Ibuku Tidak Ingin Menikah

Ibuku Tidak Ingin Menikah
Bab 80. Liburan?


__ADS_3

" Bos, kami tidak menemukan apapun. Semua ruangan kosong," kata seorang pria dengan hati-hati berbicara pada Arya yang berdiri tegak dengan aura yang menakutkan.


Mendengar hal itu, ekspresi Arya menjadi semakin suram. Mereka telah melacak Leiya sampai ke sini, tapi tidak ada petunjuk apapun lagi.


"Bakar saja rumah ini, jangan menyisakan satu benda apapun," 


Arya memberi perintah dengan nada bicara yang tenang tapi membuat orang-orang di sekitarnya tahu kalau bos mereka sedang sangat marah., ia berjalan keluar dari rumah itu ketika ponselnya tiba-tiba berdering.


Arya melihat nomor asing tertera di layar ponselnya, ia menebak mungkin yang menculik Leiya menelpon untuk meminta tebusan. Setelah beberapa saat ibu jarinya menekan tombol jawab, ia akan berbicara dengan kasar ketika tiba-tiba suara yang lembut menyambutnya membuat ia terkejut.


" Arya.. Ya Tuhan akhirnya aku bisa menghubungimu, aku lega sekarang. Bagaimana keadaan Laskar? Dia baik-baik saja kan?"


Mendengar suaranya Leiya yang seperti tidak dalam bahaya, Arya menahan napas sejenak lalu segera senyum kecil muncul di sudut bibirnya.


"Dia sangat baik, di mana kamu sekarang? Aku akan menjemputmu segera," kata Arya dengan tergesa-gesa, ia ingin memastikan Leiya benar-benar sehat di depan matanya sendiri.


Leiya yang mendengar putranya aman itu menghela napas lega,"Aku sekarang ada di kapal pesiar, tenang saja ada Haris bersamaku. Aku akan minta dia mengantarku pulang," kata Leiya dengan canggung, lagipula tidak mungkin Arya mengejar kapal ini yang sudah berlayar jauh.


"Oh baiklah, jaga dirimu. Hubungi aku jika terjadi apapun" ucap Arya berbicara dengan suara lembut tapi raut wajahnya semakin tenggelam, dia sekarang tahu pasti bahwa orang yang menculik Leiya berhubungan dengan Secret Hall.


Arya begitu yakin karena Haris juga anggota di dalamnya, dan ia juga menerima undangan untuk menghadiri perjamuan kapal pesiar itu tapi Arya menolaknya.


Melihat api yang membesar di depannya, telepon itu hening tidak ada yang berbicara.


"Aku tahu..kalau begitu aku tutup teleponnya, sampai jumpa," Leiya menutup pembicaraan dengan cepat, mendengar suara Arya yang begitu lembut membuat Leiya tidak sabar untuk segera bertemu ayah dan anak itu.


" Ngomong-ngomong kapan kamu bisa mengantarku pulang? " tanya Leiya dengan tangan terulur untuk mengembalikan ponsel milik Haris.


"Perjalanan untuk sampai ke pulau setidaknya akan mencapai tiga hari lagi, jadi aku hanya bisa mengantarmu saat kita sudah tiba di sana," jawab Haris memasukkan ponselnya kembali ke saku dalam jas hitamnya.

__ADS_1


"Tiga hari!?" seru Leiya dengan mata melebar.


Itu waktu yang terlalu lama bagi dirinya yang sangat ingin pulang. Andai saja dirinya punya sayap.


"Mau bagaimana lagi? Kamu bisa menganggap ini sebagai perjalanan liburanmu, jangan terlalu tertekan" ujarnya menepuk pundak Leiya dengan simpati.


" Istirahatlah sudah larut, besok aku akan membawamu berkeliling kapal untuk melihat-lihat," lanjut Haris lalu berjalan keluar dari kamar Leiya.


Leiya menghempaskan tubuhnya ke ranjang dengan perasaan lelah, perkataan Haris memang ada benarnya. Daripada memusingkan cara pulang yang tidak ada, lebih baik menikmati masa ini untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.


Persetan dengan Raja atau Wanita bergaun merah itu! Karena Haris sudah menjamin keselamatannya maka jika terjadi sesuatu dia akan memukul kepala Haris dengan keras.


Keesokan harinya, Leiya bangun sedikit terlambat karena tidur terlalu larut. Ia menguap dengan malas, melihat sekeliling ruangan yang asing ini ia menepuk jidatnya.


Bagaimana ia bisa lupa, sekarang ia ada di kapal pesiar.


"Nona sarapan mu,"


Melihat sarapan yang kaya di depannya, Leiya menggelengkan kepalanya, " Sarapan ini terlalu mewah, tapi Haris sungguh kompeten. Dia tahu makanan ini semua adalah kesukaanku," ucap Leiya dalam suasana hati yang baik.


Selesai sarapan dan membersihkan badan, Leiya terpaksa memakai bajunya lagi. Ia bahkan tidak memiliki baju ganti, liburan macam apa ini.


Untung saja saat Leiya keluar kamar, ia bertemu wanita yang mengobrol dengannya tadi malam yang ternyata tidur di kamar sebelahnya. Ia meminjam baju dari wanita itu dan diperbolehkan.


Melihat baju ini, Leiya sangat terkejut karena baju ini adalah baju desain miliknya. Sungguh wanita itu memiliki penglihatan yang baik.


" Bagaimana? Apakah bajunya sesuai dengan ukuranmu?" tanya wanita itu yang masih menunggu di luar.


"Ya sangat pas, terima kasih banyak. Apakah kamu menyukai desain Anti juga?"

__ADS_1


" Wow kamu juga menyukainya? Aku tentu sangat suka karena desain Anti tidak pernah gagal, itu sesuai dengan seleraku. Lain kali kita bisa berbelanja bersama, ayo tambahkan teman chat," kata wanita itu dengan bersemangat, persahabatan terjalin begitu sederhana. Kita bisa makan bersama berbelanja bersama lalu bisa langsung akrab satu sama lain karena minat yang sama.


Leiya juga senang melihat orang yang memakai baju buatannya, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menatap wanita itu dengan ekspresi minta maaf, "Maaf ponselku hilang, begini saja catat nomormu dinote dan aku akan menghubungimu jika sudah membeli ponsel yang baru,"


Wanita itu setuju dengan saran Leiya dan menuliskannya di selembar kertas, " Oh namaku Hani, siapa namamu?"


" Leiya"


"Oke sekarang kamu menjadi teman baikku, simpan nomorku jangan sampai hilang," kata Hani dengan nada mengancam.


" Aku tidak akan berani," kata Leiya dengan ekspresi ketakutan yang dibuat-buat lalu mereka tertawa bersama.


Haris melangkah mendekati Leiya membuat tawa kedua wanita itu berhenti, Hani menatap Haris yang mendekat dengan jantung yang berdebar-debar.


" Kamu sudah bangun? Ayo aku akan mengajakmu berkeliling," kata Haris menatap Leiya dengan anggukan kecil.


" Bolehkah Hani ikut?" tanya Leiya yang sudah menarik lengan Hani.


Haris mengalihkan pandangannya menghadap Hani, Hani tidak berani bergerak saat ditatao oleh Haris.


" Tentu ayo," jawab Haris mengangguk tidak keberatan.


Leiya tersenyum berjalan mengikuti Haris dengan Hani yang entah kenapa menjadi pendiam.


Haris mengajak mereka berkeliling separuh kapal dan Leiya tertarik dengan ruang permainan, ia melihat ternyata ada panjat tebing di dalam kapal. Ia sangat ingin mencobanya.


"Aku akan bermain di sini bersama Hani, kamu bisa membawakan kami makanan ringan," kata Leiya yang dengan cepat berlari tanpa menunggu respon Haris.


Haris tentu hanya bisa menuruti nenek moyangnya ini dengan pasrah.

__ADS_1


" Leiya apakah kamu mengenal Haris begitu dekat?" tanya Hani penasaran


Leiya yang mendengar itu memiringkan kepalanya menghadap Hani, " Tidak juga, dia lebih akrab dengan anakku. Entah apa yang mereka bicarakan setiap hari," kata Leiya mengangkat bahu.


__ADS_2