
Leiya sekarang duduk di mobil Arya, ia yang sudah sadar segera menoleh ke arah Arya
" Jadi pertanyaanmu tadi ada hubungannya dengan hal ini? Siapa yang mau mencuri, sial tidak bisakah dia hanya membom asap tempat Haris berada. Kenapa nenek ini ikut menjadi korban" kata Leiya merasa dirugikan
Arya mengedutkan sudut mulutnya, ya kenapa fokus Leiya pada hal seperti itu. Yang lain khawatir dengan barangnya dan kerabatnya, dia malah mengutuk Haris. Sangat senang
"kamu..baik-baik saja?" tanya Leiya mengingat dirinya yang dilindungi Arya sepanjang jalan. Jika hari ini tidak ada dia, mungkin dirinya sudah dengan panik berlarian dengan kacau.
" ya aku baik-baik saja, bagaimana aku bisa terluka" kata Arya membuka minum dan menyerahkan kepada Leiya
" Minumlah untuk melegakan tenggorokan" Leiya menerima dan meminumnya
Arya tersenyum dan minum juga dari botol yang Leiya serahkan kembali.
" Uhukk..kalau begitu ayo pulang, Laskar pasti sudah menunggu" kata Leiya
" Kenapa terburu-buru, ayo aku ajak kamu istirahat dulu. Sekarang tidurlah, sebentar lagi akan sampai" kata Arya dengan lembut dan melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.
Leiya tidak banyak bertanya dan segera tidur, dia sangat lelah.
......................
" Bos ini kalungnya" kata pengawal itu menyerahkan sebuah kotak
Paman Sam segera mengambilnya dan memegangnya dengan erat
" Via, aku tidak akan pernah membiarkan mereka hidup tenang. Aku pasti akan membalas untukmu" katanya melihat kalung itu dengan mata penuh kerinduan dan kekejaman.
" Kamu bajingan! Segera pulang atau aku ledakkan seluruh rumahmu!" sebuah suara keluar dari telepon Paman Sam dengan nada marah.
" Aku memang akan pulang, aku harus menyelesaikan skor denganmu pak tua!" kata Paman Sam menutup telepon dengan cemberut kesal karena kejadian kalungnya yang dilelang tanpa memberitahunya.
......................
Setelah sampai di rumahnya, Arya menatap wajah Leiya yang sedang tidur dengan seksama. Dia sangat imut, jika dia bisa menjadi boneka saku akan Arya bawa kemanapun di dalam sakunya.
__ADS_1
Dengan tenang Arya keluar dari mobil dan memeluk Leiya yang tertidur pulas ke dalam rumah dan meletakannya di kamar.
Kakek Noma yang mendapat pesan dari pengurus rumah tangga kalau cucunya membawa pulang seorang wanita segera meletakkan papan caturnya dan bergegas ke sana dengan cepat.
Arya yang tahu kakeknya datang segera menghentikannya di luar rumah, Leiya bahkan belum menerima dirinya. Jika kakeknya tiba-tiba datang bukankah itu akan menakut-nakutinya.
" Kenapa kamu cucu durhaka melarangku bertemu dengan cucu menantuku, cepat minggir" kata Kakek Noma tidak sabar.
Arya menyeret tangan kakeknya ke ruang tamu
" Kakek jangan bertingkah seperti ini, dia akan takut. Setelah urusanku dengannya selesai pasti aku perkenalkan dia padamu" kata Arya tanpa daya
Kakek Noma memandang cucunya dengan merendahkan
" Jadi kamu belum mengejarnya? Tsk tsk tidak berguna sekali, aku akan memberitahumu cara jitu mengejar gadis nanti. Baca buku yang aku berikan" katanya menatap Arya dengan jijik. Cucu satunya ini memang tidak bisa diandalkan pasal wanita.
Cucunya ini akan menjaga jarak dengan setiap wanita yang mendekatinya, bahkan dia sendiri curiga apakah cucunya gay. Sekarang melihatnya dekat dengan gadis tentu saja dia sangat bersemangat. Sayangnya idiot ini belum memecahkan kebuntuan.
Arya merasa kejang di sudut mulutnya, yah kakeknya sendiri bahkan meremehkannya. Mendengar gerakan di lantai atas, Leiya pasti sudah bangun. Arya segera menyuruh kakeknya untuk pulang.
Kakek Noma memukul lengan Arya dengan kesal, ya agar tidak merusak perbuatan baik cucunya. Kakek Noma mengalah pergi, ia juga bisa mencari tahu sendiri nanti dan bertemu dengan cucu menantunya tanpa sepengetahuan Arya.
" Kenapa kamu ada di luar, apakah ada tamu?" tanya Leiya penasaran melihat ke luar tapi Arya segera menghalangi pandangannya dan menarik Leiya ke meja makan.
" Bukan apa-apa, hanya orang tidak penting. Ayo makan roti ini, kamu pasti lapar" kata Arya menjejali meja Leiya dengan sepiring sandwich dan segelas susu.
Leiya mengerucutkan bibirnya, dia belum mencuci muka hey. Leiya dengan cepat masuk ke kamar mandi yang dia lihat di seberang dapur.
Setelah selesai, Leiya dengan cepat duduk kembali dan mulai makan bersama Arya.
" Apakah ini rumahmu di ibukota?" tanya Leiya melihat rumah mewah ini yang sangat luas.
" Ya aku sering tinggal di sini, ngomong-ngomong rumah yang temanku jual untukmu sudah bisa ditempati. Kamu bisa pindah kapan saja"
" Semua perabotan sudah ada? Apakah kamu yang membelinya?" tanya Leiya dengan ekspresi tidak setuju
__ADS_1
" Jangan buru-buru menolak, bukankah aku juga membelinya untuk Laskar. Jadi jangan merasa berutang padaku, aku sudah berjanji untuk memenuhi semua kebutuhannya" kata Arya dengan cepat
Leiya yang mendengarnya tidak bisa menolak lagi dan hanya mengangguk. Jika nama Laskar tidak dikeluarkan sebagai alasan pasti Leiya akan menolak pemberiannya.
" Habiskan makananmu, setelah ini aku akan ke kantor pusat sebentar. Terserah kamu mau kemana panggil saja paman butler"
" Baik" jawab Leiya menganggukkan kepala.
......................
" Bagaimana, sudah menemukan siapa itu?" tanya Haris pada pengawalnya
" Seharusnya kamar 011, dalam pengawas pengawal yang keluar dari sana memiliki postur tubuh yang sangat mirip dengan pelaku. Ada tanda juga di lengan kirinya" kata pengawal itu
Haris mengangkat alisnya berpikir, ya bukankah kamar nomor 011 adalah orang dari keluarga Kanda.
" Hmm maka hubungi kakek keluarga Kanda, lihat bagaimana mereka akan mengganti rugi kerusakan kita" kata Haris menyuruh bawahannya pergi dan dia sendiri menghubungi orang yang bersangkutan.
Dalam hal kerugian, hanya sebuah kalung yang hilang tapi lemarinya rusak dan dengan kekacauan yang dia buat tentu saja Haris harus meminta uang yang banyak. Jika tidak maka biarkan keluarga mereka masuk daftar hitam dalam perdagangan senjatanya.
Haris heran dengan perilaku mereka, mereka yang menyumbang sekarang mereka yang mencuri barang milik sendiri. Tentu saja Haris harus meminta penjelasan dari keluarga itu.
......................
Keluarga Yami juga berlari bersama orang-orang, tuan Pras sangat tidak senang dengan Balai Husi ini. Karena dirinya yang harus membayar harga lima kali lipat harga asli gelang itu dan ditambah dengan kekacauan yang membuatnya berlari-lari. Ia dengan kesal memukul meja di depannya dengan tongkat.
" Katakan siapa orang yang ada di kamar nomor 005, bagaimana dia selalu menargetkanku!" tanya tuan Pras marah
"Itu adalah CEO perusahaan Derwe tuan" kata bawahan itu memberitahu
Tuan Pras mengerutkan kening tidak percaya, dia tidak menyinggung mereka bagaimana mereka menargetkan dia.
" Bos proyek kita dengan perusahaan Avc terakhir direbut oleh mereka"
Tuan Pras dengan marah melempar gelas di sebelahnya ke lantai
__ADS_1
" Siapa dia, Cepat selidiki! bagaimana perusahaan seperti itu bisa menekan kita" perintahnya mengusir bawahannya itu.
Perusahaan Derwe, ayo biar aku hancurkan kalian. Berani bermain-main denganku.