
Bai turun dari mobil dan bersender dipintu menunggu wanita itu keluar.
" Hei kamu membawaku kemana?" tanya Raya melihat hutan di sekelilingnya yang gelap
" Menurutmu? Aku tidak suka ada orang yang mencampuri urusanku, nona sepertinya kamu menganggapku terlalu baik"
Melihat Bai yang mendekat ke arahnya, Raya dengan ekspresi ketakutan menatapnya dengan ngeri
" Hei bro santay, aku tahu aku salah jangan seperti ini" kata Raya berjalan mundur
Bai terus mendekatinya, melihat wanita ini dengan ketakutan terus mundur. Bai merasa bosan, tidak menyenangkan sama sekali.
Bai mendengus dan berjalan pergi ke dalam mobil dan meninggalkan Raya di hutan sendirian
Raya menghela napas dan melihat ke arah perginya mobil dengan mendesah.
" Sangat tidak berperasaan! Bagaimana bisa meninggalkan wanita cantik sepertiku di hutan"
Raya berjalan dengan santay dan pergi menghilang menyatu dengan kegelapan.
Bai yang terus memperhatikan dari spion menyipitkan matanya, wanita ini tidak sederhana. Apa tujuannya mendekatinya?
Bai memutuskan untuk menyelidikinya nanti, ia harus cepat ke rumah itu sebelum terlalu malam.
Setelah sampai di tujuan, Bai mengetuk pintu lagi dan ada seorang wanita yang membukakan pintu.
" Ada apa ya, apakah kamu murid suamiku? Ayo masuk dulu, dia sedang makan" kata ibu itu mempersilahkan Bai masuk, ia sendiri sudah masuk terlebih dahulu.
Bai yang akan menjawab kalau dia bukan murid suaminya hanya bisa mengikuti ke dalam, ia menunggu di ruang tamu sampai pasangan itu akhirnya duduk di depannya.
Pak Hanri melirik ke istrinya dengan tatapan bingung, ini bukan muridnya sama sekali bukankah ini murid istrimu sendiri?
Melihat tatapan suaminya yang bertanya, bu Sri menggelengkan kepalanya, ia juga tidak memiliki murid seperti ini.
" Maaf paman dan bibi, nama saya Bai, saya di sini ingin menanyakan suatu hal. Jika kalian berkenan mohon jawab keraguan saya ini"
__ADS_1
" Tidak masalah anak muda, ada masalah apa. Jika kita bisa membantu maka kami juga senang" ujar pak Henri tersenyum ramah
" Apakah kalian mengadopsi bayi di panti asuhan dua puluh lima tahun lalu? "
Mendengar pertanyaan Bai, Pak Henri menarik senyumnya dengan linglung
" Ya itu benar tapi dia sudah kembali dijemput orang tua asalnya, kami tidak ada hubungan dengan dia lagi" katanya dengan tenang
Melihat suaminya yang seperti itu, Bu Sri mengusap lembut pundaknya dan menatap Bai
" Ada apa kamu menanyakan hal itu, apakah kamu ada hubungannya dengan dia?" tanya Bu Sri yang tidak mau menyebut nama anak angkatnya itu
" Maaf paman dan bibi, saya sedang mencari saudara perempuan saya. Dari penyelidikan, dia seharusnya berada di panti waktu itu. Aku tidak tahu apakah putri angkat anda adalah saudari saya" kata Bai dengan meminta maaf
" Itu seharusnya tidak mungkin, dia dijemput keluarga aslinya bahkan sudah melakukan tes DNA dan hasilnya benar. Dia bahkan belum pernah ke sini lagi setelah balik ke orang tua aslinya" kata Bu Sri dengan sedih
Mendengar penuturan bu Sri, Bai merasa kehilangan dihatinya. Dimana lagi saudarinya berada.
" Nak kudengar keluarga mereka juga mengambil bayi dipanti yang sama dengan kami, mungkin dia saudari yang kamu cari" sambung bu Sri setelah mengingat desas-desus tentang keluarga itu.
Bai yang mendengarnya merasa senang, setidaknya petunjuknya tidak hilang disini.
" Coba ku ingat, sepertinya nama keluarganya Ning. Yah itu dia keluarga Ning" kata Bu Sri setelah mengingat-ingat.
" Maaf kalau begitu nama anak angkat kalian adalah?"
" Oh namanya Yami" kata Pak Hanri
Bai tertegun ditempat, ia tidak bisa bergerak untuk sementara waktu
" Nak apakah kamu baik-baik saja?" tanya Pak Henri melihat Bai yang melamun.
Bai akhirnya tersadar dan segera berdiri berterima kasih
" Terima kasih paman dan bibi sudah mau menjawab pertanyaan saya, saya pamit dulu. Sekali lagi terima kasih" kata Bai membungkuk lalu pergi dengan cepat.
__ADS_1
Bai duduk di dalam mobil dan termenung lama, ia tidak menyangka petunjuk ini akan mengarah pada Leiya. Mungkin memang dia saudarinya, sejak pertama kali melihatnya di sekolah. Bai memiliki perasaan untuk selalu berbuat baik kepadanya.
Ayahnya sekarang adalah ayah angkatnya, dia yang menolongnya saat kecelakaan mobil beruntun itu terjadi. Karena pada saat evakuasi dia tidak menangis seperti saudarinya dan tempatnya yang tertutup, petugas tidak melihat ada bayi yang lain.
Ayahnya lah yang merasa janggal, ia membuka kap penutup mobil dan melihat aku di dalamnya. Ia membesarkanku seperti anaknya sendiri selama ini, walaupun kecelakaan itu terjadi karena sedikit ulahnya.
Ia tentu tidak bisa memprediksi perbuatannya waktu itu akan memakan korban, ia selalu merasa bersalah dalam dua puluh lima tahun terakhir. Tapi kebenaran pasti bukan seperti apa yang ayah duga.
Ayahnya, demi untuk membalas istri dan anaknya yang meninggal dalam penculikan. Ia mendirikan sebuah organisasi , organisasi itu melakukan hal-hal ilegal seperti transaksi senjata illegal, narkoba, dan ada kasino bawah tanah. Tapi ayah tidak akan pernah menculik wanita dan anak-anak.
Iya selalu mencari tahu kekuatan bawah mana yang membunuh istri dn anaknya itu, saat sudah menemukannya dan ternyata mereka sedang melakukan transaksi dengan bayi-bayi yang diculik, ayah tidak tahan dan merusak rencana mereka.
Para penculik itu tidak mengharapkan kegagalan di menit terakhir, mereka marah dan menembaki orang di sekitarnya. Ayah menyuruh anak buahnya untuk melindungi warga biasa di situ, tapi ia sendiri juga mengalami luka tembak di lengannya.
Polisi yang datang terlambat langsung turun tangan, ia meringkus semua penculik itu dan mengevakuasi semua orang. Ayahnya yang telah lega membalas dendam segera pergi dari tempat kejadian dan membawanya.
Bagaimana bisa Bai menyalahkan ayahnya? Dia menyelamatkan ratusan bayi, walaupun Bai sedikit kesal dengannya karena memberitahu kebenaran ini saat dia kuliah tapi tidak membiarkan dia untuk mencari tahu keberadaan saudarinya. Yah ia tahu ayah hanya tidak ingin dirinya terganggu karena ia masih dalam ujian kelulusan.
Bai mengendarai mobilnya pergi dari tempat itu dengan cepat.
......................
"Bagaimana? Kamu tetap mau sekolah di sana?" tanya Leiya pada Laskar yang duduk di depannya.
Laskar melihat tatapan bubunya yang gugup, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Bu jika aku memilih pergi apakah kamu marah? Jika aku tidak pergi apakah kamu memarahiku juga karena bodoh?"
Leiya yang mendengarnya segera menepuk kepala Laskar dengan tidak senang
" Apa yang kamu katakan! Apakah aku orang yang seperti itu" kata Leiya kesal yang dibalas anggukan oleh Laskar
Leiya menarik napas dalam-dalam menenangkan dirinya dari bocah bau ini.
" Jika kamu pergi maka itu bagus, kamu bisa belajar semua yang kamu inginkan. Jika kamu tidak pergi hanya karena aku melarangmu bukankah itu kerugian untukmu, otak cerdasmu tidak berguna jika hanya disisiku" kata Leiya menyodok dahi Laskar.
__ADS_1
" Kalau begitu bu, biarkan aku menemanimu terlebih dahulu. Jika ayah sudah berhasil mengejarmu maka aku akan lega meninggalkan kamu dengannya" kata Laskar yang langsung lari ke dalam kamar.
" Dasar bocah bau! Kalau mau pergi ya pergi saja, apakah aku anak kecil harus mengandalkan dia? Hmm siapa juga yang mau dengannya" dengus Leiya kesal segera berdiri merapikan barang-barangnya yang akan disumbangkan untuk lelang amal.