
prang...
Terdengar suara pecahan cangkir yang dibanting ke lantai.
Di sana, Yami berdiri dengan kepala menunduk. Ia menghindar ke samping saat cangkir itu hampir mengenainya yang membuat cangkir itu jatuh ke lantai dan membuat suara pecahan.
Tuan Ning yang melihat Yami menghindar menjadi semakin kesal." Dasar anak tidak berguna! Bagaimana kamu bisa membuat Tuan Pras marah, sekarang proyek yang aku kerjakan dengan susah payah dihentikan setengah jalan,"
" Aku tidak mau tahu! Kamu harus meminta maaf segera, jangan membuatku rugi!" lanjutnya dengan marah.
Yami menatap ayahnya ini dengan tidak sabar, apakah ini semua salahnya!? Ini salah si ****** itu! Jika dia tidak mengganggu saat acara fashion show, ia akan menjadi bintang yang bersinar sekarang. Bukan wanita yang dipermalukan seperti sekarang!
" Ayah aku tahu, aku akan segera meminta maaf. Tapi ayah untuk masalah proyek, kamu tidak perlu khawatir. Aku kenal dengan seseorang yang bisa membantumu,"
Mendengar perkataan Yami, Tuan Ning mengangkat alisnya dengan ekspresi heran. Anaknya ini yang ditemukan tidak lama, sudah memiliki koneksi yang begitu luas. Tidak sia-sia dia membawanya kembali ke rumah.
" Kalau begitu kamu bisa memperkenalkannya padaku dengan cepat, aku tidak ingin proyekku tertunda begitu lama," ucapnya dengan nada yang jauh lebih lembut.
" Aku tahu ayah, aku akan segera mengaturnya." kata Yami dengan tersenyum manis.
Akhirnya rubah tua ini tidak mengamuk lagi, jika bukan karena untuk status sosialnya. Yami sangat ingin meninju Tuan Ning yang selalu melimpahkan semua kesalahan padanya.
" Jika sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, aku pamit ayah." ujar Yami dengan tegas berbalik dan berjalan keluar.
Tuan Ning hanya mengangguk menyetujui,
" Tunggu, jaga suamimu dengan erat. Kamu tahu kalau dia itu sering bermain dengan wanita sejak dulu, jangan sampai dia membawa simpanannya kembali,"
" Aku tahu, terima kasih ayah." kata Yami dengan cemberut lalu menutup pintu ruang kerja ayahnya.
Yami segera keluar dari rumah dan memanggil taksi untuk pergi.
Kemana Yami pergi? Kenapa dia tidak diantar dengan mobilnya sendiri? Dia memesan taksi secara online lalu menunggunya selama satu menit di pinggir jalan.
__ADS_1
...****************...
" Bu cepat bangun! Kita akan ke rumah Paman Long bukan, jadi cepatlah sedikit!" kata Laskar mengguncang tubuh Leiya yang wajahnya masih menempel di bantal.
Leiya menggeliat malas, ia terpaksa bangun agar Laskar tidak mengomel terus ditelinganya.
" Aku akan ke dapur dengan Bi Nar, Bu kamu cepatlah mandi dan bersiap," kata Laskar yang hanya dijawab dengan dengungan oleh Leiya.
Laskar dengan cepat turun ke bawah untuk membantu Bi Nar menyiapkan sarapan. Sungguh bocah malaikat yang begitu menggemaskan!
Leiya beranjak dari kasurnya dengan mata setengah terbuka, " Aduuh.."
Leiya merasa ujung jari kakinya sangat sakit! Itu tidak sengaja terbentur pintu kamar mandi. Karena dirinya yang berjalan dengan mengantuk, ia tidak sengaja membenturkan kakinya saat berjalan.
" Huuh...tidak terlalu sakit lagi," kata Leiya mengusap lembut jari kakinya yang merah, ia segera terjaga karena rasa sakit itu.
Leiya dengan cepat masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan, setelah serangkaian kegiatan kebersihan dan kecantikan yang ia lakukan. Leiya dengan cepat turun untuk sarapan bersama Bi Nar dan Laskar.
Melihat meja yang penuh dengan makanan, Leiya dengan senang hati duduk bersama yang lain untuk memulai sarapan.
" Janji apa?" tanya Leiya dengan bingung, ia yang tengah memegang paha ayam dengan tangannya itu menatap Laskar dengan mata kecilnya.
" Bubu belum menelpon ayah sejak kemarin, padahal kamu sudah berjanji bu. Bukankah Bubu mengajariku untuk selalu menepati janji, kenapa kalian orang dewasa begitu mudah melupakan ajaran kalian sendiri," kata Laskar menggelengkan kepalanya sambil berdecak.
Leiya yang sedang makan menjadi tersedak mendengar ucapan Laskar, ia buru-buru mengambil minum yang ada di samping kanannya dan meminumnya dengan cepat.
" Aku tidak ingkar janji, hanya saja kemarin terlalu lelah. Nanti aku akan menelponnya dihadapanmu." ucap Leiya menepuk dadanya yang sudah lega akibat tersedak tadi.
Ia merasa malu karena anaknya berbicara seperti itu. Ya, dia sebagai orang dewasa memang harus menjadi contoh yang baik untuk anaknya. Tapi, khmm jika hal-hal menyangkut dengan Arya, Leiya merasa otaknya menjadi kosong. Ia tidak bisa memikirkan apapun secara logis!
Ya! Ini pasti salah Arya! Salahnya karena selalu membuat pikirannya kacau!
" Sudah ayo cepat! Nanti Aning sedih jika harus menunggu terlalu lama," kata Leiya menepis pikirannya yang kacau, makanan di depannya lebih enak dipandang daripada bajingan sialan itu.
__ADS_1
" Hmm..oke" ucap Laskar mengangguk.
...****************...
Di dalam kantor, suasana begitu dingin dan tegang. Bahkan para eksekutif yang mengikuti rapat itu takut membuat suara.
" Presiden, bagaimana rencana yang saya ajukan?" tanya seorang pria dengan takut-takut, ia berdiri di sebelah papan presentasi dengan gugup karena melihat wajah Presidennya sangat gelap. Apakah rencana yang ia susun begitu mengerikan?.
Arya yang selalu melirik ponselnya itu tidak mendengar panggilan dari bawahannya. Ia sangat kesal karena Leiya tidak menepati janji, bahkan sejak kemarin ia tidak tidur nyenyak hanya untuk menunggu panggilan dari Leiya. Tapi nihil!
Kona menyenggol bosnya itu dan memberi isyarat untuk menanggapi, untung saja Arya dengan cepat membuang muka dari ponselnya dan menghadap ke karyawan itu.
" Rencana itu terlalu buruk, apakah menurutmu kita sedang membahas permainan anak-anak?! Ada banyak celah yang bisa membuat kerugian besar, jika kamu tidak mengerti maka jangan mencemari mataku dengan rencana yang begitu buruk!" kata Arya dengan dingin.
Pria muda itu merasa lututnya lemas dan telinganya panas, bagaimana bisa rencana yang ia susun dengan hati-hati hanya dianggap permainan anak-anak oleh bosnya!
Kona berdehem memecah kesunyian yang dibuat oleh Arya, " Maksud Presiden, rencana itu bagus. Tapi kamu tidak terlalu detail dalam beberapa aspek yang bisa membuka celah dan menyebabkan kerugian. Kamu bisa duduk kembali dan revisi lagi rencanamu," kata Kona dengan senyum lesung pipitnya.
Pria muda itu mengangguk mengerti lalu segera duduk di tempatnya lagi.
" Selanjutnya,"
Sekarang giliran seorang wanita muda yang harus maju, ia juga takut dengan komentar pedas Arya tadi. Tapi, bagaimana lagi. Dia harus tetap maju, ia menarik napas dalam-dalam mempersiapkan mentalnya lalu berdiri.
Setelah panjang lebar wanita itu menjelaskan dengan rapi, semua karyawan mengangguk-angguk karena rencananya yang bagus.
Tapi wanita itu tidak merasa santai, ia menunggu respon Presidennya dengan harap-harap cemas
Arya yang tadinya akan mengkritik wanita itu tiba-tiba mendengar suara dering teleponnya.
Ruangan menjadi senyap.
Arya hanya memberi komentar bagus lalu dengan cepat mengambil ponselnya keluar dari ruang rapat.
__ADS_1
Para eksekutif tertegun di tempat, mereka bertanya-tanya telepon siapa itu yang membuat Presiden mereka tersenyum untuk pertama kalinya!.
Wanita itu hanya bisa bersyukur dengan orang dibalik penelpon itu. Sedangkan Kona yang ditinggal dengan cepat menutup rapat hari ini.