
" Bubu, ada apa denganmu. Kenapa kamu melamun?"
Laskar mendekati bubunya yang tengah duduk di depan jendela ruang tamu dengan bertumpu pada kedua tangannya.
Leiya mengalihkan pandangannya dari pemandangan di luar dan menatap Laskar sambil tersenyum, ia mengulurkan tangannya untuk mengangkat Laskar ke pangkuannya.
" Hanya memikirkan beberapa hal yang tidak penting," kata Leiya memeluk erat tubuh Laskar.
Leiya merasakan ketenangannya kembali setelah memeluk Laskar, ia memandang ke luar jendela lalu merasakan kehangatan putranya. Ia merasa sangat damai.
"Laskar. Katakan pada bubu, kenapa kamu mau menyebut Arya dengan panggilan ayah?"
Laskar yang memegang mainan ditangannya itu menjawab tanpa pikir panjang, " Karena saat dia berdiri di depan bubu dan aku, saat terjadi penyerangan wanita gila itu. Aku merasa dia sangat keren."
" Bubu, aku masih begitu kecil. Aku tidak bisa melindungimu seperti yang dilakukan ayah, aku selalu berpikir jika aku sendiri sudah cukup untuk melindungimu bu. Tapi saat hal-hal seperti itu terjadi, aku hanya bisa meringkuk didekapanmu," ucap Laskar dengan raut muka serius, ia memegang tangan bubunya dengan erat.
"Bu, aku hanya ingin kamu aman. Dan ayah sudah membuktikannya, dia bisa melindungi kita. Aku harap kamu juga bahagia bu, jangan hanya terus memikirkanku saja. Pikirkan juga kebahagiaan bubu," lanjut Laskar dengan senyum yang begitu manis.
Leiya merasa matanya sangat sakit, ia tidak bisa menahan isakan kecilnya. Bagaimana putranya bisa begitu bijaksana!? Dia bahkan memikirkan hal-hal yang tidak pernah Leiya harapkan dalam hidupnya.
" Bubu, memilikimu saja sudah merupakan kebahagiaan terbesar. Kamu adalah harta berharga bubu, bubu tidak menginginkan apapun lagi. Kamu saja sudah cukup," ucap Leiya pelan dengan kedua tangan yang mempererat pelukannya sambil mencium pipi Laskar.
" Laskar, kenapa kamu begitu menggemaskan?! Kau tahu nak, bubu tidak pernah percaya adanya kasih sayang keluarga. Semua orang hanya mengambil keuntungan masing-masing, sesuai kebutuhan mereka. Setelah kegunaannya habis, mereka bisa membuangnya kapan saja,"
" Jadi, bubu tidak pernah berpikir untuk membangun sebuah keluarga. Tapi karena kamu, kesan bubu tentang keluarga sedikit berubah." kata Leiya menghapus tetesan air matanya yang mengering.
Laskar mendengarkan Bubunya dengan tenang, tapi tangan kecilnya yang memegang mainan itu meremas mainan dengan kuat. Ia tidak tahu apa yang keluarga Bubunya dulu lakukan yang membuat Bubu begitu menderita, bahkan ia tidak memepercayai kasih sayang keluarga yang tulus itu ada.
Laskar mendongakkan kepala kecilnya menghadap wajah Leiya lalu mencium pipinya dengan ringan.
" Bu, tidak semua orang memperlakukan ketulusan sebagai intrik untuk mencapai tujuan. Aku akan selalu menemanimu, agar Bubu tidak tertipu oleh orang lain lagi." ujar Laskar dengan nada serius.
__ADS_1
Leiya tertawa kecil mendengarnya, ya dia dulu sering menipu dirinya sendiri bahwa semua akan baik-baik saja selama dirinya patuh. Tapi ia terlalu buta untuk melihat kemunafikan keluarga itu.
" Baiklah, maka itu adalah kesepakatan. Jangan pernah mengingkarinya,"
"Tentu saja itu benar!" ucap Laskar menepuk dadanya seperti ksatria yang gagah yang tidak akan melanggar janji.
Leiya hanya tersenyum lembut, kedua tangannya diletakkan di atas tangan Laskar dan mengusapnya perlahan," Yaah bubu percaya padamu,"
" Laskar, apakah kamu rindu dengan Nenek Wen?"
Mendengar pertanyaan itu, Laskar sedikit mengerutkan keningnya. Jika tebakannya benar, Bubu ingin kembali ke Negara A. Lalu bagaimana dengan ayah? Apa yang harus dia katakan?
" Ya sedikit, tapi dengan Bubu di sisiku. Aku tidak terlalu memikirkannya. Karena, saat di sini Bubu lebih banyak menemaniku, daripada saat di Negara A Bubu selalu sibuk dengan pekerjaan." ucap Laskar yang membuat Leiya merasa bersalah.
" Maafkan bubu, bubu janji akan lebih banyak menemanimu." kata Leiya mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya sebagai isyarat.
Laskar mengangguk dengan ringan, ia tidak tahu apakah cara ini akan berhasil.
" Baiklah ayo ke sana," ucap Leiya menurunkan Laskar lalu mereka berdua pergi.
...****************...
" Bagaimana? Apakah rencana kerjasama kita lulus?" tanya Tuan Pras pada sekretarisnya.
" Bos, mereka bilang masih mempertimbangkannya," jawab sekretaris wanita itu dengan nada bicara bisnis.
Tuan Pras kesal mendengarnya, sudah satu bulan mereka mengajukan proposal. Tapi, Perusahaan Miyan Group itu belum juga memutuskan kesepakatan kerjasama.
" Tidak perlu terburu-buru Ayah, mungkin memang perusahaan mereka sedang ada kendala. Dipertimbangkan juga lebih baik daripada ditolak secara langsung."
Dio melihat ayahnya marah segera bangkit dan berdiri di sampingnya, ia menepuk punggung Tuan Pras untuk menenangkannya.
__ADS_1
" Hmm... Kamu benar, tapi jika mereka tetap tidak memutuskan dengan pasti dalam satu minggu ini. Kita beralih saja ke Perusahaan Derwe, kudengar mereka juga sedang mencari investor," ucap Tuan Pras dengan tegas.
Ia menyuruh sekretarisnya itu untuk menyusun proposal lain, segera sekretaris mengundurkan diri dari kantor CEO.
" Ayah, kapan kamu akan membuka rekening bank ku lagi. Istriku tidak bisa keluar bersosialisasi, dia terus mengeluh padaku. Wanita-wanita kaya mengejeknya karena miskin, bagaimana bisa menantu keluarga Pras diperlakukan seperti itu!?" ucap Dio menatap ayahnya dengan memohon.
Tuan Pras mendengus dingin mendengar permintaan putranya, perusahaan mereka telah dibuat malu oleh Yami. Bagaimana Tuan Pras bisa memaafkannya dengan mudah.
" Katakan pada istrimu untuk berdiam di rumah selama sebulan, renungkan kesalahan apa yang telah dia buat. Untuk apa bersosialisasi dengan wanita-wanita tidak berotak itu, mungkin dia akan mempermalukan wajahku lagi,"
Tuan Pras menepis tangan Dio dan menyuruhnya kembali ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaan.
Dio hanya bisa menghela napas lalu berbalik menuju pintu, melihat Gio di depan pintu menaiki kursi roda yang didorong bawahannya untuk masuk ke ruangan ayahnya.
Dio memelototinya tidak senang, menendang roda dengan kaki kanannya lalu pergi dengan cepat. Kursi roda itu hanya bergetar sedikit karena bawahan Gio yang dengan kuat mencengkram pegangan kursi roda.
Gio mengabaikan perilaku kekanak-kanakan Dio, ia bahkan tidak menatapnya. Ia langsung menyuruh bawahannya mendorong kursi rodanya ke dalam.
" Ayah, kamu memanggilku?"
Tuan Pras yang melihat Gio masuk hanya melirik dengan ringan.
" Hmm... Karena kamu baru tiba hari ini di perusahaan, kamu bisa mulai bekerja besok. Jangan terlambat, dan kamu seharusnya tahu. Jangan ada orang asing saat kamu bekerja, siapa tahu ternyata dia mata-mata," kata Tuan Pras melirik bawahan Gio yang dari tadi berdiri di belakangnya.
" Aku mengerti ayah, apakah ada instruksi lain?" tanya Gio, ia tidak peduli dengan wajah ayahnya yang seperti tidak ingin melihatnya. Ia hanya diam mendengarkan dengan posisi duduknya yang nyaman.
" Tidak ada, pergilah."
" Baik,"
Setelah Gio pergi, ada seorang pria masuk ke dalam dengan tergesa-gesa.
__ADS_1