Ibuku Tidak Ingin Menikah

Ibuku Tidak Ingin Menikah
Bab 32. Mencari rumah


__ADS_3

Leiya sekarang berada di kantor, ia mencari draft desainnya yang harus segera ia kirim ke kak Diya. Tapi setelah mencari di semua sudut kantornya, ia tidak bisa menemukannya. Leiya sangat cemas dan ingin sekali menghancurkan meja di depannya.


Arya yang sengaja lewat di depan kantor Leiya segera datang menghampiri saat melihat Leiya yang frustasi.


" Ada apa? Kenapa kamu cemas sekali" tanya Arya


" Itu draft desain yang aku simpan di laci, kenapa sekarang tidak ada. Aku ingat dengan jelas menyimpannya di sana" kata Leiya beranjak duduk dengan kesal merebahkan tubuhnya ke belakang.


Arya mengerutkan kening dan segera menelpon seseorang.


" Ayo cek kamera pengawasnya, mungkin kamu bisa menemukan petunjuk" ajak Arya yang telah selesai menelpon


Leiya mengangguk dan segera mengikuti Arya ke ruang pemantauan.


" Kapan kamu menaruh draft itu di laci?"


" Lusa, seharusnya kemarin aku ambil. Tapi khm ya kemarin aku libur, aku tidak tahu apakah ada yang masuk ke ruanganku" kata Leiya berdehem mengingat dirinya kemarin bolos kerja karena kebanyakan minum dan berada di tempat Arya.


" Baik, putar segera rekaman lusa dan kemarin" perintah Arya yang ditanggapi anggukan oleh pak petugas.


" Presiden, ini dia" kata petugas itu menyerahkan kursinya pada mereka berdua.


Arya mengamati dengan cermat, pemantauan lusa tidak ada yang mencurigakan. Semuanya normal.


Saat mengamati rekaman kemarin, Arya dengan cermat melihat ya hanya petugas kebersihan yang rutin membersihkan, tidak ada yang salah dengan kedua rekaman itu.


Leiya juga melihat memang tidak ada yang salah, ia tidak percaya dan mengulang videonya berkali-kali.


" Arya lihat ini, kamu lihat baju petugas itu. Walaupun sepertinya normal, ada sudut di sini yang terangkat. Dia seperti berusaha menyembunyikan sesuatu" kata Leiya dengan semangat bahkan lupa secara langsung memanggil nama Arya di depan petugas itu.


" Yah kamu memang pintar, aku akan menyelidiki orang ini. Kamu tenang saja" kata Arya tersenyum menatap Leiya dengan mata jernihnya.

__ADS_1


Leiya segera memalingkan mukanya, ia tidak tahan melihat wajah tampan Arya! Jangan lupakan kalau dia masih marah padanya!


" Kalau begitu terima kasih presiden, aku akan kembali ke ruangan terlebih dahulu" kata Leiya lalu pergi keluar.


Arya menatapnya terkekeh, ia menatap petugas itu dengan serius


" Jangan sebarkan masalah ini dulu, aku akan melihat bagaimana dia akan melompati tembok dengan tergesa-gesa" kata Arya lalu menatap monitor di depannya dengan dalam.


" Baik presiden"


Leiya menghempaskan tubuhnya di kursi dengan keras, dengan presiden perusahaan turun tangan pasti masalahnya cepat selesai. Leiya menghela napas lelah, kenapa sepertinya dirinya sudah berutang terlalu banyak pada Arya.


Setelah selesai bekerja, Arya menunggu Leiya untuk menjemput Laskar bersama. Leiya dengan terpaksa masuk ke dalam mengikuti.


" Apakah kamu masih marah?" tanya Arya saat sedang menyetir


Leiya mendengus tapi akhirnya tetap menjawab


" Itu normal, aku tidak menyalahkanmu. Aku yang tidak mempertimbangkan keadaan kalian, aku tahu kalian ibu dan anak selalu mengandalkan satu sama lain selama ini. Wajar jika kamu marah jika mendengar akan berpisah lima tahun" kata Arya melihat ke depan dan mengetuk setirnya dengan jari telunjukknya


" Tapi Leiya aku tidak ingin kamu selalu menganggapku sebagai ancaman untuk kalian, sungguh aku tidak bermaksud memisahkan kalian. Bukankah sudah ku bilang aku hanya menginginkanmu" kata Arya dengan tatapan serius


Leiya mendongak melihat Arya untuk melihat jejak kebohongan di wajahnya tapi tidak ada, entah yang dikatakannya memang benar atau keterampilan aktingnya yang bagus.


" Entah apakah kamu mengatakan kebenaran atau bukan, hanya dirimu yang tahu. Lagipula jika kamu tidak ada niat seperti itu bagaimana dengan keluargamu? Tidak mungkin mereka tidak mengambil tindakan" kata Leiya dengan tenang.


Arya ingin berbicara lebih lanjut, tapi melihat mereka sudah sampai. Ia mengurungkan niatnya.


Laskar dengan terampil masuk dan duduk bersama ibunya, ia menyapa ayahnya dengan sopan.


" Bu kemana kita hari ini, bukankah bubu bilang sudah mencari rumah baru. Ayo kita lihat" kata Laskar dengan sengaja mengeraskan suaranya

__ADS_1


Leiya menepuk dahinya, ia ingin segera pindah dari rumah Rifa karena mengingat Rifa yang tidak leluasa bersama Baltic jika ada mereka ibu dan anak.


" Tidak bisa sayang, ada masalah dengan kontraknya, aku tidak tahu apakah agen real estate itu benar-benar ingin menjual. Rumah kecil hanya ukuran tiga petak dijual begitu mahal, sangat menipu!" kata Leiya marah mengingat kejadian itu.


Arya mengangkat alisnya mendengarnya


" Yah mungkin dia penipu, untung kamu pintar tidak membelinya. Sebenarnya temanku baru saja menghubungiku kalau dia mau menjual rumahnya, kalau kamu tertarik aku akan membawamu kesana. Dijamin harga teman" kata Arya menatap Leiya sejenak lalu kembali fokus menyetir.


Leiya berpikir itu ide yang bagus


" Kalau begitu lihatlah, apakah rumah itu layak" kata Leiya yang diangguki oleh Laskar.


......................


" Paman, bagaimana selanjutnya. Aku sudah mengeluarkanmu dari penjara beberapa hari yang lalu. Bagaimana kamu hanya diam saja?" kata pemuda dengan rambut di cat pirang itu.


Laki-laki itu melihat ke arah pemuda itu dengan tenang


" Apakah kamu terlalu tidak sabar? Bertahanlah sebentar lagi. Biarkan dia bersenang-senang terlebih dahulu, aku tidak menyangka akan mendapat kejutan tidak terduga setelah keluar dari penjara. Lihatlah bagaimana nanti aku akan membuat dia merasakan rasa kehilangan yang dalam, apakah dia tidak mengemis padaku pada akhirnya" katanya dengan sinis, ia melihat foto-foto dikomputer dengan kebencian.


"Paman aku tahu kamu selalu punya rencana, aku tidak akan meragukanmu lagi. Cepat atau lambat aku harus menggantikan posisinya dan menendangnya keluar" kata pemuda berambut dicat pirang itu dengan senang tertawa.


Laki-laki yang duduk di depan komputer hanya melihat pemuda itu dengan tatapan melihat orang bodoh. Pantas saja keluarga itu tidak menyerahkan posisi padanya, anak berbau kencur yang bodoh. Cepat atau lambat kamu akan menghancurkan keluargamu sendiri.


" Kamu kembali dan atur sesuai yang aku perintahkan, proyek di negara G sangat penting untuknya. Jika kamu bisa melakukan dengan lancar dan mengalihkannya untuk pergi ke sana maka hal-hal disini akan mudah ditangani" kata laki-laki setengah paruh baya itu.


Pemuda itu menepuk pundak pamannya dengan pasti


" Tentu paman, aku tidak akan membuat kesalahan. Kamu lihat saja nanti dia akan hancur sesuai yang kita rencanakan"


" Bagus, kamu bisa pergi sekarang. Jangan sering datang kesini agar tidak menimbulkan kecurigaan" kata Paman Sam memberi peringatan.

__ADS_1


" Oke, paman rencana dimulai. Aku akan mengabarimu lewat pengawalku jika aku sudah beres dengan yang disana" kata pemuda dicat pirang itu lalu pergi keluar dari ruangan itu.


__ADS_2