
Leiya merasa pusing karena Arya yang memeluknya erat sampai memutar tubuhnya,ia mendorong Arya untuk menjauh dari pelukannya.
" Kenapa kamu begitu bersemangat, memang benar kamu ayahnya jadi sudah sewajarnya Laskar memanggilmu ayah" ujar Leiya dengan tangan yang sibuk mengambil piring kotor untuk diletakkan ke wastafel.
Arya berdehem, melihat kedua orang yang sibuk dengan halnya masing-masing. Arya mengangkat bahunya tidak peduli.
" Lanjutkan makanmu, ayah akan kembali melakukan beberapa pekerjaan" katanya mengusap kepala Laskar yang sedang menunduk makan lalu berjalan kembali ke ruang tamu membuka laptopnya.
Laskar mengangguk dan terus makan, ini pertama kalinya ia berada di rumah ayahnya di ibukota. Lebih luas dari rumah yang ada di kota Y, ia memutuskan untuk mengelilingi rumah ini setelah makan karena penasaran.
Leiya yang telah selesai mencuci piring kini duduk di ruang tamu di sebelah Arya memandang Arya yang sangat serius bekerja.
Leiya tiba-tiba merasa kalau Arya ini cukup tampan saat sedang serius bekerja seperti ini.
" Apakah kamu sudah puas memandang wajah tampan suamimu ini Ay?" kata Arya melirik Leiya dan berbicara dengan nada menggoda.
Leiya tersipu karena tindakannya melihat Arya diam-diam itu ketahuan, ia memalingkan mukanya dengan malu.
" Suami sialan, kita bahkan belum menikah. Jangan berbicara sembarangan"
" Kalau kamu mau kita bisa mendaftarkan pernikahan sekarang juga" kata Arya dengan cepat membuat Leiya semakin memerah sampai ke telinga.
" Diam dan lakukan pekerjaanmu dengan cepat, lagipula siapa juga yang mau menikah denganmu" rutuknya mengabaikan Arya dan membuka ponselnya sendiri.
Arya juga tidak menggoda Leiya lagi, ia fokus menyelesaikan pekerjaannya agar cepat selesai.
" Hmm rumah Baltic kan dekat dari sini, aku harus mengunjunginya sekarang. Sudah lama tidak berjumpa Rifa, apakah dia akan bertambah gemuk" kata Leiya berbicara pada dirinya sendiri.
" Laskar, bubu akan pergi ke rumah paman Baltic. Kamu mau ikut atau tidak?" tanya Leiya pada putranya yang masih duduk di meja makan.
" Tidak bu, aku di rumah saja bersama ayah. Aku lelah" jawab Laskar
" Baiklah kalau begitu" kata Leiya dengan tidak bersemangat.
Ia ingin Laskar ikut agar hatinya tetap tenang tapi karena Laskar bilang dirinya lelah maka Leiya tidak bisa memaksanya.
" Aku akan menjaganya kamu tidak perlu khawatir, pulanglah lebih awal" ujar Arya dengan pasti.
Leiya mengangguk setuju, jika Arya bersama Laskar maka tidak mungkin terjadi apapun padanya
__ADS_1
" Kalau begitu aku pergi, hanya beberapa jam. Aku akan segera pulang untuk mengganti perbanmu, awas jangan sampai basah" kata Leiya memperingatkan dengan nada mengancam yang membuat Arya tertawa.
" Aku berjanji tuan putri"
Ujar Arya sambil mengangkat tangannya tanda ia akan menepati janjinya untuk menjaga Laskar dan juga lukanya.
" Baguslah"
Leiya berjalan ke kamar tidur untuk berganti pakaian dan mengambil tasnya lalu pergi diantar oleh sopir Arya menuju kediaman Baltic.
Arya yang selesai dengan urusannya kini menatap Laskar yang tengah bermain dengan alat kimia di dapur.
" Ayah akan mengunjungi paman Sam, ayo ikut dengan ayah"
Laskar yang sibuk bermain kini meletakkan mainannya dengan rapi lalu menoleh ke arah Arya
" Aku akan bersamamu ayah, tunggu aku akan mencuci tangan" kata Laskar berjalan ke wastafel untuk mencuci tangannya.
" Apakah dia melakukan hal buruk padamu?" tanya Arya sambil menggandeng tangan Laskar menuju ke luar.
" Tidak, tapi kamarnya sangat tidak nyaman aku tidak suka itu" ujar Laskar mengingat kasur yang ia tempati untuk tidur terasa kasar.
" Itu sudah menjadi kebiasaannya, dulu saat ayah kecil. Paman Sam selalu membuat ayah tidur ditempat seperti itu katanya lebih baik untuk kesehatan" kata Arya mengangkat bahu mengingat masa kecilnya
" Tapi kenapa kakek Sam menyiksa anjing-anjing itu, mereka sangat menyedihkan" ujar Laskar dengan nada sedih
" Ayah tidak tahu, dulu dia sangat mencintai anjing bahkan selalu membawanya untuk pergi kemanapun. Mungkin ia mengalami trauma psikologis karena kematian istrinya"
" Hari ini dia tiba-tiba pingsan setelah melihat bubumu yang mirip dengan mendiang istrinya, aku tidak tahu apakah mereka sebenarnya memiliki hubungan darah"
Arya termenung sambil mengetukkan jarinya di pahanya karena mereka berdua sudah di dalam mobil dan akan segera sampai ke rumah sakit.
" Bukankah itu berita buruk untukmu ayah, jika bubu ternyata sepupumu maka kakek Sam tidak akan membiarkan kalian menikah" kata Laskar tertawa geli mengingat jika hal itu benar-benar terjadi.
Arya yang mendengarnya memiliki wajah yang hitam seperti pantat wajan.
" Dia? Heh tanyakan dulu pada bubumu apakah dia akan menerima ayah bajingan sepertinya" katanya mencibir
Laskar mengangkat bahu tidak tahu, yah urusan orang dewasa. Ia hanya anak kecil yang hanya akan menonton pertunjukkan di pinggir lapangan.
__ADS_1
Mobil berhenti tepat di pintu masuk rumah sakit, Arya segera turun bersama Laskar. Ia tidak membawa Leiya dengan sengaja karena takut jika Leiya akan marah melihat wajah pamannya.
" Ayo masuk"
Mereka berdua masuk ke dalam bangsal, di sana ada Samuel yang masih terbaring di ranjang dan Kakek Noma yang duduk di sebelahnya.
Melihat kedatangan Arya, Samuel mencari di belakang Arya tapi tidak menemukan wanita itu. Ia menghela napas kecewa.
Arya mengabaikan tatapan kehilangan dari mata pamannya dan terus berdiri di sebelah ranjang bersama Laskar
" bagaimana kabarmu paman?" tanya Arya
" Aku tidak mati, dimana wanita itu?" tanyanya menatap Arya dengan dalam
" Wanita mana yang kamu maksud paman, aku tidak mengerti" kata Arya berpura-pura bodoh.
Samuel di ranjang merasa marah ingin memukul Arya, untung Kakek Noma menghentikan Sam yang mau bangkit.
" Paman, ini coklat untukmu. Bubu bilang kalau makan makanan yang manis dapat membuat kamu segera sembuh" kata Laskar maju untuk memberikan coklat yang ada di sakunya.
Bahkan Arya tidak tahu kapan Laskar membawa coklat itu, sungguh anak yang tahu bagaimana menyenangkan orang lain.
Samuel baru tersadar kalau bocah yang ia culik juga mengikuti Arya, ia menatap Laskar dan mengulurkan tangannya
" Terima kasih" katanya menerima coklat dengan senang hati
Tunggu, bukankah anak ini memanggil wanita itu ibu. Tapi wajahnya mirip dengan Arya, jadi..
Melihat bolak-balik antara Arya dan Laskar membuat Sam tertegun mengetahui sebuah fakta yang luar biasa.
" Bajingan kemari kau! Kamu anak sialan!"
Samuel tiba-tiba bangkit membuat Kakek Noma dan lainnya juga terkejut, Kakek Noma menarik tangan Laskar agar menjauh dari orang gila ini.
Arya mengharapkan reaksi pamannya akan seperti ini jadi dia tidak terkejut, ia dengan santai menghindar dan duduk di ranjang rumah sakit.
" Paman jangan berlagak kalau aku yang salah, bukankah kamu juga ikut andil dalam prosesnya"
Kata-kata Arya segera membuat Samuel menghentikan gerakannya, jika dipikir memang Laskar usianya sesuai dengan kejadian tahun itu.
__ADS_1
Ia merasa hatinya sangat sakit, Sam mendorong Arya dari ranjangnya dengan kasar dan berbaring lagi memeluk bantal dengan posisi meringkuk membelakangi semua orang.