
Bai membuka dokumen tentang Leiya, ia membaca dengan cermat tanpa menyingkirkan satu detail pun.
Ternyata sejak kecil Leiya selalu diacuhkan dalam keluarga karena dirinya yang perempuan dan dianggap tidak berguna, ibu Ning juga mengabaikannya karena menganggap dia membawa sial pada dirinya sendiri yang membuat ia diremehkan oleh mertuanya.
Leiya selalu berbuat baik dan berusaha untuk mendapatkan nilai yang bagus, tapi ibu Ning selalu meremehkannya dan tidak pernah mengapresiasi prestasi kecil leiya.
Saat kedua orang tua itu dalam keadaan buruk atau bertengkar, ibu Ning melampiaskannya pada Leiya kecil yang tidak tahu apa-apa. Ia mengurungnya di gudang kecil yang gelap dan ada berbagai serangga seperti cicak, kecoa, tikus.
Para pelayan merasa kasihan tapi tidak bisa berbuat apa-apa, Bibi Wen pengasuh Leiya dari kecil yang selalu diam-diam memberi Leiya makan jika ibu Ning keluar.
Pengurungan itu biasanya hanya seharian tapi saat dia berumur tujuh tahun itu menjadi tiga hari karena ibu Ning yang melupakannya dan bibi Wen yang membuka ruangan itu setelah memohon pada ibu Ning.
Ayah Ning jarang di rumah jadi dia tidak tahu soal itu, pernah Bibi Wen mengadukannya tapi tuan Ning hanya diam dan tidak terjadi perubahan apapun seoalah hal tersebut hanya hal biasa untuk mendisiplinkan anak.
Bai menggenggam erat kertas itu yang dengan cepat kusut, ia sangat marah dan ingin sekali memukul mereka.
Saat Bai bertemu Leiya dalam kampus, dia terlihat baik-baik saja dan tertawa setiap hari. Tapi ia memang sering membolos dalam seminggu itu pasti tidak penuh berangkatnya.
Yang Bai tidak tahu kalau Leiya yang nilai ujiannya biasa saja sering terkena pukulan oleh ibu Ning yang membuat dia kabur dari rumah selama tiga hari untuk balapan.
" El, bukankah keluarga Ning ada bisnis perhiasan di bawah naungan kita" tanya Bai meletakkan dokumen itu di atas meja dan mengambil minumannya.
" Iya bos bisnis perhiasannya sangat menguntungkan" jawab El
" Kalau begitu hancurkan, jika keluarga Ning meminta bantuan Pasir Putih kita maka usir mereka. Mulai hari ini keluarga itu akan masuk daftar hitam" kata Bai memberi perintah dengan mata yang penuh permusuhan.
El mengangguk tidak mempertanyakan keputusan bosnya, siapa yang menyuruh keluarga Ning menyinggung bos mereka yang merupakan ular lokal di kota Y.
" Bos wanita yang menguntitmu ada di bawah, apakah kamu ingin kami menghentikannya bos" tanya El yang mendengar laporan di komunikatornya.
Bai yang sedang memutar gelasnya segera menghentikan gerakannya.
__ADS_1
" Biarkan saja" kata Bai melambaikan tangannya menyuruh bawahannya keluar.
El membungkuk hormat dan segera keluar dari ruangan.
Bai menatap lantai bawah yang ramai dan menemukan sosok yang akrab sedang bermain dadu bersama beberapa pria besar.
" Hei cantik kenapa anak perempuan sepertimu bermain judi apakah orang tuamu tidak mengawasimu" tanya salah satu pria berperut besar.
" Apa pedulimu, cepat mainkan! Lihat bukankah aku sudah menang tiga kali berturut-turut. Apakah kalian merasa dirugikan dan menyuruhku pergi" kata Raya dengan bangga melihat mereka dengan menyilangkan tangannya.
" Heh, hanya tiga kali. Lihat ini bos kami sudah menjadi raja dadu yang terkenal, gadis jangan menangis jika kamu kalah darinya" kata pria berjenggot menunjuk ke pria di sebelahnya yang bertato.
" Ya betul, lihat jika kamu kalah berturut-turut dan tidak punya uang lagi apakah kamu akan membayar dengan tubuhmu? Dengan senang hati aku menerimanya" kata pria bertato itu yang disusul gelak tawa mereka.
Raya memiliki wajah gelap dan akan mengatakan sesuatu ketika lengannya ditarik
" Mainkan permainanmu, jangan menggertak gadis-gadis" kata Bai dengan muram menatap ketiga pria itu.
Tidak menyangka perempuan ini akan memiliki hubungan dengan bos kasino ini.
Bai hanya menatap mereka dengan dingin lalu pergi ke lantai atas membawa Raya bersamanya.
" Ya apakah memainkan adegan pahlawan menyelamatkan kecantikan sangat menarik? Aku tidak tahu kalau kamu orang yang peduli pada orang lain sebelumnya" kata Raya tertawa kecil, ya beberapa kali bertemu bahkan Bai meninggalkannya di hutan yang gelap, sekarang malah menyelamatkannya.
Bai hanya menatap Raya dengan tidak senang
" Aku tahu kamu bisa mengalahkan mereka, kamu tidak butuh bantuan sama sekali. Aku hanya tidak ingin melihat kamu membuat kekacauan di tempatku" jawab Bai dengan tenang
" Seperti yang diharapkan darimu tuan tanpa perasaan" kata Raya dengan santay duduk dan minum di gelas yang ada di meja.
" Itu gelasku" kata Bai melihat tindakan Raya yang mengambil gelas seenaknya
__ADS_1
" Oh, maka tidak apa-apa. Lagipula aku pernah tidur di tempatmu, apa yang menjadi masalah" kata Raya menyesapnya kembali.
Bawahan Bai yang baru mau masuk segera menutup pintu lagi, tidak menyangka bos mereka yang tidak dekat dengan wanita ternyata sangat ahli.
Bai segera mengerutkan dahinya tidak senang, kata-katanya terlalu ambigu bahkan tidak terjadi apapun diantara mereka.
" Jadi apakah kamu membuka kasino di sini setelah keluar dari tentara bayaran? Tuan Hawk" tanya Raya melihat sekeliling dengan tertarik.
" Itu tidak ada hubungannya denganmu" kata Bai memalingkan mukanya dan berjalan ke arah jendela melihat ke bawah.
Raya bangkit dan mendekati Bai dengan jarak yang sangat tipis.
" Semua tentangmu ada hubungannya denganku, bahkan hidupmu" kata Raya tersenyum
" Kamu sendiri yang bilang padaku jika aku masih menginginkanmu hidup maka kamu akan hidup" sambungnya
" Kapan aku mengatakannya?" tanya Bai segera mundur karena jarak mereka yang terlalu dekat.
" Tidak masalah jika kamu tidak mengingatnya, aku akan membuat kamu ingat lagi" kata Raya mendekat ke telinga Bai dan menggigitnya.
" Sampai jumpa tuan Hawk, kita akan bertemu lagi" kata Raya kabur melompat dari jendela ke bawah dengan terampil.
Bai menatap ke bawah dengan muram, wanita ini sangat berani. Ia mengelus telinganya yang panas dengan tangan kanannya dan langsung mengambil kunci mobil.
" Bos apakah kamu tidak menginap?" tanya El
" Tidak, aku akan menemani ayah, aku tidak menepati janjiku terakhir kali untuk membawanya ke lelang amal. Aku pergi" kata Bai pada El dan segera turun mengambil mobilnya.
Di jalan, Bai menenagkan dirinya dan menarik napas dalam-dalam untuk menyingkirkan pikirannya yang selalu terngiang tentang perkataan Raya.
" Ayah aku pulang, malam ini aku akan menemanimu. Katakan apakah kamu ingin bermain catur bersama sampai larut" kata Bai menepuk pundak ayahnya dengan lembut.
__ADS_1
" Oke, ambil papan caturnya. Kamu harus menemaniku bermain catur sampai pagi" kata ayahnya dengan tenang.