Wen membawanya ke rumah sakit.
Melihat ekspresi Bibi Wen yang tidak dimengerti, Leiya merasa bingung
" Bibi aku tahu aku salah lain kali aku tidak akan keluar tanpa memberitahu lagi, maafkan aya ya"
" Dan bibi aku tidak sakit kenapa harus diinfus? Kemarin malam aku pingsan hanya karena masalah lama, tidak ada gunanya diinfus"
Bibi Wen menghela nafas pelan dan berkata
" Tentu bibi tahu, tapi ini bukan hal yang sama. Kamu habiskan dulu sarapanmu baru bibi beritahu" kata Bibi Wen melirik ke perut Leiya
Leiya jadi bertambah bingung dengan ucapan Bibi Wen, sambil makan sarapan sendiri Leiya berpikir apakah dia punya penyakit mematikan yang baru ketahuan? Apakah dia akan mati muda? Oh masa mudaku terlalu singkat. Siapa yang akan berbakti kepada Bibi Wen saat dia tua? Aiss
Melihat sarapan Leiya yang sudah mau habis, Bibi Wen merasa lega dan memberitahu Leiya yang sedang linglung tentang apa yang terjadi.
" Aya kamu sedang hamil tiga minggu, apakah kamu tidak tahu atau sengaja menyembunyikannya dari bibi" selidik Bibi Wen
Leiya yang sedang minum tersedak mendengar ucapan Bibi Wen.
__ADS_1
"uhuk...uhuk...uhukk... Bibi kamu jangan bercanda itu tidak lucu" kata Leiya dengan tidak percaya.
" Tentu saja tidak, bukankah gejala yang kamu alami akhir-akhir ini seperti morning sickness ibu hamil bukan masuk angin biasa, dan kalau kamu tidak percaya maka tanyakan pada dokter"
" Ha jadi.. benar hamil? Bagaimana mungkin! Aku sudah minum obat pencegah hamil, bagaimana bisa.. Bibi aku " kata Leiya terbata-bata
Mendengar Leiya yang telah minum obat, Bibi Wen segera menghubungi dokter karena khawatir akan ada efek samping bagi anak itu ataupun Leiya.
" Tidak apa-apa, janin dalam posisi yang benar dan dalam keadaan sehat, kondisi ibu sehat hanya kekurangan nutrisi. Disarankan agar menjaga pola makan yang sehat dan jangan makan makanan yang terlalu berminyak atau terlalu manis karena bisa mengganggu tumbuh kembang bayi serta kesehatan ibu" tutur dokter memberi penjelasan
" dan jangan lupa rutin pemeriksaan kehamilan sebaiknya setiap sebulan sekali"
Dokter itu pun pergi setelah menjelaskan langkah-langkah dalam menjaga kehamilan.
Leiya merasa pikirannya kosong dan tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya, menyentuh perutnya yang rata. Leiya tidak bisa percaya ada kehidupan kecil di sini, untung saja ada Bibi Wen disisinya jika tidak mungkin sekarang dia sudah stres memikirkannya sendirian.
" Aya apakah ini perbuatan Yami? Bagaimana, apakah kamu menginginkan anak ini? Jika tidak, bibi... Bibi bisa membesarkannya untukmu" ucap Bibi Wen memegang tangan Leiya untuk memberi dukungan.
Leiya menatap Bibi Wen dengan rasa syukur dan menggelengkan kepalanya yang membuat hati Bibi Wen gelisah.
" Bagaimana mungkin aku tidak menginginkan anakku sendiri bi, dia pasti akan sedih jika tahu aku tidak menginginkannya. Mari besarkan bersama ya bi, kita tinggal di sini saja dan jangan kembali ke sana" kata Leiya tersenyum setelah mengambil keputusan.
Bibi Wen tersenyum senang mendengar keputusan Leiya dan memeluknya.
"Anak baik tidak apa-apa ada bibi di sini yang akan menjaga kamu dan anakmu"
Leiya tersenyum dan menangis haru
" terimakasih bu"
Mendengar ucapan Leiya, Bibi Wen tertegun sejenak dan melepas pelukan mereka
" Aya kamu... Kamu panggil aku apa?"
"Ibu, bolehkan bu" tanya Leiya penuh harap, tangannya yang memegang selimut tanpa sadar mengencang
"Tentu saja ya tentu tentu..anakku Aya. Sekarang kita mulai hidup baru kita di sini" kata Ibu Wen menangis memeluk Leiya kembali.
__ADS_1