
" Tuan apakah kamu hanya melihat pernikahan ini terjadi, posisimu akan semakin sulit dengan keluarga Ning sebagai pendukung Dio" ujar seorang pria berdiri di sebelah pemuda yang ada di kursi kerja.
"Tidak perlu melakukan apapun saat ini, jika keluarga Ning mengganggu rencanaku maka hapuskan mereka dari kota Y bersamanya" Kata Gio memutar pena ditangannya
Lio hanya mengangguk, tuan pasti punya rencana sendiri.
" Oh tentang nona Ning ini, bukankah dia baru ditemukan keluarga Ning lima tahun lalu. Bagaimana dia bisa bergabung dilingkaran bisnis, bukankah ini hanya mempermalukan Dio?" pikir Lio meremehkan Nona Ning ini yang asalnya entah dari mana.
" Sebab itu pernikahan mereka baru diadakan tahun ini, seharusnya dia sudah tahu bagaimana bergabung dalam lingkaran. Lihat saja nanti dalam perjamuan, kamu akan tahu. Lagipula jika dia mempermalukan diri sendiri maka ini akan menguntungkan untukku" cibir Gio mengingat penampilan nona Ning ini yang seperti teh hijau.
" Kamu pergi pantau persiapannya, lakukan hal kecil jangan sampai mereka mencurigaiku" perintah Gio
Mata Lio bersinar, ia segera pergi dan melaksanakan rencananya.
......................
Pulang kerja, Leiya memesan taksi untuk menjemput Laskar, pasalnya mobil Leiya sudah dijual lima tahun lalu karena ia tidak pernah terpikir akan kembali lagi ke sini. Sekarang sangat merepotkan untuk selalu memesan online tanpa menyetir sendiri.
" Lama sekali taksinya datang, nanti Laskar menunggu lama ini" keluh Leiya bolak-balik melihat jam tangannya.
" Nona Anti apakah kamu ingin bersama?" tawar Arya untuk naik bersama di mobilnya saat melihat Leiya yang sepertinya terburu-buru
" itu tidak terlalu bagus pak presiden, saya malu selalu merepotkan anda. Saya tunggu saja taksinya pasti sebentar lagi datang" kata Leiya menolak
" Tidak apa-apa kebetulan kita searah, masuk saja" ajak Arya dengan nada biasa tapi Leiya merasa jika dia menolak lagi hidupnya tidak terjamin!
" baiklah kalau begitu terimakasih pak presiden" ujar Leiya masuk dan mengcancel taksi yang dipesannya.
" Mau kemana?"
Leiya mengerutkan kening tanpa sadar, dia bilang tadi kita searah tapi dia bahkan tidak tahu aku akan kemana? Sial bos mesum, Leiya menarik napas dalam-dalam dan menunjukkan alamat tempat sekolah Laskar.
Arya mengangguk dan meminta sopir melaju ke sana.
__ADS_1
Setelah sampai, Leiya turun dan mengucapkan terima kasih. Tapi Arya tidak segera pergi, ia melihat bahwa Leiya menjemput anaknya di sekolah. Bukankah ini terlalu merepotkan untuk bolak-balik dari kantor ke sini, dimana suaminya?
Leiya menghampiri Laskar yang sudah menunggu ditemani gurunya.
" Maaf guru merepotkan anda, terimakasih sudah menjaga anakku"
" Tidak apa-apa ibu Laskar memang sudah tanggung jawab saya untuk mengurus anak-anak" kata guru cantik itu tersenyum
" Kalau begitu kami pamit guru, Laskar beri salam pada guru"
Laskar mencium punggung tangan gurunya dan melambai
" Selamat tinggal bu guru"
Leiya berjalan pergi bersama Laskar, saat menoleh ia heran kenapa mobil presiden belum pergi? Mungkin benar-benar ada urusan di daerah ini.
Laskar menyipitkan matanya melihat ke arah mobil, ia melihat pria itu lagi yang mirip dengannya.
" Jangan bicara omong kosong! Apa kamu akan mengenali setiap orang lewat sebagai ayah? Lupakan ayo pulang" ucap Leiya lalu memasukkan coklatnya ke mulut Laskar.
Aku bahkan belum pernah melihat ayahmu nak, katanya dalam hati dengan melankolis.
Laskar melihat reaksi bubunya yang tidak ingin berbicara tentang ayahnya pun bertanya-tanya, kenapa bubu sangat menentang membicarakan hal itu. Apakah rumor online itu benar kalau aku hanya anak pria tua entah siapa?
Tapi tentu tidak mungkin, mereka hanya mengada-ada untuk membuat bubu menderita. Lagipula anak ganteng dan pintar ini pasti menurun dari gen ayahnya. Bubu? Lupakan, bahkan dia tidak hafal rumus sederhana kimia bagaimana bisa kepintarannya menurun dari bubu.
Arya yang memperhatikan dari jauh tidak bisa melihat wajah Laskar karena ia memakai masker, melihat Leiya dan anaknya pergi ia berpikir Leiya sudah mempunyai keluarga sendiri yang bahagia. Sudah seharusnya ia menjaga jarak dari Leiya.
" Ayo pergi" kata Arya pada sopirnya
......................
Di bar pusat kota, Bai minum dengan tenang dan melihat sekeliling sambil mengamati seseorang.
__ADS_1
" Tampan, ayo temani aku minum. Membosankan sekali minum sendirian" kata wanita muda itu langsung duduk di sebelah Bai
Melihat pakaiannya walaupun sederhana itu dari merek-merek terkenal, Bai tersenyum dan ikut mendentingkan gelasnya.
" Oh bagaimana kalau kamu menghajar mereka, aku bayar berapapun kamu mau ya kecuali pembayaran tubuh" keluhnya menunjuk ke salah satu meja yang ia amati sedari tadi. Bai menyipitkan matanya, apa hubungan wanita ini dengan mereka?
Kelompok lima orang itu selalu mengamati sisinya semenjak wanita ini datang
" Nona anda mabuk, bagaimana saya bisa memiliki keberanian untuk menyinggung orang yang latar belakangnya tidak diketahui hanya untuk orang lewat" kata Bai dengan tenang
" Ayolah, mereka tidak ada apa-apanya dibanding kakakku" ucapnya tersenyum centil
"hei aku hanya berpura-pura mabuk, mereka ingin menangkapku. Aku tahu kamu terus mengawasi mereka, jadi ayo bekerja sama. Mereka punya pistol disakunya" katanya memohon dan melingkarkan tangannya dileher Bai seolah sedang menggodanya.
Kelompok orang itu tidak peduli, mungkin wanita ini hanya mencari kesenangan. Jika mereka bisa merekam apa yang akan dilakukan wanita ini maka itu bisa menjadi alat tawar-menawar tambahan.
Bai menatap dengan kusam tapi dia tidak menolaknya, ia membawa wanita itu ke kamar dan mulai bertindak.
Salah satu dari kelompok itu mengikuti ke arah Bai pergi, saat ia membuka pintu dengan lirih tiba-tiba lututnya ditendang. Ia yang tidak siap langsung jatuh ke tanah dan segera meraih pistol disakunya untuk pertahanan tapi terlambat, di sebelahnya wanita itu sudah menginjak tangannya sampai kesakitan dan merebut pistolnya.
" oke sumpal mulutnya dan taruh di kasur" mereka bekerja sama dengan baik, segera gundukan itu terlihat seperti dua orang.
Kelompok itu tidak menyadari kalau rekannya tertangkap dan masih minum dengan gembira.
" beruang, kau lihat si coro apakah dia melakukannya dengan baik, jangan sampai dia tidak bisa mengendalikan tubuh bagian bawahnya dan menyebabkan masalah pada kita"
" baik kapten, seharusnya dia baik-baik saja. Hanya bocah lelaki itu yang terlihat lemah bukan tandingannya" ujar beruang lalu berdiri naik ke atas.
Kapten tertawa kecil dan lanjut bermain kartu dengan lainnya.
" Hei wanita ini berani juga, masih bisa bersenang-senang saat diculik. Apakah bos akan puas dengan tangkapan kita kali ini" ujar salah seorang yang berambut keriting.
" Tentu saja bos akan puas, kita menangkap orang penting di sisi orang itu. Bersiaplah untuk mendapatkan hadiah besar" kata kapten tertawa terbahak-bahak bersama rekannya.
__ADS_1