Ibuku Tidak Ingin Menikah

Ibuku Tidak Ingin Menikah
Bab 17. Aning


__ADS_3

Leiya yang keluar dari kamar terkejut melihat Rifa duduk di ruang tamu melihat ke arahnya, biasanya jam segini dia masih sibuk menulis.


Leiya berdehem dan segera ke dapur untuk menaruh roti.


"Aya, sampai kapan kamu marah kepadaku hmm, aku sangat sedih" kata Rifa menarik tangan Leiya untuk duduk di sampingnya.


Leiya mendengus dan memalingkan wajahnya.


" lalu apa yang kamu inginkan bukankah tidak ada hubungannya denganku"


Rifa memeluk Leiya dan bertingkah manja


" Aku tahu aku salah, aku tidak akan menyembunyikan apapun darimu lagi oke. Tolong dengarkan penjelasanku"


" Yah kamu jelaskan aku akan mendengar" jawab Leiya melunak, ia tidak tahan dengan tingkah Rifa yang sok imut itu.


" Itu..saat kamu pergi, tidak lama kemudian ayahku menelfon dan menyuruhku untuk pulang. Aku menolak dan ayah menyewa beberapa pengawal untuk membawa paksa aku pulang, dia ingin aku menikah dengan orang tua kaya agar status sosialnya meningkat" setelah menghela nafas sejenak, Rifa melanjutkan cerita


" ibuku menolak keputusan ayah juga tapi dia tidak bisa menghentikannya, untung waktu itu ada Baltic. Dia membawaku dari rumah dan langsung berbicara pada orang tuaku kalau dia akan menikah denganku, aku juga terkejut tidak menyangka dengan tindakannya"


" Ayahku tentu tidak menolak melihat latar belakang keluarga Baltic yang lebih tinggi dari orang kaya itu, aku kira tindakannya hanya untuk menyelamatkanku tapi aku tidak berharap dia serius. Dia selalu menggangguku setiap hari dan yah seperti yang kamu lihat sekarang, kita bersama" jelas Rifa menyelesaikan ceritanya.


Leiya mendengar tindakan orang tua Rifa merasa sangat marah, kenapa ada orang tua yang tidak menyukai anak-anak mereka dan malah mementingkan gengsi dan status sosialnya. Sangat menyebalkan


" Maaf Rifa, saat kamu kesulitan aku tidak ada di sampingmu. Untung kamu baik-baik saja, kalau tidak aku akan merasa bersalah, lalu bagaimana tanggapan orang tua Baltic? Apakah mereka menyulitkanmu?" kata Leiya khawatir


Rifa terkekeh dan menggelengkan kepalanya


" Mereka sangat baik padaku, lagipula aku juga sudah menjadi penulis terkenal, karyaku sudah difilmkan beberapa kali. Mereka seharusnya beruntung mempunyai menantu yang pengertian" canda Rifa agar sahabatnya tidak menyalahkan dirinya sendiri, lagipula saat Leiya hamil ia pun tidak ada di sampingnya untuk mendukungnya.


" Kalau begitu aku lega, jika Baltic menindasmu maka katakan saja padaku, akan aku beri dia pelajaran" ujar Leiya mengangkat tinju kecilnya.


Rifa tertawa dan memeluk Leiya lagi


" jadi kamu tidak marah lagi?"


" kapan aku marah, aku hanya kesal oke. Baiklah makan roti itu aku mau tidur, selamat malam" jawab Leiya kabur ke kamar.


......................

__ADS_1


Keesokan harinya mereka bersiap-siap pergi ke tk untuk melihat-lihat. Baltic dan Rifa entah berkencan ke mana, sejak pagi sudah tidak kelihatan.


" Bu, tk ini tidak buruk" ujar Laskar melihat banyak anak dengan tertib mengikuti guru, ia tidak melihat anak menangis sejauh ini.


Leiya mengangguk setuju dan menemui kepala sekolah untuk membahasnya, Laskar ditinggal sendiri merasa bosan. Ia berjalan-jalan disekitarnya, ia melihat ada anak perempuan yang kesulitan mengambil mainannya yang tersangkut.


Laskar mengambil sapu di dekatnya dan membantu mainan anak itu untuk dikembalikan.


" Terimakasih, namaku Aning. Siapa namamu, apakah kamu siswa baru? Biar aku cari hadiah apa yang cocok untukmu" kata Aning berlari mencari ke dalam tas, ia tersandung beberapa kali tapi tetap berjalan seolah tidak ada yang terjadi.


Laskar tertawa geli melihatnya


" dasar anak bodoh"


Aning kembali dan memberi Laskar sepotong permen


" ini permen jatahku hari ini akan aku berikan padamu, aku tidak punya makanan lain" katanya melirik permen itu dengan sedih.


Laskar meliriknya dan berkata dengan acuh


" Kamu simpan untuk dirimu sendiri, aku bukan anak kecil lagi yang suka makan permen" ujarnya dengan sok dewasa


Aning bingung dengan perkataan Laskar


Laskar mengerucutkan bibirnya


" aku lebih tinggi satu cm dari mu, lupakan aku tidak akan berbicara lagipula kamu tidak mengerti"


Aning yang akan berbicara dipanggil oleh gurunya untuk masuk ke kelas.


" Eh kalau begitu siapa namamu? Cepat beritahu aku, aku harus masuk kelas. Besok aku bawakan kamu makanan yang lebih enak dari ini" janjinya


" Namaku Laskar"


Aning mengangguk memberi tanda oke dan melambaikan tangannya, ia segera berlari menuju kelas.


Laskar tidak menganggapnya serius, ia melihat ibunya sudah keluar pun menghampirinya.


" Bu mau ke mana kita setelah ini?" tanya Laskar

__ADS_1


Leiya merenung sejenak dan membuat keputusan.


" Ayo bubu ajak kamu ke jalan makanan di distrik timur, makanannya sangat enak" kata Leiya tidak sabar untuk makan.


....


Setelah sampai di jalan makanan, Laskar terkejut sejenak karena banyak penjual makanan di kanan dan kiri jalan. Sangat menarik.


Leiya juga melihat dengan rindu, sudah lama ia tidak makan di sini.


" ayo nak kamu mau beli apa, ada cilok, cilor, martabak, bakso juga ada. Banyak sekali, ehm ayo bubu belikan kamu crepes itu, oh sate buah juga, ini jamur krispi kamu pasti suka" kata Leiya memborong makanan untuk Laskar dan dirinya


Laskar memgikuti ibunya dengan patuh dan duduk di tempat terbuka untuk makan, setelah semuanya habis mereka menghela nafas puas. Oh surga makanan.


Diperjalanan pulang, mereka jalan kaki terlebih dahulu untuk mencerna makanan. Laskar berjalan sedikit membungkuk, perutnya sakit karena kekenyangan.


Leiya memijat perutnya agar lebih baik dan berjalan kembali.


Setelah tiba di rumah, Leiya mengurus pekerjaannya. Laskar tidak mengganggu, ia bermain sendiri dan mengeluarkan ponsel yang disimpannya.


Melihat gurunya sudah membalas pesan, Laskar gembira karena ia menyetujui permintaannya.


Laskar meminjam laptop milik Rifa yang biasa ia gunakan dan mulai mengetik serangkaian kode.


" beraninya menindas bubu, rasakan pembalasanmu" ujar Laskar menatap dengan puas dan mengklik kirim


Laskar mengucapkan terima kasih kepada gurunya dan mengirim amplop merah. Ia selalu diberi uang saku oleh bubu dan uang tahun baru dari nenek dan lainnya yang ia simpan di bank.


Leiya yang sedang mendesain tidak tahu apa yang dilakukan anaknya akan memgejutkannya.


Rifa kembali bersama Baltic membawa mainan, pakaian, dan beberapa barang untuk Laskar.


Laskar tidak menolak dan menerima dengan tersenyum dalam suasana hati yang baik.


Rifa merasa terhibur dengan kelucuan Laskar dan bermain bersamanya dengan Baltic juga.


Baltic penasaran dengan kaleng kecil digantungan tas Rifa dan memencet salah satu tombol yang mencolok.


"Rifa kamu dapat dari mana barang ini, lucu sekali" tanya Baltic melihat kaleng kecil itu memproyeksikan kelinci kecil lucu yang sedang makan.

__ADS_1


" Oh itu dari Laskar, waah aku baru tahu kaleng itu bisa mengeluarkan gambar. Aku kira hanya sebagai gantungan" kata Rifa melihat proyeksi dengan gembira


Laskar menatap Rifa dengan bosan, yah ibu baptisnya meremehkan benda yang ia berikan. Sebenarnya itu juga dianggap sebagai senter, dibalik itu ada mekanisme lain. Tapi Laskar tidak memberi tahu dan membiarkan Rifa mencari tahu sendiri.


__ADS_2