
Leiya meletakkan dokumen ditangannya lalu memandang Arya.
" Setelah mengetahui kebenaran, apa yang kamu inginkan? Aku tidak akan pernah memberikan Laskar padamu" kata Leiya dengan waspada
Arya memandangnya dengan dalam dan berkata
" Aku tidak menginginkannya, aku akan memberikan semua tunjangan yang diperlukan Laskar baik itu pendidikan, kesehatan, ataupun lainnya"
Leiya menghela napas lega mendengarnya, tapi tiba-tiba Arya mencondongkan tubuhnya ke arahnya yang membuat Leiya gugup.
" Aku tidak menginginkan Laskar tapi aku menginginkanmu" kata Arya ditelinga Leiya.
Telinga Leiya menjadi merah dan panas, ia segera mendorong Arya dengan keras.
" Jangan bicara omong kosong, aku tidak mungkin bersama denganmu!" kata Leiya lalu beranjak pergi, dia tidak bisa menghadapi Arya lagi.
Arya membiarkan Leiya pergi, ia duduk di kursinya dan membuka laci kerja. Di sana ada foto Leiya lima tahun lalu menggunakan gaun.
Yah entah kapan perasaan ini tumbuh di hati Arya, mungkin lima tahun lalu.
Setelah menghentikan pencariannya waktu itu, ia selalu terbayang wajah Leiya, apalagi saat melihatnya tertawa lepas. Diam-diam Arya selalu memandang foto Leiya diponselnya, entah kenapa matanya selalu terpaku.
Leiya duduk dikursinya dengan terengah-engah, ia menarik napas dalam untuk menenangkan dirinya. Arya memang orang gila! Mungkin efek dari menjomblo terlalu lama.
" Sudahlah lupakan, ayo Leiya sekarang kamu harus fokus bekerja!" kata Leiya pada dirinya sendiri.
Selesai juga pekerjaan hari ini, Leiya langsung keluar untuk menjemput Laskar.
" Ayo bersama, aku juga ingin menjemput Laskar" ajak Arya dengan tatapan yang tidak bisa ditolak
Leiya dengan pasrah masuk ke dalam dan duduk di belakang mobil.
" Nona duduklah di depan, aku bukan sopirmu" kata Arya dengan datar
" Terserah aku mau duduk dimana, apa pedulimu" ketus Leiya memandang ke luar jendela terus.
Arya menghela napas menyerah dan melanjutkan menyetir, seharusnya dia tidak mengusir sopir tadi.
Laskar keluar dari kelas dengan teman barunya Boby yang gemuk, ia selalu menempeli Laskar yang tidak bisa laskar usir, akhirnya Laskar membiarkannya melakukan apapun.
" Waah Laskar apakah mereka orang tuamu? Mereka sangat cantik dan tampan, jika ayahku setampan ayahmu, pasti aku tidak akan menjadi bola gemuk" kata Boby dengan mata bersinar melihat ke arah Leiya dan Arya yang mendekat.
Laskar menatap ke depan dengan tertegun, tentu saja semua anak pasti menginginkan dijemput orang tua mereka. Agar tidak membuat bubu sedih, ia tidak pernah memberitahu bubunya.
Laskar menatap Boby dengan jengah
" Jika kamu ingin kurus maka kurangi makan dan banyak berolahraga, jangan salahkan ayahmu. Aku pulang" kata Laskar lalu berlari menghampiri bubu.
__ADS_1
Leiya memeluk anaknya dan mencium kepalanya
" Apakah itu temanmu? Lain kali ajak dia ke rumah untuk makan" ujar Leiya
Laskar mengangguk tidak membantah, Arya berjongkok agar Laskar juga memeluknya. Tapi dia malah mengabaikannya! Arya mengangkat bahunya lalu masuk ke mobil bersama ibu dan anak, lagi-lagi seperti supir yang duduk sendirian di depan.
Sesampainya di rumah, mereka bertiga masuk dan duduk bersama. Leiya pergi ke kamar membiarkan dua ayah dan anak berbicara.
" Lihat itu, kamu memang anakku" kata Arya menyerahkan hasil DNA pada Laskar, entah anak sekecil itu mengerti atau tidak dengan isi kertas tersebut.
Laskar melihatnya sekilas lalu menatap Arya
" Itu bagus, mulai sekarang paman bisa membiayai pengeluaranku jadi bubu tidak lelah bekerja" kata Laskar lalu menyodorkan telapak tangannya
Arya bingung apa yang dimaksud dengan Laskar
" Kenapa menyodorkan tanganmu?"
" Uang saku, bukankah kamu ayahku. Setidaknya beri aku uang saku" kata Laskar dengan cemberut
Arya menepuk kepalanya yang tidak sakit, yah ibu dan anak memang pecinta uang.
" aku tidak membawa uang, lain kali aku akan membawa kartu kredit untukmu"
Laskar cemberut tidak puas dengan ayah ini, Arya yang tahu anaknya kesal segera memberikannya hadiah
Laskar melihat dengan bahagia,ia membuka buku itu dengan antusias dan ingin segera ke rumah ayahnya untuk melakukan percobaan.
" Kalau begitu aku ingin ke rumahmu! Bagaimana kalau sekarang?" tanya Laskar dengan semangat
" Itu tergantung ibumu, apakah dia mengijinkan?" ujar Arya dengan senyum yang dalam
" Tentu saja bubu harus setuju! Jika tidak aku akan pergi sendiri" kata Laskar semngat
" mau pergi kemana?" tanya Leiya yang keluar dari kamar
Laskar melihat ke arah bubunya dengan mata lucunya
" Bu bolehkah aku pergi ke rumah paman? Lihat buku ini, aku ingin mempelajarinya. Bu jika kamu tidak mengijinkan lalu aku akan melakukannya di rumah ibu baptis"
Leiya yang mendengar langsung ketakutan, jika Laskar melakukan hal-hal aneh dan membakar rumah Rifa maka satu gedung akan meminta ganti rugi! Aiss anaknya ini tidak bisakah melakukan hal yang tidak mengkhawatirkan.
" pergilah, terserah padamu. Lagipula dia ayahmu, bsrgaullah dengan baik"
" Terima kasih bu! Ayo paman cepat!" kata Laskar menyeret Arya keluar.
Arya sedikit kecewa karena Leiya tidak ikut, tapi tidak apa-apa, ini baru permulaan.
__ADS_1
......................
" Bagaimana apakah dia sudah mau membuka mulutnya?"
" Tuan, dia sudah bunuh diri"
Braaak
Tuan Pras melempar gelas di tangannya dengan marah.
"Bagaimana dia bisa bunuh diri? Apakah kalian tidak menjaganya!"
" Maaf tuan kami lalai, dia sudah meminum racunnya sebelum ditangkap. Racun itu bekerja sangat lambat, kita tidak bisa mendeteksinya"
Tuan Pras menghela nafas dalam untuk menenangkan emosinya
" Jika orang itu tertangkap, akan aku buat dia menyesal untuk hidup!"
Pengawal itu menundukkan kepalanya setelah ragu-ragu ia akhirnya bicara
" Tuan, apakah ini bukan perbuatan tuan kedua?"
Tuan pras yang mendengarnya pun mencibir
" Dia? Tidak mungkin, dia hanya anak terlantar. Dengan siapa dia bisa memerintahkan hal-hal ini, mungkin sekarang dia sedang khawatir tentang para tetua yang menentangnya masuk ke perusahaan"
" Sudahlah buang saja mayatnya, cari petunjuk lainnya. Kalau perlu sewa detektif swasta, kita lihat bagaimana dia bisa terus bersembunyi dariku" perintahnya
" Baik Tuan" jawab pengawal itu lalu mengundurkan diri.
" tunggu, panggil istrinya Dio"
" Ya tuan"
Setelah mendengar mertuanya memanggil, Yami segera datang ke ruang kerjanya
" Kudengar saudarimu mengenal Anti, jika dia bisa meyakinkan Anti untuk bekerja sama dengan perusahaanku maka itu akan sangat menguntungkan. Dan aku bisa memberinya imbalan jika dia mampu melakukannya"
Mendengar perkataannya Yami merasa kesal, ia menggenggam erat tangannya tapi wajahnya menyembunyikannya dengan sangat baik.
" Ayah aku akan berbicara dengannya, dia seharusnya bisa membantu dengan masalah kecil ini" katanya dengan gigi terkatup
" Bagus, kalau begitu kamu bisa keluar"
" Ya ayah" pamit Yami keluar dari ruangan.
Sampainya di kamar Yami memukul bantal di sampingnya.
__ADS_1
" Sial! Kenapa semua orang selalu membicarakannya! Bahkan jika dia sudah bukan anggota keluarga Ning dia masih bisa membuat ayah melihatnya!"