
"Paman aku sudah berurusan dengan Arya di sini, terserah padamu sekarang" kata pemuda di telepon dengan senang.
" Bagus, tahan dia selama mungkin di negara G"
" Baik serahkan padaku"
Samuel tersenyum dingin, ia memberi isyarat pada bawahannya. Segera sebuah helikopter mendarat di halaman yang luas.
Di gelap malam, suara deru mesin helikopter sangat menarik perhatian. Tapi dengan obat bius yang ia sebarkan di makanan sarapan semua orang tadi pagi, tidak ada orang yang mendekat semuanya tertidur pulas.
Dengan mudah Samuel berjalan ke helikopter dengan langkah ringan, dan mereka terbang menuju negara bintang.
......................
" Pak sepertinya itu wanita yang ada di foto" ujar salah satu pria berpakaian hitam menunjuk Leiya yang sedang menunggu taksi untuk pulang.
Kakek Noma memandang dengan semangat, ia tersenyum senang ingin sekali menghampiri tapi ia tahan.
" Ayo ikuti dia" kata Kakek Noma
" Baik"
Leiya yang pulang kerja segera pergi ke rumah Long untuk menjemput Laskar.
Setibanya di rumah Long, pengurus rumah tangga membukakan pintu untuknya dan mempersilahkannya masuk.
Melihat Laskar yang memegang mainan Aning untuk disusun, dan Aning yang memperhatikan dengan penuh minat. Leiya bersyukur Laskar mau bermain dengan Aning, setidaknya dia tidak akan kesepian di rumah.
" ayo pulang nak, sebelum hari mulai gelap" ajak Leiya pada Laskar yang segera meletakkan mainan di tangannya ke tempatnya.
" bibi, apakah Laskar akan ke sini lagi besok untuk bermain denganku?" tanya Aning dengan penuh harap.
" Ya Laskar akan bermain lagi denganmu besok, dimana ayah dan ibumu?"
" Mereka ada di lantai atas" kata Aning menunjukkan jarinya ke atas
__ADS_1
" Kalau begitu sampaikan salam bibi pada orang tuamu ya, ini yogurt untukmu. Terima kasih sudah menjaga Laskar hari ini" kata Leiya tersenyum menyerahkan bingkisan dan mengusap rambut Aning dengan lembut.
Aning dengan senang hati menerimanya
" Terima kasih bibi, sampai jumpa besok"
Leiya mengajak Laskar keluar dan menaiki taksi yang masih menunggu untuk mengantar mereka pulang ke rumah.
Kakek Noma mengucek matanya dengan tidak percaya, ia melihat anak kecil itu yang sangat mirip dengan Arya saat kecil.
" Hei apakah kamu melihat itu juga?" tanya Kakek Noma tidak percaya dan bertanya pada sopirnya.
" ya pak, aku juga melihatnya. Persis seperti tuan muda Arya waktu kecil" kata sopir tidak kalah terkejutnya dengan Kakek Noma.
Sopir itu sudah melayani keluarga Kakek Noma sejak remaja jadi dia tahu persis Arya waktu bayi sampai sekarang.
" Ayo ikuti mereka lagi" katanya dengan gugup memainkan jari-jari tangannya.
" Baik pak"
Leiya dan Laskar tiba di rumah dengan aman, Laskar tiba-tiba melihat ke kejauhan dengan mata menyipit.
" Tidak ada apa-apa bu, bu kamu masuk dulu. Aku ingin ke minimarket depan untuk membeli susu" kata Laskar langsung lari ke seberang.
Leiya yang di dorong masuk menjadi bingung, ia masuk ke dalam dengan langkah lambat.
" Tunggu bukankah stok susu masih ada di lemari es? Ada apa dengan bocah itu" kata Leiya menggaruk kepalanya lalu masuk ke dapur untuk menaruh yogurt yang ia beli.
" Lupakan, mungkin Laskar hanya ingin jajan"
Laskar yang tadi lari ke minimarket segera berbelok menuju mobil hitam yang sedari tadi mengikutinya lalu mengetuk jendelanya perlahan.
Bocah ini memang pintar, bahkan tau dirinya sedang diikuti tapi Kakek Noma tidak menyangka ia akan berani menemuinya ke sini. ia dengan gugup menurunkan kaca jendelanya dan menatap bocah di depannya yang mirip cucunya dengan tenang.
" Ada apa nak?" tanya Kakek Noma
__ADS_1
Walaupun di permukaan ia terlihat tenang, melihat jari-jari tangannya yang menempel erat. Tuhan tahu betapa gugupnya dia.
"Aku yang seharusnya bertanya, ada apa denganmu. Kenapa mengikutiku dan bubu dari tadi" tanya Laskar dengan tatapan menyelidik.
Ia tahu kakek tua ini pasti ada hubungannya dengan ayah murahannya, Laskar pernah melihat mobil yang dipakai kakek ini di garasi rumah Arya. Maka dari itu, Laskar membiarkannya mengikuti sampai ke rumah. Toh juga dia pasti akan menemukannya cepat atau lambat.
" Bagaimana bisa aku mengikutimu, aku hanya sedang lewat dan kebetulan berhenti di sini untuk mampir ke wc di pom. Aku harus segera pergi nak, teman lamaku sudah menungguku" kata Kakek Noma dengan senyum ramah memberi alasan yang bagus.
Laskar menatap dengan tidak puas
" Aku tahu kamu ada hubungannya dengan pria itu, katakan apa tujuanmu datang ke sini?" tanya Laskar dengan waspada.
Melihat cucu baiknya yang kesusahan melihat di luar pintu, Kakek Noma membuka pintu mobil dan menyuruhnya masuk.
" Apa yang bisa aku lakukan? Membawamu pulang ke rumah tua mungkin?" kata Kakek Noma terkekeh menatap bocah ingusan di sampingnya.
" Huh pak tua aku tidak akan berbicara denganmu lagi, aku akan menemui ibuku" kata Laskar dengan cepat ingin keluar, ia khawatir kakek ini benar-benar membawanya pergi.
" Tau takut? Kenapa kamu masuk ke mobilku tanpa kewaspadaan. Nak berani tentu bagus tapi kamu harus waspada pada orang asing yang baru kamu temui, walaupun dia ada hubungannya dengan kerabatmu. Belum tentu orang ini baik" kata Kakek Noma tertawa melihat tingkah Laskar.
Laskar mendengus tidak senang, ia menatap Kakek Noma dengan tenang
" Tidak masalah apapun yang mau kamu lakukan padaku, aku bisa memikirkan seratus cara untuk keluar. Tapi aku tidak bisa membuat bubu khawatir"
" Pak tua jangan mengganggu ibuku, aku tidak mengenalinya sebagai ayah. Apalagi kamu" peringat Laskar menatap orang tua itu dengan ancaman.
" Nak, aku bisa merebut hak asuhmu dari ibumu kapan saja. Untuk apa kamu mengancamku? Hanya dengan tubuh kecilmu? Apa yang bisa kamu perbuat?" kata Kakek Noma tersenyum ke arah Laskar dengan tenang berbicara mengenai hak asuhnya.
Laskar mengepalkan tangannya dengan erat ia menatap kakek ini dengan benci.
" Terserah, aku tidak akan membiarkanmu memisahkan aku dari bubu. Cobalah, walaupun keluargamu kuat. Tidak ada yang bisa menghentikan kemauanku, aku bisa saja meledakkan rumahmu" kata Laskar berbalik keluar mobil dan berjalan ke minimarket membeli susu lalu masuk ke rumah.
Kakek Noma memandang Laskar yang keluar dan menggelengkan kepalanya, tempramennya yang keras kepala persis seperti Arya waktu kecil.
" Pak apakah anda benar-benar akan merebut hak asuhnya?" tanya sopir itu dengan hati-hati.
__ADS_1
Kakek Noma memandang sopir dan tertawa kecil
" Bagaimana bisa, dengan resiko mereka bertiga membenciku? Aku tidak sebodoh itu, biarkan Arya membereskan kekacauan yang ia buat. Dengan usiaku yang sudah tua tentu saja aku berharap sisa hidupku dikelilingi oleh anak dan cucu yang berbakti, bukan yang bermain trik untuk mencoba membunuhku" kata Kakek Noma menggelengkan kepalanya.