Ibuku Tidak Ingin Menikah

Ibuku Tidak Ingin Menikah
Bab 67. Raja Senjata


__ADS_3

Arya berjalan ke ruang tamu, di sana ia melihat Leiya yang duduk melamun


" Mengapa kalian ada di sini?" tanya Leiya melihat kedatangan kedua orang itu dengan terkejut


Laskar berlari memeluk bubunya dengan ekspresi menyedihkan


" Bu kenapa kamu mematikan telepon tiba-tiba, apakah kamu marah karena aku pergi menemui orang itu?" tanya Laskar


Leiya tertawa kecil, ia menepuk ringan kepala putranya memberi isyarat agar duduk dengan benar.


" Bubu tidak marah"


Laskar menatap Leiya dengan curiga


" Kamu tidak berbohong bu?"


" Tentu saja, untuk apa aku berbohong padamu" kata Leiya dengan nada pasrah


Laskar melihat ekspresi bubunya yang seperti tidak berbohong itu merasa lega, ia dengan tenang duduk di sebelah Leiya memakan permen yang diberikan ibu baptisnya tadi.


Arya tersenyum melihat tingkah keduanya, ia dengan otomatis duduk di sebelah kiri Leiya.


" kamu tidak tahu betapa cemasnya Laskar, dia terburu-buru menarikku ke sini hanya untuk memastikan apakah kamu marah atau tidak" kata Arya menggelengkan kepalanya mengingat tingkah kekanak-kanakan Laskar


Laskar memelototi Arya tidak senang, ia menjulurkan lidahnya lalu memalingkan muka.


Leiya mengangkat bahunya mendengar tingkah Laskar yang tidak biasa


" Itu bagus berarti Laskar sangat menyayangiku"


" Ya dia memang selalu menyayangimu" timpal Arya dengan anggukan


Rifa merasa tidak pada tempatnya, dia bahkan tidak bisa menyela pembicaraan mereka yang seperti keluarga tiga orang itu. Ia memutuskan berjalan ke dapur yang ditatap oleh Leiya dengan tatapan bertanya


" Kalian lanjutkan pembicaraannya, aku akan ke dapur menyiapkan beberapa camilan" ujarnya yang diangguki tiga orang itu


" Karena kamu di sini, sekalian saja ganti balutannya. Aku akan bertanya pada Rifa dimana dia meletakkan kotak obat" kata Leiya akan berdiri tapi ditarik kembali oleh Arya


" Nanti saja di rumah, aku tidak akan menggantinya di sini" kata Arya dengan raut muka menolak


Leiya hanya bisa menurut, untuk tuan muda yang cinta kebersihan ini Leiya tidak bisa membujuk.


Rifa keluar membawa nampan berisi makanan ringan dan meletakkannya di atas meja

__ADS_1


" Ayo makan, sebentar lagi Baltic juga akan pulang. Kita bisa pergi bermain bersama" kata Rifa dengan senyum ramah


Mereka juga tidak sungkan, Leiya mengambil camilan dan memakannya. Merasakan tatapan Arya yang tertuju padanya, Leiya mengangkat alisnya seolah bertanya.


Melihat camilan ditangannya, Leiya memasukkannya ke dalam mulut Arya yang ia kira Arya menginginkan camilan itu.


Arya juga tidak menolak dan memakannya dengan senang hati.


......................


Haris berjalan dengan langkah yang mantap, ia menyusuri lorong yang remang-remang lalu berhenti di salah satu pintu. Di sana terdapat satu orang yang menjaga pintu, ia memberi hormat pada Haris dan membukakan pintu untuknya.


" Bos! Jenderal Gico sudah menunggu di dalam"


Haris mengangguk mengerti dan melangkah masuk ke dalam


Di dalam sudah ada seorang pria dengan kulit putih dan rambut coklat, pupil matanya yang berwarna sama dengan rambutnya itu menatap Haris sampai ia duduk di kursinya dengan seksama.


" Hallo ipar, apakah kabarmu baik. Tidak biasanya kamu mengunjungi tempatku yang kumuh" sapa Haris dengan tersenyum sambil berjalan ke kursi di depan Gico untuk duduk


Gico hanya tersenyum kecil dan meletakkan kedua tangannya di atas pahanya


" Kabarku sangat baik, adik iparku pasti mengetahuinya" katanya dengan sarkasme


" Kamu mau?" tawar Haris pada Gico yang ditolak olehnya


Haris tidak peduli, ia menyalakan korek dan membakar rokok di mulutnya.


" Aku tidak akan bertele-tele denganmu, beritahu aku apa hubungan Raja Senjata dengan istriku" tanya Gico di tengah kepulan asap rokok yang Haris hembuskan


" Bukankah kamu sudah tahu? Dialah Raja senjata, lagipula kalian juga suami istri. Bagaimana kamu tidak tahu apapun mengenai istrimu" jawab Haris dengan nada ringan


Gico memiliki raut muka yang kesal, ia menatap Haris dengan tidak senang


" Jika bukan karena dia yang menutup rahasianya begitu erat bagaimana mungkin aku akan ada di sini, katakan saja dengan jujur apa yang kalian berdua sembunyikan dariku" kata Gico karena dirinya tidak percaya kalau istrinya Diya akan menjadi Raja Senjata.


" Aku tidak tahu apapun rahasia Diya, kamu bisa bertanya sendiri padanya"


" Tidak mungkin kamu tidak tahu, kamu adalah adiknya"


" jadi apa, apakah aku harus mengetahui semua hal yang dia lakukan? Aku bukan tuhan yang bisa mengerti segalanya"


Gico marah dengan sikap Haris yang acuh tak acuh, ia menendang meja di depannya sampai terbalik lalu bangkit untuk memukul Haris

__ADS_1


" Katakan saja iya atau tidak!"


Melihat Gico yang gila, Haris dengan cepat menghindari serangannya dan memukul balik sampai terkena wajah Gico


" Aku tidak tahu"


Gico tersenyum miring dengan jawaban Haris


" Kamu adalah tangan kanan Raja Senjata yang selalu berbisnis dengannya, mana mungkin kamu tidak tahu. Adik ipar kebohonganmu tidak ada artinya"


Haris dengan pasrah menggelengkan kepalanya


" Baiklah akan aku beritahu, duduk dan bicaralah" kata Haris menghentikan Gico yang masih akan memukulnya


Gico menghentikan gerakan tangannya lalu menarik bajunya untuk merapikan dan duduk kembali.


" Bicaralah, aku tidak ingin mendengarkan kebohonganmu lagi"


Haris merapikan rambutnya yang acak-acakkan dengan kesal dan menatap Gico dengan dalam


" Lalu untuk apa kamu menginginkan kebenarannya, Diya sengaja menyembunyikannya karena itu untuk kebaikan kalian berdua"


Gico yang sedang mengusap dagunya yang terkena pukulan Haris segera menghentikan gerakannya dengan jeda.


" ada perintah dari atasan untuk menyelidiki orang dibalik Raja Senjata agar segera ditangkap, kau tahu jika Raja Senjata benar-benar tertangkap maka atasan itu tidak akan melepaskannya dengan mudah"


" Untuk senjata ditangannya, atasan akan melakukan apapun agar Raja Senjata tunduk padanya" kata Gico karena ia tahu kalau perintah penangkapan Raja Senjata bukanlah sesuatu yang sederhana.


Apalagi mengingat negara A yang selalu berselisih tegang dengan negara tetangganya, pasti negara akan melakukan upaya untuk merekrut Raja Senjata ke negara mereka.


" Kamu juga tahu kalau Raja Senjata tidak akan ikut campur dalam kekuatan politik negara manapun" kata Haris setelah terdiam cukup lama


" Aku tahu, maka dari itu aku bertanya padamu apakah Diya benar-benar Raja Senjata, jika iya maka sebaiknya kamu membawanya pergi dari negara A" kata Gico karena yang mencurigai Diya bukan hanya dirinya tapi juga Jenderal utara negara A


" Diya, dia termasuk Raja Senjata tapi juga bukan"


" Apa maksudmu?"


" Raja Senjata yang asli sudah meninggal, Diya hanya orang yang ditunjuk untuk mengisi posisi pemimpin yang kosong beberapa tahun yang lalu"


Gico tertegun mendengar penjelasan Haris, jika Raja Senjata meninggal kenapa tidak ada berita yang keluar sama sekali


" Ada banyak kekacauan setelah Raja Senjata meninggal, bawahannya ada yang memberontak ingin menjadi pemimpin dan membunuh anak Raja Senjata yang waktu itu masih berumur tujuh tahun"

__ADS_1


" Untung ada banyak bawahan yang masih setia, mereka menghabisi pengkhianat-pengkhianat itu. Tapi tentu akan ada korban saat hal-hal seperti ini muncul" kata Haris memandang ke atas langit-langit dengan tatapan sendu.


__ADS_2