
Raya merasa bosan karena kekalahannya, ia meletakkan ponselnya di atas meja lalu memandang Bai yang sedang memilih makanan untuk Laskar.
" Bai aku ingin yang ini, kamu pesankan" kata Raya menunjuk ke salah satu menu yang diinginkannya
" Oke, ada lagi?"
" Tidak, itu saja" jawab Raya
Arya yang melihat interaksi mereka raut mukanya menjadi lebih gelap.
" Ekhem"
Raya mengerutkan kening, ia tidak tahu siapa yang berani mengganggunya. Raya berbalik dan betapa terkejutnya ia melihat orang di belakangnya itu.
" Kakak...kenapa kamu ada di sini?" tanya Raya terkejut sampai terperanjat dari duduknya.
" Tidak bisakah aku ada di sini? Apakah aku mengganggu kencanmu?" tanya Arya tersenyum dengan kedua tangan disaku celananya.
" Bagaimana bisa...kakak jangan marah, akan aku jelaskan nanti oke"
Raya menunduk merasa takut, ia menarik ujung baju Bai untuk meminta bantuan.
Bai juga tidak menyangka kalau Raya adalah adik dari Arya, ia menghela napas berat.
" Kamu membuatnya takut, duduklah dulu dan makan. Baru kamu bisa berbicara dengan Raya nanti" ucap Bai menepuk ringan tangan Raya agar tidak takut.
Arya menjadi kesal, ia menarik tangan Raya dari Bai dengan kasar.
" Jangan ikut campur. Aku akan berbicara dengan adik ku sendiri, kenapa tidak bisa" kata Arya melirik Bai dengan dingin.
Suasana sekitar menjadi hening seketika.
Leiya yang melihat situasi begitu tegang tidak tahu harus berkata apa, ia menyenggol Laskar memintanya untuk melakukan sesuatu.
Laskar dengan pasrah menatap ayahnya dan berkata " Ayah aku lapar, cepat duduk dan makan denganku!"
Laskar berbicara dengan menyedihkan ke arah Arya yang membuat amarahnya mereda melihat wajah putranya yang menyedihkan.
" Baiklah ayah akan segera duduk" ucap Arya dengan tenang berjalan dan duduk di sebelah Laskar, ia melupakan Bai dan Raya yang sekarang memiliki terkejut dengan perubahan ekspresi Arya yang begitu cepat.
Raya menghela napas lega, ia menatap Laskar dengan tatapan bersyukur. Sedangkan Bai, dia dengan tenang kembali mengambilkan makanan untuk Raya meskipun Arya akan sesekali menatapnya dengan tatapan mematikan.
Leiya memberi dua jempol untuk anaknya, kerja bagus!
__ADS_1
" Mau makan apa, ayah akan mengambilnya untukmu"
" Itu yang ada di sana, lenganku tidak sampai"
Arya dengan patuh mengambil makanan untuk Laskar dan meletakkan di depannya.
" Cepat makan, nanti jika dingin tidak enak"
Leiya dengan senang hati memakan makanannya sendiri, ia juga mengamati interaksi Bai dan adik Arya itu dengan mata menyipit.
Melihat ekspresi lembut Bai pada Raya membuat Leiya melongo dengan sikapnya, selama ini Leiya mengenal Bai adalah orang yang tidak banyak bicara dan selalu memiliki ekspresi datar setiap hari.
Baru kali ini ia melihat Bai bersikap lembut kepada wanita selain dirinya, pasti mereka memiliki hubungan khusus.
Raya merasa tidak nyaman karena Leiya yang terus menatapnya, ia mendongak dan berkata pada Leiya " Kakak ipar apakah ada sesuatu di wajahku?"
Leiya merasa malu karena ketahuan kalau dirinya terus menatap mereka, ia berdehem mengalihkan pandangannya,
" Tidak ada, hanya saja kamu terlihat sangat cantik hari ini nona" kata Leiya dengan cepat.
" Kakak ipar terlalu menyanjung, aku tidak sebanding denganmu. Ngomong-ngomong, panggil saja aku Raya. Nona terlalu asing, lagipula kita adalah keluarga" ujar Raya dengan tersenyum.
" Baiklah Raya, kalau begitu paanggil aku Leiya" ucap Leiya yang tidak suka dengan panggilan kakak ipar, lagipula dia tidak menikah dengan Arya. Panggilan itu sungguh memalukan.
Setelah semua orang selesai makan, Arya berdiri mengajak Raya keluar untuk berbicara. Raya dengan pasrah mengikuti kakaknya keluar.
Hari ini sungguh sial!
Leiya menepuk perutnya yang kenyang dengan puas.
" Apa yang ingin kamu bicarakan denganku Bai?" tanya Leiya dengan badan yang ia sandarkan ke belakang.
Bai tersenyum, ia membuka tas yang dibawa Raya lalu menyerahkan sebuah amplop coklat pada Leiya.
" Kamu bisa membacanya sekarang atau saat pulang nanti, ini adalah hal yang sangat penting. Jangan sampai hilang"
Leiya mengambil amplop itu dan menyimpannya di dalam tas.
" Kenapa misterius sekali? Kamu bisa mengatakannya secara langsung"
" Jika aku mengatakannya mungkin kamu tidak akan percaya, ingat saja untuk membacanya lalu hubungi aku"
" Baiklah"
__ADS_1
Laskar hanya diam tidak menyela pembicaraan mereka.
Di luar, Arya menatap Raya dengan sepasang mata yang tenang menunggu adiknya itu berbicara.
" Katakan, jika kamu berani berbohong kamu akan tahu konsekuensinya"
Raya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia menatap kakaknya ingin bernegosiasi tapi melihat tampangnya yang menakutkan. Ah lupakan saja.
" Seperti yang kamu lihat kakak, aku bersama dengan Bai. Kali ini aku sungguh tidak main-main, Bai adalah orang yang aku cari, sungguh"
Arya menatap tajam ke Raya, " Benarkah? Tapi dia bukan orang biasa, aku tidak akan membiarkan kamu berhubungan dengan orang-orang yang berbahaya"
Raya berbicara dengan nada memelas," Aku tahu dia seperti apa kak, jangan ganggu Bai oke. Dia tidak akan mencelakai aku"
" Dari mana kepercayaan dirimu berasal? Hati seseorang seperti jarum di dalam laut, kamu tidak akan tahu mungkin dia akan menusukmu dari belakang suatu hari nanti" kata Arya dengan dingin.
Raya merangkul lengan kakaknya dengan manja, " Jadi kenapa, adikmu ini juga bukan orang biasa. Bukankah ada kakak yang selalu melindungiku, tolong jangan memisahkan aku dengan Bai. Aku tahu karakternya, dia bukan orang yang seperti itu" ucap Raya dengan nada serius.
Arya menatap adik perempuan satu-satunya itu yang memiliki ekspresi kehilangan menjadi berat hati, ia menghela napas panjang dan menarik lengan yang dipeluk Raya.
" Baiklah aku tidak akan ikut campur, hubungi kakak jika dia berbuat macam-macam" kata Arya dengan datar lalu masuk ke dalam.
" Kakak kamu adalah kakak terbaik!" ucap Raya senang sambil berlari menyusul kakaknya ke dalam.
Arya mencibir di dalam hatinya, tidak semudah itu ia akan melepaskan Bai. Tapi agar Raya tidak marah, Arya tidak akan mengungkapkan rencananya.
Ia berjalan dengan tenang, melihat Leiya dan Laskar yang sudah puas makan dan mengobrol sambil tertawa, Arya mengajak keduanya pergi tanpa pamit kepada Bai.
" Mau kemana kita hari ini?" tanya Leiya pada Arya yang sedang menyetir.
" Hm..apakah kalian ada tempat yang ingin dikunjungi?"
Leiya menggelengkan kepalanya, ia tidak memikirkan suatu tempat yang spesial.
" Ayah aku ingin ke Trans Studio, ku dengar di sana banyak permainan yang menyenangkan" ucap Laskar dengan semangat.
" Baiklah ayo kita ke sana!"
Arya memandang putranya dengan lembut, tanpa disadari Laskar kini berubah menjadi seperti anak lima tahun pada umumnya tanpa kewaspadaan tinggi seperti dulu saat pertama kali bertemu.
" Aku menantikannya" kata Leiya tersenyum puas.
Setelah puas makan, Leiya tidak sabar untuk bermain!.
__ADS_1