
Arya segera menghentikan helikopternya di pelabuhan, tapi orang-orang sudah lama pergi.
Saat ini telepon dari kakeknya memecah kesunyian malam.
" Ada kabar kakek?"
" Ya lelaki tua itu bilang helikopternya pergi ke arah barat, dia sedang mencarinya ke sana. Aku akan menghubungimu lagi jika ada kabar"
" Baik"
Arya segera memerintahkan anak buahnya untuk mencari petunjuk di daerah sekitar, Arya masuk kembali ke helikopter dan meretas seluruh pemantauan di pelabuhan.
Sial!
Paman sam ini hanya terlihat di waktu 23.17 saat keluar dari kapal, setelah itu komputer menjadi hitam. Paman Sam sudah menghapus rekaman cctv.
Arya menemukan sebuah kancing di laci kamar Laskar bersama dengan sebotol ramuan itu.
Untuk mengaktifkan alat pelacak di tubuh Laskar, Arya bisa saja menekan tombol di kancing. Tapi ia takut hal ini akan berdampak buruk pada Laskar.
Tiba-tiba terlintas suatu tempat di benak Arya, ia segera menyuruh bawahannya pergi ke sana. Tapi lokasinya cukup jauh, butuh tiga jam untuk pergi ke sana.
......................
Laskar tertidur di pelukan pengawal itu, Samuel yang berada di kursi co-pilot sibuk dengan ponselnya.
Ia memarahi keponakannya yang tidak berguna, kenapa Arya bisa kembali secepat ini.
Ia juga memantau setiap gerakan yang mendekat, menyuruh anak buahnya menangkap setiap orang yang mencurigakan dan membawanya bersama.
Melihat gerbang masuk di depannya akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan, penjaga gerbang memberi hormat segera membukakan gerbang pintu.
Di dalamnya terdapat beberapa rumah penduduk yang memadamkan lampunya, mereka semua sudah tertidur.
Setelah berhenti di salah satu mansion yang mewah diantara semua rumah, Samuel turun diikuti pengawal yang membawa Laskar.
Setelah turun dari mobil, suhu di luar sangat dingin. Laskar memegang pengawal itu dengan erat.
" Bos, anak ini akan ditempatkan di mana?" tanya pengawal ragu-ragu untuk mengikuti Samuel masuk ke dalam.
Samuel melirik ke anak yang tertidur lelap itu.
" Bawa saja ke ruang bawah, di sana juga ada kamar" katanya dengan acuh lalu masuk ke dalam untuk beristirahat.
__ADS_1
" Baik bos" jawab pengawal itu lalu berjalan ke garasi di sebelah.
Di sana terdapat pintu menuju basement dengan tangga yang temaram karena disinari lampu berwarna orange.
Setelah sampai di salah satu pintu, ia masuk ke dalam dan mengunci pintu dengan cepat.
Laskar yang tadi tertidur segera bangun dan menatap orang di depannya.
" Paman Haris"
Pengawal itu tersenyum membuka topeng penyamarannya dan chip di belakang lehernya.
" Khmm, akhirnya suaraku kembali. Orang ini memiliki suara yang sangat jelek, tidak sesuai dengan estetika" Haris merapikan rambutnya yang berantakan sambil menggerutu.
Haris menghela napas lega akhirnya bisa santai, duduk di samping Sam membuatnya harus waspada untuk tidak ketahuan. Untung saja ia membawa program AI yang bisa menyalin memori dan suara asli pengawal itu.
Laskar hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia melihat sekeliling dengan penasaran.
Di ruangan ini untung saja tidak ada kamera pengawas, ruangannya sempit hanya ada satu ranjang kecil dan sebuah meja rias dengan kursinya.
Laskar melihatnya merusak pemandangan, bagaimana bisa ada meja rias di ruangan seperti ini.
" Paman apakah kamu tahu dimana ini?" tanya Laskar yang duduk di ranjang melepas sepatunya.
" Aku tidak yakin, tapi ini seperti pulau pribadi. Ada pantai di selatan mansion ini dan penduduk di sini juga sangat waspada, kita sepertinya masuk ke markasnya"
" Kamu tidur saja, anak kecil tidak boleh begadang nanti tidak akan tumbuh tinggi. Aku harus keluar sebelum mereka curiga" kata Haris mengusap kepala Laskar saat melihat ia linglung di sebelahnya.
Setelah menyimpan teleponnya, Haris kembali memakai penyamarannya dan keluar dari kamar itu.
Laskar menurut dan berbaring di ranjang yang kasar, ia tidak terbiasa dengan tekstur kasur yang tidak selembut miliknya.
Setelah berjuang menutup mata, akhirnya karena kelelahan Laskar tertidur.
Haris kembali ke dalam mansion, di sana terdapat tiga lantai.
Lantai pertama dan kedua seperti pada umumnya mansion, lantai ketiga hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk.
Di sana Haris melihat ada menara kecil, jika dia pergi ke tempat itu pasti ada sinyal.
Ya tunggu waktu yang tepat.
Keesokan paginya, Samuel menyuruh Haris membawa Laskar ke rumah untuk sarapan.
__ADS_1
" Apakah kamu tidur dengan nyenyak?" kata Samuel yang sedang menunggu pelayan di sampingnya menyajikan piring untuknya.
" Paman kasurmu tidak bagus, lebih baik milikku. Kasurku lembut dan aku bisa melompat di atasnya" jawab Laskar mengambil susu di depannya untuk minum.
" Oh ya, kalau begitu kamu pasti kesusahan malam itu" katanya menunjukkan ekspresi prihatin
" Tidak apa-apa paman, nanti kalau aku bertemu bubu. Aku akan menyuruhnya membeli kasur untukmu yang lebih baik dan lebih besar"
Samuel tertawa, dia tidak bisa tidak menepuk jidatnya. Kenapa anak ini begitu cerewet, berbeda dengan masa kecil Arya yang pendiam.
" Kalau begitu paman menunggu kamu membelikan paman kasur" jawab Samuel geli
Lihat saja apakah kamu bisa pulang nak, masih ingin memberi sesuatu pada orang yang menculikmu. Ibumu pasti akan menertawakanmu.
Selesai sarapan, Samuel mengajak Laskar berjalan-jalan.
Di suatu halaman, Samuel menunjukkan sekelompok anjing yang ia pelihara sedang diberi makan.
Ada sekitar selusin anjing pit bull entah muda atau tua dijadikan satu.
Penjaga melempar sepotong daging ke dalam kandang yang lumayan sempit dan segera mereka berlari merebut daging yang diberi oleh penjaga tadi.
Ada anjing yang sudah tua dan sepertinya sedang sekarat, ia tidak ikut merebut makanan hanya berbaring diam. Tapi ia terinjak-injak oleh anjing lainnya yang membuatnya memiliki beberapa luka berdarah.
Samuel menatap itu dengan senang hati, ia bahkan menertawakan anjing tua yang lemah.
" Bukankah mereka sangat menggemaskan?" tanya Samuel melirik ke arah Laskar yang berdiri diam, ia kira Laskar akan takut. Tapi dia berdiri dengan tenang.
" Ya sangat lucu sayang sekali kalau mati"
Laskar memalingkan mukanya menghadap hutan di seberang kandang.
Samuel menepuk tangannya dengan ekspresi biasa
" Tidak ada masalah, aku bisa membeli lagi" katanya dengan acuh lalu berbalik ke arah lain diikuti Laskar.
Ia mengajak Laskar ke lantai tiga, di dalam ada penjagaan dimana-mana, Samuel mengajak Laskar ke ruang kontrol utama.
" Apakah kamu melihatnya? Dalam jarak dua ratus meter dari pulau ini jika ada yang mendekat tanpa ijin, mereka akan langsung ditembak mati" kata Samuel menunjuk ke monitor.
Laskar mengepalkan tangan kecilnya, ia lalu menatap Samuel dengan mata berbinar
" Paman kamu sangat hebat, ajari aku paman"
__ADS_1
Samuel menatap bocah ini dengan seringai
" Idiot"