Ibuku Tidak Ingin Menikah

Ibuku Tidak Ingin Menikah
Bab 74. Bunga Poppy


__ADS_3

Arya berdehem sebentar untuk melegakan suaranya lalu menekan tombol jawab dengan cepat. Ia sekarang berada di balkon dengan pemandangan di depannya itu adalah hiruk-pikuk kota yang begitu sibuk karena memang waktunya orang-orang melakukan aktivitas.


" Hallo Ay,"


Leiya di seberang telepon merasa telinganya panas, ia tidak tahu harus berkata apa! Tapi melihat putranya yang ada di sebelahnya, Leiya dengan cepat memutar otak untuk melanjutkan pembicaraan.


" Ya..itu maafkan aku karena tidak menghubungimu kemarin. Aku langsung tertidur saat sampai di rumah jadi tidak memperhatikan, apakah kamu ingin berbicara dengan Laskar? Oke.. aku akan memberikan teleponnya," kata Leiya dengan cepat menyingkirkan ponsel ditangannya ke samping, tempat duduk Laskar.


Mereka berdua sekarang berada di dalam taksi menuju rumah Long, Laskar yang tiba-tiba menerima ponsel itu hanya bisa melihat bubunya dengan tatapan kosong.


'Ya, aku tahu Bubu pasti akan melakukan hal seperti ini! ' ujar Laskar dalam hati dengan tertekan.


Arya di seberang telepon juga merasa tidak senang. Tapi, setelah mendengar suara Leiya. Arya tidak memaksa Leiya untuk tidak menyerahkan ponselnya pada Laskar.


Lagipula, hubungannya dengan Laskar sekarang sedang baik, ia tidak ingin membuat anaknya merasa tidak nyaman.


Jika Laskar mengetahui pikiran Arya, dia akan memarahinya karena bodoh! Ia sudah memberikan kesempatan agar ayahnya bisa mendekati bubu, tapi ia tidak memperjuangkannya dengan keras?!


" Ya Ayah, aku tahu Bubu sangat merindukanmu. Dia tidak sabar untuk menelponmu tadi, jadi sering-seringlah menelpon. Pria harus mengambil inisiatif karena perempuan memiliki rasa malu yang begitu kuat,ingat itu Ayah!" kata Laskar pada Arya dengan suara yang bisa terdengar sampai ke telinga Leiya.


Arya yang diajari oleh anaknya itu tidak tahu harus membalas apa, Laskar anak umur lima tahun bahkan tahu hal-hal tentang pria yang harus mengambil inisiatif. Entah dari siapa dia belajar hal yang tidak sesuai dengan umurnya ini.


" Aku tahu nak, jangan khawatir. Aku akan terus menghubunginya, jika perlu aku akan mengirimnya bunga setiap hari. Katakan padaku, bunga apa yang Bubumu suka?" tanya Arya dengan nada membujuk.


" Hmm... Bubu sangat suka bunga poppy, ia pernah memiliki satu pot. Sayangnya itu hanya bertahan selama sebulan lalu mati,"


" Oh, selera Bubumu sangat unik," kata Arya terkekeh ringan yang bisa didengar oleh Leiya.

__ADS_1


Dalam dunia pengobatan, opium atau dikenal juga sebagai bunga poppy adalah bunga yang mengandung racun alkaloid. Opium telah lama diambil getahnya untuk keperluan pengobatan. Morfin dan alkaloid yang terkandung di dalamnya sering menyebabkan halusinasi layaknya konsumsi narkoba.


Jadi, bisa kalian tebak. Apa yang akan terjadi jika getah Bunga Poppy disalahgunakan? Getahnya bisa dipakai untuk morfin, heroin, sampai sabu-sabu...


Leiya tidak terima jika Arya berpikir buruk tentang bunga kesukaannya, " Apakah ada masalah? Bunga Poppy itu sangat indah, jangan hanya memikirkannya dari sudut pandang manusia-manusia jahat itu. Dia memiliki banyak makna,"


" Bahkan di negara-negara seperti AS, inggris, dan negara persemakmurannya. Mereka memperingati Hari Remembrance Day dengan memakai pin Bunga Poppy dibajunya," lanjut Leiya berbicara dengan keras agar Arya mendengarnya.


" Aku tahu, Bunga Poppy sangat bermakna. Aku akan mengirim bunga itu ke rumahmu setiap minggu mulai sekarang oke, apakah kamu senang?" tanya Arya yang masih tersenyum lebar mendengar Leiya marah.


Kona yang berniat memanggil Arya juga ikut tercengang, tidak biasanya bosnya ini tersenyum sebanyak ini. Pasti dia melakukan panggilan dengan nona Leiya, sudahlah! Lebih baik dia pergi sekarang sebelum terkena serangan jantung.


Laskar melihat wajah Bubunya berubah merah seperti kepiting rebus itu akhirnya dengan cepat mengakhiri panggilan. Ya, cukup sudah ia menggoda Bubunya, jika diteruskan ia khawatir Bubu akan melempar telepon ke luar dari mobil.


" Maaf menyela bu, di depan kita ada beberapa orang yang menghadang jalan," kata sopir itu dengan gugup.


Di depannya ada empat pria berpakaian hitam yang terlihat menakutkan, baru pertama kali ini pak sopir mengalami hal seperti ini yang membuatnya takut.


Leiya juga heran dengan kehadiran pria-pria yang tidak dikenal ini. Ia tidak ingin sesuatu yang ekstrem terjadi, maka Leiya memutuskan untuk membuka pintu mobil dan keluar.


" Siapa kalian? Ada masalah apa sehingga kalian menghentikan mobil kami," tanya Leiya menatap pria di depannya ini dengan tidak gentar.


Pria itu membungkuk sedikit, " Maaf Nona, Tuan Ning yang mengirim kami. Kami harap kerja samanya agar anda ikut bersama kami,"


Leiya menjadi bertanya-tanya dihatinya, untuk apa pak tua itu ingin menemuinya lagi? Bukankah dia tidak ingin terlibat dengannya?


" Jika aku menolak?"

__ADS_1


" Maka maafkan kami jika berperilaku kasar, kami akan membawa anda dengan paksa," kata pria itu dengan nada acuh.


Leiya menjadi geram sekali, sifat pak tua itu memang tidak pernah berubah. Jika ia sendirian, Leiya tidak masalah untuk ikut bersama mereka. Tapi, karena ada Laskar. Leiya khawatir kalau Tuan Ning akan berbuat macam-macam dengan anaknya.


Di tengah kebimbangannya, Laskar keluar dari mobil dan menarik sudut baju Leiya.


" Bu, aku ikut denganmu,"


Mendengar ucapan anaknya, Leiya juga tidak punya pilihan lain. Ia dengan segera mengikuti pria itu bersama Laskar.


" Oh tunggu sebentar!" kata Leiya pada mereka.


" Ya ada apa Nona?" tanya pria yang sedari tadi berbicara dengan Leiya.


" Aku belum membayar tagihan taksi, kamu tidak keberatankan untuk membayarnya? Lagipula kamu yang mengganggu perjalananku," kata Leiya tersenyum dengan tulus.


Pria itu mengedutkan sudut mulutnya, nona ini sungguh merepotkan." Tidak masalah," katanya dengan raut muka datar seperti batu.


" Baguslah," ucap Leiya tertawa kecil lalu menuntun Laskar untuk masuk ke mobil mereka.


Ia duduk di belakang dengan kanan dan kirinya adalah pria berpakaian hitam itu. Sedangkan Laskar ada dipangkuannya.


Setelah beberapa menit, mobil pun melaju meninggalkan taksi yang masih berhenti di pinggir jalan itu.


Dalam perjalanan itu, Leiya merasa ada yang tidak beres. Jalan yang mereka lewati ada banyak sekali pohon di pinggirnya, tidak sesuai jalan menuju Rumah Ning yang Leiya ingat.


Ia mempererat dekapannya pada Laskar, Leiya tidak berani berbicara apapun karena posisinya yang kurang menguntungkan dibandingkan dengan empat pria ini.

__ADS_1


Perjalanan terasa begitu jauh dan keringat dingin mengalir di punggung Leiya, ia berusaha tenang agar Laskar tidak merasakan kecemasannya. Tapi, Laskar yang peka dengan emosi ibunya itu tahu kalau ada sesuatu yang salah.


Laskar tidak bisa memainkan produk elektronik apapun secara terang-terangan sekarang, karena pria-pria itu terus mengawasi gerakan mereka. Untung saja Laskar selalu membawa kubus rubiknya yang terdapat pemancar lokasi, setelah menekan tombol darurat. Laskar hanya bisa berharap akan ada bantuan yang segera datang.


__ADS_2